"MENCARI MAYBRAT" : adalah pondok pelunasan utang yang berisi kumpulan berbagai tulisan dan jurnal saya tentang masyarakat dan kebudayaan Papua serta suara ekonomi jalanan, psikologi sosial. Proses pengeksplorasi ide dan opini saya dalam merajut satu tungku dalam satu rumah adat Papua sebagai jendela pondok kebahagiaan.(Verba Volant, Scripta Manent : kata-kata dapat sirna, tulisan mengabadikan). Semoga bermanfaat.
Sunday, November 23, 2025
RENT-SEEKING PAPUA
SUARA DARI JALAN MERAUKE
Suara dari jalan Merauke, perjalanan penulisan ekonomi jalanan sebagai bagian komunikasi publik sebagai cara merawat kewarasan, untuk memahami apa makna dibalik masalah yang mereka hadapi. Mereka dihadirkan semesta untuk mendiami tanah selatan bukan menderita, kalau mereka tau lahir menderita, maka mereka pasti menolak untuk lahir sebagai orang asli Merauke.
Dimana, ada pembiaran pada aspek jaga kelaparan, jaga kebodohan didesain sistematis agar mereka tetap menggantungkan hidup dan kehidupan di kail bantuan pemerintah sebagai pendapatannya utama. Hari ini, ya hari ini, mereka butuh penjelasan dibalik masalah yang mereka hadapi. Kenapa mereka butuh penjelasan, karena elit lokal dari jalan birokrasi dan politik tidak punya kuasa untuk menjawab masalah yang dihadapi masyarakat pribumi.
Disamping itu, elit lokal belum juga sadar bahwa fungsinya terbatas, bagaimana dengan fungsi yang terbatas bisa memiliki kuasa untuk menjawab masalah masyarakat pribumi yang hidup marjinal dan masih bekerja sebagai kaum huruf. Sementara, elit lokal di birokrasi dan politik masih bermental peramu dan belum punya kemampuan menolong diri sendiri. Bagaimana ceritanya, kalau diri sendiri belum cukupi kebutuhan, bagaimana mau memikirkan orang lain.
Sementara itu, para pemimpin mendapat gaji dan fasilitas negara, apakah mereka memikirkan suara generasi emas yang menulis cita-cita mereka, minta seribu om, tarikan nafas di kaleng aibon dan sebagian generasi emas lain menyambung hidup dengan kekerasan. Hal ini, muncul tanya apa arti janji politik dan sumpah janjinya, berbakti untuk rakyat atau berbakti untuk elit kepentingan global.
Walaupun di depan mata itu terlihat dari himpitan ekonomi sebagai pemicu utama masalah urusan perut menyebabkan berbohong dan dibohongi tumbuh subur sebagai gaya hidup menyebabkan kamu silat lidah untuk elit kepentingan dan selalu ikut mendayung sebagai kebiasaan para birokrat atau politisi karena segala sesuatu diselesaikan dengan segala sesuatu juga.
Kamu harus tau, kami tau surga itu berbuat baik, neraka itu berbuat jahat pada semua insan, maka itu urusan makan, urusan rasa aman kami cari sendiri, yang kami minta kamu jangan omon-omon, kamu jangan pura-pura “playing god” bertindak seolah-olah memiliki wewenang dan kekuasaan seperti Tuhan. Kamu seharusnya sudah harus sadar bahwa pentingnya air mata adalah membuat lembutnya hati yang keras untuk menghadirkan sukacita karena mereka butuh didengar.@arkam
KETIKA JIWA MENGETUK
Ada sebuah ruang yang jarang kita masuki dalam hidup yang terburu-buru ini: ruang untuk berhenti. Ruang itu kecil, sunyi, tetapi selalu menunggu. Tidak pernah pergi. Tidak pernah mendesak. Ia hanya mengetuk perlahan dari dalam dada, menunggu kamu punya keberanian untuk mendengarkannya dan ketukan itu, sering kali, bernama kebosanan.
Kita sering menganggap kebosanan sebagai musuh sesuatu yang harus dilawan, diusir, ditutupi dengan suara, gambar, notifikasi, dan hiburan yang datang tanpa henti. Padahal, kebosanan bukan kehampaan. Ia adalah pesan dari jiwa, sinyal lembut bahwa tubuh dan batinmu sedang memohon untuk diistirahatkan. Sebuah pengingat kecil bahwa kamu bukan mesin, dan hidup bukan perlombaan yang tak bertepi.
