Sunday, November 23, 2025

RENT-SEEKING PAPUA

arkam

Rent-seeking di Papua bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi sebuah pola relasi kekuasaan yang terbentuk selama puluhan tahun. Konsep ini menjelaskan bagaimana aktor politik dan birokrasi memperoleh keuntungan tanpa menciptakan nilai tambah bagi rakyat Papua. Dari sini, kita melihat titik awal bagaimana struktur pemerintahan dan pembangunan menjadi rapuh, karena energi negara tidak tertuju pada pelayanan publik, tetapi pada perebutan rente yang berasal dari anggaran negara, sumber daya alam, dan proyek-proyek strategis.

Fenomena ini muncul dari sejarah panjang ketimpangan pembangunan yang diwariskan sejak masa kolonial hingga integrasi Papua ke dalam Indonesia. Ketika Orde Baru memperkenalkan model pembangunan sentralistik, Papua dijadikan daerah ekstraksi ekonomi khususnya tambang, kayu, dan perkebunan. Pola tersebut menciptakan budaya birokrasi yang melihat anggaran pemerintah sebagai ladang keuntungan, bukan amanah untuk melayani warga. Dari pola inilah rent-seeking menemukan tanah suburnya.

Memasuki era Otonomi Khusus, rent-seeking bukan melemah, justru menemukan bentuk baru. Anggaran besar yang digelontorkan pusat yang semestinya menjadi alat koreksi ketertinggalan berubah menjadi komoditas politik. Para elite lokal bersaing menjadi “penjaga gerbang” anggaran Otsus. Transisi dari era pusat menuju era lokal tidak diiringi transformasi nilai-nilai kepemimpinan, sehingga kekuasaan hanya berpindah tangan tanpa perubahan paradigma.

Dinamika ini semakin diperparah oleh lemahnya kapasitas kelembagaan di tingkat provinsi, kabupaten, dan distrik. Ketika institusi pengawasan tidak kuat, rent-seeking mudah beroperasi dalam ruang gelap birokrasi: mulai dari markup proyek pembangunan jalan, manipulasi data penduduk miskin, hingga penunjukan kontraktor tanpa mekanisme transparan. Setiap celah administratif menjadi peluang keuntungan pribadi bagi aktor-aktor tertentu yang memiliki akses pada kekuasaan.

Namun rent-seeking di Papua tidak hanya terjadi di lembaga pemerintahan; ia juga merasuki hubungan antara elit lokal dan kapital besar dari luar Papua. Banyak perusahaan tambang, hutan, dan perkebunan melakukan kolaborasi tersembunyi dengan oknum pejabat, yang kemudian memicu marginalisasi orang asli Papua dari tanah adat dan sumber ekonomi mereka. Transisi ini memperjelas bahwa rent-seeking tidak hanya menciptakan kerugian fiskal, tetapi juga memperdalam ketidakadilan struktural.

Konsekuensi sosialnya sangat terasa. Ketika anggaran publik tersedot ke dalam praktik rent-seeking, ruang untuk pelayanan dasar semakin menyempit. Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tidak berkembang secepat aliran dana yang masuk setiap tahun. Masyarakat Papua melihat sekolah roboh, puskesmas tanpa obat, dan jalan yang rusak, sementara laporan keuangan mencatat proyek-proyek tersebut sebagai “selesai dan berhasil.” Realitas seperti ini membuat masyarakat semakin kehilangan kepercayaan pada pemerintah.

Krisis kepercayaan ini menciptakan lingkaran setan baru: masyarakat yang apatis, elit yang makin leluasa, dan lembaga yang semakin lemah. Ketika partisipasi publik rendah, tidak ada tekanan yang memaksa pemerintah untuk memperbaiki tata kelola. Akibatnya, pola rent-seeking terus berulang dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya. Di sinilah kita melihat bagaimana korupsi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem politik yang sudah terlanjur terbentuk.

Di sisi lain, perubahan politik nasional dan pemekaran wilayah di Papua seringkali dijual sebagai solusi, tetapi kenyataannya justru membuka ruang baru bagi rent-seeking. Pembentukan daerah baru berarti anggaran baru, jabatan baru, dan proyek baru yang semuanya bisa menjadi insentif bagi elite untuk mempertahankan dominasi. Tanpa reformasi tata kelola, pemekaran hanya memperbanyak “kantong rente” yang tersebar di berbagai kabupaten dan provinsi baru.

Meski demikian, bukan berarti Papua tidak memiliki harapan. Banyak komunitas adat, gereja, akademisi, dan pemimpin muda yang mulai mendorong transparansi dan model pembangunan yang berakar pada nilai leluhur Papua: kejujuran, musyawarah, dan tanggung jawab komunal. Gerakan-gerakan lokal inilah yang mulai menawarkan alternatif terhadap pola rent-seeking. Dengan basis nilai lokal, mereka mencoba membangun kembali legitimasi sosial yang selama ini hilang.