Di dalam cerita ini, anggaplah kebosanan sebagai seorang sahabat lama yang kembali datang. Ia mengetuk pintumu bukan untuk mengganggu, tetapi untuk mengingatkan:
“Hei, sudah lama kamu tidak pulang kepada dirimu sendiri.”
Di antara hiruk pikuk dunia, tubuhmu telah bekerja tanpa henti. Ia menemanimu 24 jam sehari, tanpa jeda, tanpa mengeluh. Namun, kamu sering lupa bahwa ia adalah sahabat yang paling setia. Ia yang melangkah ketika kamu ingin maju. Ia yang menahan sakit ketika hatimu tergores. Ia yang tetap setia, bahkan saat kamu memaksanya melampaui batas.
Sahabat itu kini berbicara lewat kebosanan. Lewat rasa kosong di dada. Lewat lelah yang tiba-tiba datang saat kamu duduk sendiri. Lewat hening yang membuatmu gelisah. Bukan karena ia ingin menjatuhkanmu, tetapi karena ia ingin mengembalikanmu kepada dirimu yang sebenarnya.
Kebosanan adalah ruang kelas kebahagiaan yang tidak pernah kamu masuki. Di sana, jiwa menunggu untuk diajak bicara. Nafasmu adalah gurumu, dan keheningan adalah buku pelajarannya. Setiap tarikan nafas adalah perjalanan pulang. Setiap hembusan adalah cara semesta mendekapmu.
Namun, sering kali kamu memilih kabur: menyibukkan diri dengan layar, musik, video, percakapan yang tidak menenangkan semua untuk menutupi pesan kecil dari tubuhmu sendiri. Kamu mengisi kepalamu dengan begitu banyak suara hingga kamu lupa bagaimana mendengar bisikan jiwamu.
Padahal, ada waktu di mana yang kamu butuhkan bukan lagi hiburan. Yang kamu butuhkan adalah diam.
Diam untuk melihat ke dalam. Diam untuk memahami apa yang benar-benar terasa. Diam untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang berlari, tetapi juga tentang menerima ritme yang pelan, lembut, dan manusiawi.
Pernahkah kamu menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk senyum, tawa, atau pencapaian? Kadang, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sederhana: tubuh yang akhirnya bisa beristirahat, hati yang tidak lagi menuntut banyak, pikiran yang tidak lagi penuh.
Di dalam diam itulah kebosanan berubah menjadi pintu. Jika kamu berani membukanya, kamu akan menemukan bahwa ia bukan musuh, melainkan penuntun pulang pulang ke pusat dirimu yang paling sejati.
Kamu tidak perlu mencari kebahagiaan terlalu jauh. Tidak perlu menunggunya datang dari luar. Kebahagiaan bukan hadiah ia adalah cara jiwa bernafas dan kebosanan? Ia adalah panggilan pertama agar kamu kembali hidup.@arkam
Ekonomi Sagu & Jalan Pulang Investasi Sorong Selatan
Dalam dunia ekonomi modern, investasi sering dipahami sebatas angka grafik yang naik, indeks yang bergerak, atau laporan pembangunan yang disusun rapi dalam dokumen perencanaan. Namun, bila kita berhenti sejenak dan mendengarkan bisikan kehidupan sehari-hari di Papua, kita menemukan bahwa investasi bukanlah sekadar perhitungan, melainkan cara sebuah daerah memahami dirinya sendiri.
Ekonomi jalanan suara para pedagang, petani, mama-mama di pasar, hingga anak-anak kecil yang menangis minta makan adalah suara paling jujur tentang kondisi sebuah wilayah. Di tengah berbagai kajian teoretis dan laporan lembaga besar, suara inilah yang sering hilang. Padahal, justru dari sinilah filsafat ekonomi harus tumbuh: dari manusia, dari kebiasaan makan mereka, dari apa yang membuat mereka kenyang, dan apa yang membuat mereka hidup.
Ketika kita membicarakan potensi Papua, kita sudah melewati tahap sekadar bermimpi. Tanah ini tidak lagi berbicara tentang “akan dikembangkan,” melainkan “sedang menunggu disentuh dengan cara yang benar.” Dan salah satu kisah paling filosofis, sekaligus paling ekonomis, hadir dari satu kata sederhana: sagu.
Sagu pernah menjadi identitas pangan orang Papua, bukan sekadar makanan, tetapi ritus, budaya, dan tanda hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dahulu, orang bisa mengatakan dengan pasti bahwa sagu adalah makanan pokok. Tetapi kini, kita dihadapkan pada kenyataan baru: anak-anak menangis minta makan bukan karena ingin papeda, tapi karena ingin nasi. Ini bukan sekadar perubahan selera; ini adalah pergeseran budaya ekonomi.
Di satu sisi, sagu masih diproduksi berlimpah. Namun di sisi lain, pasar yang seharusnya menyerapnya semakin mengecil. Lalu muncul pertanyaan yang tampaknya sederhana, namun sebetulnya sangat filosofis:
Jika sagu berlimpah, tetapi tidak dimakan, apakah itu masih disebut potensi?
Inilah paradoks ekonomi Papua: melimpahnya bahan baku tidak selalu berarti hadirnya nilai. Kekayaan alam tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Kita sering terjebak pada logika: "Ada produksi berlebih? Bangun pelabuhan! Bangun pasar! Cari ekspor!" Padahal, sebelum membangun infrastruktur yang besar dan mahal, pertanyaan yang paling jujur adalah:
Siapa sebenarnya yang membutuhkan sagu itu? Dan bagaimana ia bisa kembali hidup dalam kultur ekonomi masyarakat?
Filsafat ekonomi mengajarkan bahwa investasi tidak boleh dimulai dari gedung, pelabuhan, atau dokumen proyek. Investasi yang paling mendasar adalah investasi makna pemahaman tentang apa yang benar-benar dibutuhkan manusia sebagai titik pusat pembangunan.
Sorong Selatan tidak butuh solusi besar yang tidak menyentuh akar masalah. Yang dibutuhkan adalah ekosistem nilai, bukan sekadar proyek. Yaitu, ruang di mana para pemain lokal diberi kesempatan untuk mengolah sagu, menambah nilai, dan mengubahnya menjadi produk turunan yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Di sinilah ekonomi kembali menjadi percakapan keluarga: (1) Bagaimana membuat sagu kembali menjadi makanan yang membanggakan?; (2) Bagaimana mempertemukan tradisi dengan inovasi?; (3) Bagaimana agar rantai nilai sagu tidak berhenti di hutan, tetapi terus bergerak hingga ke dapur warga?
Investasi sejati tidak memaksa masyarakat mengubah diri agar cocok dengan pasar; investasi sejati membuat pasar tumbuh dari kebiasaan masyarakat itu sendiri. Karena hanya dengan cara itu, ekonomi dapat berdiri di atas fondasi yang kokoh: kultur, kebutuhan, dan kedaulatan pangan.
Papua Barat Daya harus mulai dari hal yang paling sederhana namun paling penting: memastikan bahwa kebutuhan gizi dan pangan masyarakatnya terpenuhi oleh apa yang lahir dari tanahnya sendiri. Ketika usaha mikro kecil yang bergerak di rantai nilai sagu tumbuh, maka nilai ekonomi setempat akan mengalir secara organik, bukan dipaksakan.
Pada akhirnya, ekonomi bukan hanya tentang uang yang bergerak. Ekonomi adalah cerita bagaimana masyarakat mempertahankan martabat hidupnya. Dan dalam cerita Papua, sagu adalah halaman penting yang tidak boleh hilang.
Jika kita membaca ekonomi dengan cara yang lebih lembut, lebih filosofis, kita akan menemukan bahwa investasi terbaik selalu dimulai dari rumah dari apa yang kita makan, dari apa yang kita anggap penting, dari apa yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri.
Sagu bukan hanya bahan pangan. Ia adalah tanda bahwa Papua masih punya identitas, dan identitas itulah yang paling layak diinvestasikan.@arkam
SENJA DI LAMPU SATU MERAUKE
Senja di Lampu Satu Merauke selalu menghadirkan semacam jeda batin ruang hening di mana langit, laut, dan manusia saling bercermin. Ketika matahari turun perlahan, warna merah jingga membasuh permukaan laut Arafura seperti cat yang tumpah dari tangan para leluhur. Di momen itu, Edi, seorang pemuda Marind, berdiri memandang cakrawala sambil membawa kegelisahan yang ia simpan sejak lama: apakah ia masih menjadi bagian dari tanah leluhurnya, atau sudah hanyut oleh arus dunia modern yang ramai dan terburu-buru?