Pada akhirnya, membatasi rent-seeking bukan hanya soal memperkuat lembaga, tetapi juga melakukan transformasi dalam budaya kepemimpinan. Papua membutuhkan pemimpin yang tidak hanya menempati jabatan, tetapi memposisikan diri sebagai penjaga masa depan rakyat. Ketika nilai-nilai leluhur dipadukan dengan sistem modern yang transparan, Papua memiliki peluang untuk melahirkan tata kelola baru yang bebas dari rente. Maka, masa depan Papua tidak akan ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh keberanian moral untuk memutus rantai rent-seeking.@arkam

SUARA DARI JALAN MERAUKE

arkam

Suara dari jalan Merauke, perjalanan penulisan ekonomi jalanan sebagai bagian komunikasi publik sebagai cara merawat kewarasan, untuk memahami apa makna dibalik masalah yang mereka hadapi. Mereka dihadirkan semesta untuk mendiami tanah selatan bukan menderita, kalau mereka tau lahir menderita, maka mereka pasti menolak untuk lahir sebagai orang asli Merauke.

Dimana, ada pembiaran pada aspek jaga kelaparan, jaga kebodohan didesain sistematis agar mereka tetap menggantungkan hidup dan kehidupan di kail bantuan pemerintah sebagai pendapatannya utama. Hari ini, ya hari ini, mereka butuh penjelasan dibalik masalah yang mereka hadapi. Kenapa mereka butuh penjelasan, karena elit lokal dari jalan birokrasi dan politik tidak punya kuasa untuk menjawab masalah yang dihadapi masyarakat pribumi.

Disamping itu, elit lokal belum juga sadar bahwa fungsinya terbatas, bagaimana dengan fungsi yang terbatas bisa memiliki kuasa untuk menjawab masalah masyarakat pribumi yang hidup marjinal dan masih bekerja sebagai kaum huruf. Sementara, elit lokal di birokrasi dan politik masih bermental peramu dan belum punya kemampuan menolong diri sendiri. Bagaimana ceritanya, kalau diri sendiri belum cukupi kebutuhan, bagaimana mau memikirkan orang lain.

Sementara itu, para pemimpin mendapat gaji dan fasilitas negara, apakah mereka memikirkan suara generasi emas yang menulis cita-cita mereka, minta seribu om, tarikan nafas di kaleng aibon dan sebagian generasi emas lain menyambung hidup dengan kekerasan. Hal ini, muncul tanya apa arti janji politik dan sumpah janjinya, berbakti untuk rakyat atau berbakti untuk elit kepentingan global.

Walaupun di depan mata itu terlihat dari himpitan ekonomi sebagai pemicu utama masalah urusan perut menyebabkan berbohong dan dibohongi tumbuh subur sebagai gaya hidup menyebabkan kamu silat lidah untuk elit kepentingan dan selalu ikut mendayung sebagai kebiasaan para birokrat atau politisi karena segala sesuatu diselesaikan dengan segala sesuatu juga.

Kamu harus tau, kami tau surga itu berbuat baik, neraka itu berbuat jahat pada semua insan, maka itu urusan makan, urusan rasa aman kami cari sendiri, yang kami minta kamu jangan omon-omon, kamu jangan pura-pura “playing god” bertindak seolah-olah memiliki wewenang dan kekuasaan seperti Tuhan. Kamu seharusnya sudah harus sadar bahwa pentingnya air mata adalah membuat lembutnya hati yang keras untuk menghadirkan sukacita karena mereka butuh didengar.@arkam

KETIKA JIWA MENGETUK

arkam

Ada sebuah ruang yang jarang kita masuki dalam hidup yang terburu-buru ini: ruang untuk berhenti. Ruang itu kecil, sunyi, tetapi selalu menunggu. Tidak pernah pergi. Tidak pernah mendesak. Ia hanya mengetuk perlahan dari dalam dada, menunggu kamu punya keberanian untuk mendengarkannya dan ketukan itu, sering kali, bernama kebosanan.

Kita sering menganggap kebosanan sebagai musuh sesuatu yang harus dilawan, diusir, ditutupi dengan suara, gambar, notifikasi, dan hiburan yang datang tanpa henti. Padahal, kebosanan bukan kehampaan. Ia adalah pesan dari jiwa, sinyal lembut bahwa tubuh dan batinmu sedang memohon untuk diistirahatkan. Sebuah pengingat kecil bahwa kamu bukan mesin, dan hidup bukan perlombaan yang tak bertepi.