Masa kecil Edi penuh dengan cerita-cerita, kisah asal-usul manusia dan tanah yang diceritakan kakeknya di tepi rawa. Dulu, rawa sagu, burung bangau, dan suara angin adalah guru yang paling sabar. Namun saat ia tumbuh, dunia itu mulai tergerus. Hutan dibersihkan, tanah adat ditetapkan, dan deru mesin menggantikan suara alam. Ketika ia bekerja di kota, laporan, angka-angka, dan rapat mendesak membuatnya kian jauh dari dunia yang membentuk jati dirinya.
Di Lampu Satu, kenangan-kenangan itu kembali seperti ombak kecil yang menyentuh kaki. Edi merasakan pertarungan dua dunia di dalam dirinya: dunia adat yang memanggilnya pulang dan dunia modern yang memintanya maju tanpa menoleh ke belakang. Pertarungan itu membuatnya kehilangan arah, seakan tanah leluhurnya perlahan memudar dari jangkauan. Namun ia tahu, ia tidak bisa selamanya berdiri di tengah-tengah, sebab ada pertanyaan yang menuntut jawaban: jalan mana yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri?
Dalam keheningan senja itulah seorang perempuan tua, muncul seperti bayangan dari masa lalu. Dengan suara tenang, ia berkata bahwa tanah tidak pernah melupakan anaknya. “Kau boleh pergi jauh, Edi,” katanya, “tapi tanah tetap tahu namamu.” Kalimat itu membuat Edi menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang hilang begitu saja ia hanya tertutup oleh kebisingan dunia baru. Ia mengerti kini bahwa pulang bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menyatukan masa lalu dengan masa depan.
Ketika matahari benar-benar jatuh di garis laut, Edi merasakan keputusan itu mengalir dalam dirinya: ia akan pulang, bukan untuk menghindari dunia modern, tetapi untuk menjembatani keduanya. Ia ingin menulis ulang cerita-cerita leluhur, mengajar anak-anak kampung tentang tanah mereka, dan membangun ruang belajar yang menyalakan kembali kebanggaan menjadi orang Papua Selatan. Ia tahu tugas itu berat, namun senja di Lampu Satu telah memberinya keberanian untuk memulai.
Beberapa bulan kemudian, Lampu Satu menyaksikan senja yang sama, tetapi dengan makna baru. Edi kini duduk bersama anak-anak Marind, membacakan cerita tentang roh tanah, rawa yang hidup, dan manusia yang menjaga alam. Di sela tawa kecil mereka, laut memantulkan cahaya merah seperti restu dari leluhur. Edi tersenyum. Ia tahu perjalanan batin itu belum selesai, tetapi ia telah menemukan arah: menjadi cahaya kecil yang membantu menjaga nyawa budaya di tepi selatan Papua.@arkam
MENJUAL MERPATI KE MENJUAL MASA DEPAN
Ada suatu masa ketika ekonomi bagi orang Papua hanyalah gema yang datang dari jauh seperti bisikan angin dari pulau-pulau yang tidak terlihat. Di jalanan tanah yang luas, orang-orang berdagang bukan karena tahu arah hidup, tetapi karena hidup memaksa mereka belajar bertahan. Ekonomi bagi mereka bukanlah teori, melainkan naluri untuk tetap bernapas.
Kita tumbuh dalam ketidaksengajaan sejarah. Generasi pertama di tanah ini menerima peradaban bukan sebagai ilmu, tetapi sebagai perintah. Mereka diajari untuk patuh, bukan untuk bertanya. Mereka dibentuk untuk mendengar, bukan memahami. Mereka diberi iman, tetapi tidak diberi peta untuk berjalan di dunia yang berubah cepat. Mereka mengenal doa, tetapi tidak diajari rumus pasar. Mereka belajar berserah, namun tidak pernah benar-benar belajar berdagang.
Mungkin itulah sebabnya kita hari ini berjalan seperti mencari rumah yang hilang. Kita melangkah dengan hati yang besar tetapi kompas yang tumpul. Kita punya keberanian, tetapi tidak punya peta. Kita punya tanah yang luas, tetapi tidak punya arah untuk memetakannya menjadi nilai.
Ketika Belanda datang, Papua tidak dilihat sebagai tanah ekonomi. Bagi mereka, tanah ini hanyalah tembok besar di timur pos penjagaan, bukan pusat perdagangan. Pasar-pasar besar tumbuh di Jawa, Sumatra, dan Maluku. Sementara Papua dijadikan halaman belakang dari sebuah rumah besar bernama Hindia Belanda. Wajar jika ekonomi tidak pernah diajarkan. Yang diajarkan justru membaca doa, menerjemahkan kitab, dan melayani altar. Pendidikan diberikan sebagai tanda kasih, bukan sebagai jalan untuk naik kelas.
Pengetahuan yang diwariskan pun akhirnya tidak tumbuh dari tanah ekonomi. Kita hanya belajar “menjual merpati” sebuah simbol tentang kecilnya ruang ekonomi yang diberikan, sekaligus kecilnya mimpi yang bisa dilahirkan pada masa itu. Kita dibentuk untuk hidup sederhana, cukup, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana membangun kesejahteraan.
Namun waktu berubah. Dunia memaksa kita untuk berdiri, bukan sekadar berjalan. Kita mulai menyadari bahwa masa lalu bukan lagi rujukan terbaik untuk hidup hari ini. Kita harus mengakui bahwa generasi lama berjalan tanpa bekal, tetapi generasi baru tidak boleh lagi meneruskan langkah yang sama.
Kita perlu menciptakan konsep ekonomi bumi, bukan ekonomi langit. Ekonomi yang membumi pada cerita kita, nilai kita, budaya kita. Ekonomi yang tidak memaksa kita menjadi orang lain, tetapi menguatkan siapa diri kita. Ekonomi yang tumbuh dari tanah yang kita pijak, bukan dari teori yang datang lewat kapal.
Ekonomi bumi adalah ekonomi yang menuntun kita menemukan kembali kompas yang hilang: kompas yang menghubungkan tanah, identitas, dan masa depan.
Kita tidak lagi hanya “menjual merpati”. Kita sedang belajar menjual gagasan, keahlian, hasil bumi, karya seni, teknologi, dan harapan. Kita sedang belajar bahwa ekonomi bukan hanya soal uang itu soal cara merawat hidup.
Dan barangkali, inilah perjalanan baru kita: perjalanan mencari kembali identitas yang dulu tertinggal di persimpangan sejarah.@arkam
EFEK ELIT CAPTURE DI PAPUA
PLAGIARISME PENDIDIKAN
Maka pendidikan adalah panggilan untuk mengembalikan sekolah, guru, dan anak-anak Papua pada orbit yang benar: orbit keadilan, keseriusan, dan kemanusiaan. Pendidikan adalah tugas suci, bukan proyek. Ia adalah jendela yang harus dirawat agar tidak retak oleh politik dan kepentingan sesaat.
AKLAMASI BIBIT KORUPSI
Pondok pelunasan utang, lewat ruang belajar kebahagiaan dari suara jalanan, menggelitik dan memprovokasi pikiran kamu tentang “aklamasi”. Dalam laporan perilaku yang meninjau menjelaskan bahwa organisasi yang sehat, biasanya terlihat dari adanya perbedaan pendapat dan harus ada lawan tarung sesungguhnya, bukan di skenariokan itu memberi signal bahwa organisasi itu sehat.
Sehat karena ada pertentangan pikiran dari berbagai pihak dalam organisasi. Kamu, harus memahami dengan baik sebab orang yang berpikir waras selalu menjawab 1+1 bukan dua, bisa tiga atau empat berarti orang tersebut waras mengambil keputusan. Namun, Keputusan biasanya dipengaruhi juga oleh dua faktor persepsi dan pertimbangan membuat kamu tidak damai dan suka cita dalam membuat keputusan benar.
Maka, pertentangan pikiran itu menjelaskan organisasi sehat dan itu normal, walaupun kita menganut sistem organisasi dengan vertikal leadership, di mana keputusan diatas harus diambil walaupun ada perdebatan di akar rumput, terutama mereka-mereka yang membesarkan organisasi tersebut harus patuh pada keputusan diatas.
Secara ilmiah, tidak dibenarkan organisasi ditetapkan melalui aklamasi, kenapa demikian, para pencari fakta bilang, kamu yang dipilih secara aklamasi dipastikan tersandera pada kepentingan penjaga gerbong membuat biaya perawatan organisasi tinggi.
Lebih jauh lagi, kamu dipilih seharusnya tidak memakai ukuran, contoh ijazah, senioritas, jabatan kepala daerah atau jabatan lainnya, tetapi seharusnya dipakai adalah prestasi sebagai ukuran utama, itu baru publik yang waras bilang kamu hebat.