Di dalam cerita ini, anggaplah kebosanan sebagai seorang sahabat lama yang kembali datang. Ia mengetuk pintumu bukan untuk mengganggu, tetapi untuk mengingatkan:

“Hei, sudah lama kamu tidak pulang kepada dirimu sendiri.”

Di antara hiruk pikuk dunia, tubuhmu telah bekerja tanpa henti. Ia menemanimu 24 jam sehari, tanpa jeda, tanpa mengeluh. Namun, kamu sering lupa bahwa ia adalah sahabat yang paling setia. Ia yang melangkah ketika kamu ingin maju. Ia yang menahan sakit ketika hatimu tergores. Ia yang tetap setia, bahkan saat kamu memaksanya melampaui batas.

Sahabat itu kini berbicara lewat kebosanan. Lewat rasa kosong di dada. Lewat lelah yang tiba-tiba datang saat kamu duduk sendiri. Lewat hening yang membuatmu gelisah. Bukan karena ia ingin menjatuhkanmu, tetapi karena ia ingin mengembalikanmu kepada dirimu yang sebenarnya.

Kebosanan adalah ruang kelas kebahagiaan yang tidak pernah kamu masuki. Di sana, jiwa menunggu untuk diajak bicara. Nafasmu adalah gurumu, dan keheningan adalah buku pelajarannya. Setiap tarikan nafas adalah perjalanan pulang. Setiap hembusan adalah cara semesta mendekapmu.

Namun, sering kali kamu memilih kabur: menyibukkan diri dengan layar, musik, video, percakapan yang tidak menenangkan semua untuk menutupi pesan kecil dari tubuhmu sendiri. Kamu mengisi kepalamu dengan begitu banyak suara hingga kamu lupa bagaimana mendengar bisikan jiwamu.

Padahal, ada waktu di mana yang kamu butuhkan bukan lagi hiburan. Yang kamu butuhkan adalah diam.

Diam untuk melihat ke dalam. Diam untuk memahami apa yang benar-benar terasa. Diam untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang berlari, tetapi juga tentang menerima ritme yang pelan, lembut, dan manusiawi.

Pernahkah kamu menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk senyum, tawa, atau pencapaian? Kadang, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sederhana: tubuh yang akhirnya bisa beristirahat, hati yang tidak lagi menuntut banyak, pikiran yang tidak lagi penuh.

Di dalam diam itulah kebosanan berubah menjadi pintu. Jika kamu berani membukanya, kamu akan menemukan bahwa ia bukan musuh, melainkan penuntun pulang pulang ke pusat dirimu yang paling sejati.

Kamu tidak perlu mencari kebahagiaan terlalu jauh. Tidak perlu menunggunya datang dari luar. Kebahagiaan bukan hadiah ia adalah cara jiwa bernafas dan kebosanan? Ia adalah panggilan pertama agar kamu kembali hidup.@arkam

Ekonomi Sagu & Jalan Pulang Investasi Sorong Selatan


arkam

Dalam dunia ekonomi modern, investasi sering dipahami sebatas angka grafik yang naik, indeks yang bergerak, atau laporan pembangunan yang disusun rapi dalam dokumen perencanaan. Namun, bila kita berhenti sejenak dan mendengarkan bisikan kehidupan sehari-hari di Papua, kita menemukan bahwa investasi bukanlah sekadar perhitungan, melainkan cara sebuah daerah memahami dirinya sendiri.

Ekonomi jalanan suara para pedagang, petani, mama-mama di pasar, hingga anak-anak kecil yang menangis minta makan adalah suara paling jujur tentang kondisi sebuah wilayah. Di tengah berbagai kajian teoretis dan laporan lembaga besar, suara inilah yang sering hilang. Padahal, justru dari sinilah filsafat ekonomi harus tumbuh: dari manusia, dari kebiasaan makan mereka, dari apa yang membuat mereka kenyang, dan apa yang membuat mereka hidup.

Ketika kita membicarakan potensi Papua, kita sudah melewati tahap sekadar bermimpi. Tanah ini tidak lagi berbicara tentang “akan dikembangkan,” melainkan “sedang menunggu disentuh dengan cara yang benar.” Dan salah satu kisah paling filosofis, sekaligus paling ekonomis, hadir dari satu kata sederhana: sagu.

Sagu pernah menjadi identitas pangan orang Papua, bukan sekadar makanan, tetapi ritus, budaya, dan tanda hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dahulu, orang bisa mengatakan dengan pasti bahwa sagu adalah makanan pokok. Tetapi kini, kita dihadapkan pada kenyataan baru: anak-anak menangis minta makan bukan karena ingin papeda, tapi karena ingin nasi. Ini bukan sekadar perubahan selera; ini adalah pergeseran budaya ekonomi.