Kamu ingat selalu bahwa ada gerbong penjaga, gerbong itu apabila salah dirawat, Maka, bibit korupsi moral hazard akan tumbuh karena dipelihara dalam kebijakan yang kamu tidak sadar sendiri karena ada orang kuat.@arkam
Saturday, June 8, 2019
TERSENYUM
Proses lelang jabatan maupun perampingan organisasi di Pemerintah Daerah yang dilakukan memakai mekanisme terbuka, membuat banyak individu yang gagal karena sedikit saja yang terpangil. Kegagalan yang diakibatkan proses diatas telah meninggalkan luka hati sebab kesempatan tertunda dengan waktu yang belum pati.
Gembira dan sedih ini, merupakan irama kehidupan di atas perahu yang diberinama organisasi sudah seharusnya dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa dan bukan dilihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Kompetisi sudah pasti sudah pasti hukumnya ada yang kala. Kekalahan itu perlu sekali dilihat atau diambil sebagai titik masuk untuk memperbaiki diri lebih matang lagi, agar event yang akan datang diperkecil resiko gagalnya.
Gambaran kasar terlihat bahwa masih banyak bisikan negatif yang terungkap dari beberapa individu yang belum memberi izin hati untuk menerima rasa kepahitan hidup ketika kehilangan jabatan dengan hasil seleksi tersebut, ini mungkin ada takarannya masing-masing dalam melontarkan kekecewaan mereka karena belum siap lahir batin yang paripurna.
Kompetisi itu sebenarnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang postif seperti semasa masih menyandang status anak kampus, dimasa itu biasanya terjadi persaingan antar teman sebelahan kursi atau seangkatan yang normal saja yaitu nilai indeks prestasi yang berbeda antar teman kuliah.
Lahir batin masih mahal harganya atau masih jauh dari kondisi yang sebenarnya, ini dikarenakan masih ada penolakan yang dilakukan beberapa individu yang belum bisa menerima kenyataan kehilangan pendapatan berupakan fasilitas yang melekat langsung pada jabatan tersebut serta belanja operasional sehari-hari yang dibebankan pada organisasi akan terhenti otomatis.
Persoalan di atas, bila belum dikelola dengan baik, akan menimbulkan atau melahirkan energi negatif yang bermuara pada penurunan kemampuan berfikir postif serta cepat emosi. Persoalan tersebut perlu ada intervensi penyembuhan yang bersumber dari diri sendiri sebab penumpukan beban pikiran yang begitu berat akan menimbilkan sakit jiwa yang proses penyembuhan susah sekali diselesaikan dengan intervensi kimia.
Guru spiritual memberikan saran yang boleh dibilang sanggat ampuh untuk digunakan sebagai obat penyembuhan yang terbaik yaitu “tersenyum”. Menurut guru spiritual tersenyum memproduksi energi yang keberhingga dan senyum juga sebagai jembatan penghubung untuk memperbaiki atau mengantikan energi negatif dengan engergi yang positif.@arkam
PORT NUMBAY MENGGELIAT
Wednesday, June 5, 2019
MEREKA MULAI SIUMAN
Sebelum dilakukan pembedahan lebih dalam tentang “Musyawarah Adat” , ada baiknya anda saya dan kamu, melihat satu simbol dari alam tanah ini yang disampaikan penjaga sungai yang terkenal buas, namun ada pelajaran teramat penting yang perlu dipelajari dari kelebihan yang diberikan pencipta alam semesta kepada seekor buaya.
Dalam sebuah telaga atau sungai hidup seekor buaya yang dalam kehidupannya selalu tenang dan tidak bersuara bahkan tidak pernah merusak telaga dan sungai dan berontak kalau diganggu mahluk asing yang wilayahnya. Sementara itu, buaya tersebut bergerak mencari makan ketika lapar.
Filosofi buaya ini, coba anda saya dan dia lihat dengan memakai kacamata adat sebagai alat masuk untuk mengurai masalah apa yang sebenarnya membuat luka hati semakin perih dengan memuntahkan aroma tak sedap, ini semua bersumber dari tanah garapan mereka sudah mulai langka atau main menipis manfaat ekonominya.
Luka hati yang lebih perih dan ekstrim yaitu sex ratio mereka mulai menurun perlahan-lahan, bila dilihat dari populasi masyarakat asli yang cenderung menurun, masalah ini melahirkan perkiraan sementara yaitu waktu mereka hampir sebagian besar digunakan untuk bergulat mengisi kampung tengah (perut) yang membuat terbatasnya waktu untuk melakukan aktivitas sex.
Penyebab lain yang diperkirakan ikut menyumbang penurunan populasi masyarakat asli, ini disebabkan oleh beberapa masyarakat asli yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengabaikan tumbuh kembangnya generasi penerus warga mereka atau dengan perumpamaan yakni “tongkat estafet diberikan kepada siapa”.
Beberapa masyarakat asli yang berperilaku negatif atau mementingkan dirinya sendiri, sampai ketika berada pada satu masa dimana Ia mulai merasa terancam, maka pada saat itu Ia mulai sadar bahwa marganya hilang merupakan hutang yang harus dilunasi atas perilaku mereka selama masih berkuasa.
Tikar adat yang dilakukan berdasarkan 4 golongan mata angging suku Marind yaitu Mayo, Timo, Sosum dan Esam sebagai pemilik tanah lulur mulai berontak karena pekarangan rumah mereka mulai masuk keluar migran tanpa pajak.
Pesta adat yang dilakukan bermaksud menyampaikan kepada penduduk migran bahwa tanah ini bukan tanah tak bertuan, tanah ini ada penjaganya. Mereka mulai melakukan perlawanan, namun para migran sudah migrasi puluhan bahkan ratusan ke tanah ini.
Filososi sederhana yaitu kalau mau masuk ambil barang di ladang (kebun) orang harus meminta izin sama pemiliknya, sebab kalau mengambil tanpa seizin pemilik ladang itu berat hukumnya kalau sampai tertangkap.
Bila dilihat dari berbagai konflik yang terjadi di hampir semua wilayah di tanah ini, masalahnya hanya satu yaitu konflik kepemilikan properti yang disebabkan motif ekonomi sudah terbungkus pada properti yang dimasa lampau properti tersebut digunakan secara bersama-sama, namun berkembangnya waktu properti mulai jadi sengketa karena yang dilihat nilai ekonominya.
Migrasi besar-besaran tanpa pajak ke tanah Animha dilakukan melalui gerbong transmigrasi yang mulai tumbuh dan berkembang menjadi komonitas besar yang berfungsi sebagai generator pengerak ekonomi yang mengurita keseluruh wilayah selatan Papua. Komunitas migran ini telah berevolusi dalam struktur sosial ekonomi selatan.
Penetrase kelompok migran mulai bergeser dari wilayah ekonomi kewilayah politik, ini mulai terlihat dari pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat daerah Merauke sebagian besar kursi diambil oleh kelompok migran, dengan komposisi itu, maka sebagian besar keputusan strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan ditentukan kelompok migran.
Fenomena ini, yang membuat masyarakat asli yang sudah terdidik mulai berteriak dibawah bendera para-para adat, ini dilakukan agar kelompok migran harus sadar diri dan selalu mematuhi tatakrama yang sudah ditetapkan adat secara turun temurun.@arkam
MASALAH MEIBRAT
Perjalanan Pemerintahan Daerah yang misterius ini disebabkan terjadi lompatan budaya yang membuat sistem Pemerintahan dijalankan berdasarkan konsep like and dislike yang dilakukan pembuat kebijakan yang bahasa kasar suka-suka hati.
Terjadinya lompatan budaya atau ada sistem nilai yang terbangun ribuan tahun lalu, dipatahkan pemikiran generasi atau kelompok intelektual dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan digunakan untuk membuat rumitnya masalah sistem politik di tanah A3.
Lihat dari sisi yang lain, bisa juga dijelaskan bahwa perkembangan pemerintahan saat ini lebih primitif sebab orang A3 kembali tinggal dalam lubang gaaNya masing-masing, serta menumbuh kembangkan status nepotisme kelompok yang kuat dalam pemerintahan yang melayani.
Sementara itu, perjalanan organisasi di era kekinian dihuni oleh tiga kelompok dalam gerbongnya masing-masing yaitu (1) kelompok intelektual; (2) kelompok aktivis; dan (3) Kelompok Religius. Tiga kelompok besar ini, masing-masing memainkan peran di eranya masing-masing.
Kelompok Intelektual, ialah kelompok yang biasanya konsen berbicara atau menyampaikan gagasan atau pendapat kebanyakan dilakukan dengan membuat perbandingan baik empiris, teoritis maupun fenomena, biasa berdasarkan kota asal studi baik dalam maupun luar Papua. Kelompok ini perkembanganya mulai pelan-pelan tergeser di bumi A3.
Kelompok Aktivis, ialah kelompok yang berisikan anak-anak mudah terdidik yang konsen memberikan advokasi lingkungan dengan memakai bendera kelompok swadaya masyarakat yang dalam perjalanannya belum begitu banyak membuat perubahan di bumi A3.
Kelompok Religius, ialah kelompok religius yang melahirkan sebuah paham bahwa bersama kelompok ini, sudah pasti masuk surga, kelompok ini mulai tumbuh subur di bumi A3.
Berbagai kelompok kepentingan yang sekarang membuat panggung pertunjukkan dengan memakai lipstik pesta rakyat, ini sudah saatnya mulai sadar bahwa keputusan satu paket dengan resiko. Keputusan yang dibuat selalu memuat unsur efektif.
Orang bumi A3 sudah seharusnya belajar sama orang Bali, kenapa harus belajar ke Bali, mereka bukan siapa-siapa dengan kami atau satu ras dengan orang A3, ini pertanyaan yang akan muncul.
Tahun 2002, peristiwa bom Bali yang dilakukan teroris itu, banyak menewaskan ribuan orang yang tak berdosa ini, ditanggapi dingin orang Bali, yang bisa dilihat dari masyarakat Bali hanya diam dan menerima peristiwa tersebut walaupun menyakitkan mereka. Aksi balas dendam sama sekali hilang dari pikiran masyarakat itu sendiri.@ARKAM
MASALAH PASAR HARGA DIRI DI MAIBRAT
Persoalan turbulensi politik membuat Pemerintah Daerah membuat kebijakan belanja modal dengan membangun pusat aktivitas ekonomi masyarakat tanpa melalui sebuah kajian akademik yang baik akan bermuara pada aset tidak produktif.
Pengeluaran Pemerintah Daerah yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (DAU, DAK, OTSUS, PAD, SILPA) akan membentuk belanja modal yang terakumulasi ke dalam aset daerah, ini perlu dikelola sesuai dengan perencanaan.
Keputusan pembangunan pasar diambil dari persoalan politik dengan mengabaikan aspek ekonomi akan melahirkan resiko kegagalan yang besar di masa depan karena aspek kelayakan sebuah pasar diabaikan pembuat kebijakan.
Alat bantu yang dipakai untuk memberikan edukasi kepada para pengambil kebijakan ini, penulis meminjam pesan Zocrates yang menjelaskan bahwa “Sesuatu Yang Tidak Di Teliti, Tidak Pantas Untuk Di Jalani”.
Pesan Zocrates ini teramat sanggat tepat dipakai sebagai jembatan untuk memberikan pencerahan secara rasional walaupun saran penulis terlambat, namun mungkin masih bisa dijadikan pertimbangan untuk pengalihan fungsi bangunan tersebut menjadi Market Point di batas kota.
Secara teori yang belum terbantahkan selama ini bahwa membangun sebuah pasar perlu ada kajian kelayakan secara ekonomi yang komprehensif sebab orientasi belanja pembangunan sebuah pasar adalah menaikan Pajak Daerah.
Pasar secara teori merupakan tempat pertemuan antara produsen dan konsumen atau petani dan pembeli dengan aktivitas pertukaran barang dengan alat ukur uang. Persoalan yang akan dihadapi ketika pasar sudah terbangun adalah siap pembeli utama atau konsumen target utama ketika pasar dibangun siapa.@arkam
Thursday, May 16, 2019
PRASANGKA
Melihat perkembangan revolusi industri 4.0 yang semakin membumi dan telah menggeser cara-cara kerja konvensional kecara kerja berbasis teknologi informasi ini menuntut desain ulang fremwork sebab masalah ada pada cara berpikir beberapa individu yang belum siap menerima perubahan.
Tuesday, May 14, 2019
LUKA JIWA
BAYAR HARGANYA
Monday, May 13, 2019
ARTI CINTA
@arkam
PERBANDINGAN ITU VIRUS
TANGGUNG JAWAB
MENCARI MAYBRAT
Merauke Undercover
arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...
-
arkam Ada masa ketika hidup terasa berat dan seluruh dunia seperti berpaling darimu. Di momen seperti itu, kesedihan datang tanpa diundang, ...
-
Upaya memahami “anu betha tubat” SEBAGAI modal sosial masyarakat ibaratnya bagai menegakkan benang basah : Nyaris mustahil ! Dr. Arkam...
-
KORUPSI KEMANUSIAAN DI TANAH PAPUA Korupsi di Papua ibarat fenomena gunung ES yakni hanya sebagian kecil dari kasus-kasus korups...