Di satu sisi, sagu masih diproduksi berlimpah. Namun di sisi lain, pasar yang seharusnya menyerapnya semakin mengecil. Lalu muncul pertanyaan yang tampaknya sederhana, namun sebetulnya sangat filosofis:
Jika sagu berlimpah, tetapi tidak dimakan, apakah itu masih disebut potensi?

Inilah paradoks ekonomi Papua: melimpahnya bahan baku tidak selalu berarti hadirnya nilai. Kekayaan alam tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Kita sering terjebak pada logika: "Ada produksi berlebih? Bangun pelabuhan! Bangun pasar! Cari ekspor!" Padahal, sebelum membangun infrastruktur yang besar dan mahal, pertanyaan yang paling jujur adalah:

Siapa sebenarnya yang membutuhkan sagu itu? Dan bagaimana ia bisa kembali hidup dalam kultur ekonomi masyarakat?

Filsafat ekonomi mengajarkan bahwa investasi tidak boleh dimulai dari gedung, pelabuhan, atau dokumen proyek. Investasi yang paling mendasar adalah investasi makna pemahaman tentang apa yang benar-benar dibutuhkan manusia sebagai titik pusat pembangunan.

Sorong Selatan tidak butuh solusi besar yang tidak menyentuh akar masalah. Yang dibutuhkan adalah ekosistem nilai, bukan sekadar proyek. Yaitu, ruang di mana para pemain lokal diberi kesempatan untuk mengolah sagu, menambah nilai, dan mengubahnya menjadi produk turunan yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Di sinilah ekonomi kembali menjadi percakapan keluarga: (1) Bagaimana membuat sagu kembali menjadi makanan yang membanggakan?; (2) Bagaimana mempertemukan tradisi dengan inovasi?; (3) Bagaimana agar rantai nilai sagu tidak berhenti di hutan, tetapi terus bergerak hingga ke dapur warga?

Investasi sejati tidak memaksa masyarakat mengubah diri agar cocok dengan pasar; investasi sejati membuat pasar tumbuh dari kebiasaan masyarakat itu sendiri. Karena hanya dengan cara itu, ekonomi dapat berdiri di atas fondasi yang kokoh: kultur, kebutuhan, dan kedaulatan pangan.

Papua Barat Daya harus mulai dari hal yang paling sederhana namun paling penting: memastikan bahwa kebutuhan gizi dan pangan masyarakatnya terpenuhi oleh apa yang lahir dari tanahnya sendiri. Ketika usaha mikro kecil yang bergerak di rantai nilai sagu tumbuh, maka nilai ekonomi setempat akan mengalir secara organik, bukan dipaksakan.

Pada akhirnya, ekonomi bukan hanya tentang uang yang bergerak. Ekonomi adalah cerita bagaimana masyarakat mempertahankan martabat hidupnya. Dan dalam cerita Papua, sagu adalah halaman penting yang tidak boleh hilang.

Jika kita membaca ekonomi dengan cara yang lebih lembut, lebih filosofis, kita akan menemukan bahwa investasi terbaik selalu dimulai dari rumah dari apa yang kita makan, dari apa yang kita anggap penting, dari apa yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri.

Sagu bukan hanya bahan pangan. Ia adalah tanda bahwa Papua masih punya identitas, dan identitas itulah yang paling layak diinvestasikan.@arkam

SENJA DI LAMPU SATU MERAUKE

arkam

Senja di Lampu Satu Merauke selalu menghadirkan semacam jeda batin ruang hening di mana langit, laut, dan manusia saling bercermin. Ketika matahari turun perlahan, warna merah jingga membasuh permukaan laut Arafura seperti cat yang tumpah dari tangan para leluhur. Di momen itu, Edi, seorang pemuda Marind, berdiri memandang cakrawala sambil membawa kegelisahan yang ia simpan sejak lama: apakah ia masih menjadi bagian dari tanah leluhurnya, atau sudah hanyut oleh arus dunia modern yang ramai dan terburu-buru?

Masa kecil Edi penuh dengan cerita-cerita, kisah asal-usul manusia dan tanah yang diceritakan kakeknya di tepi rawa. Dulu, rawa sagu, burung bangau, dan suara angin adalah guru yang paling sabar. Namun saat ia tumbuh, dunia itu mulai tergerus. Hutan dibersihkan, tanah adat ditetapkan, dan deru mesin menggantikan suara alam. Ketika ia bekerja di kota, laporan, angka-angka, dan rapat mendesak membuatnya kian jauh dari dunia yang membentuk jati dirinya.

Di Lampu Satu, kenangan-kenangan itu kembali seperti ombak kecil yang menyentuh kaki. Edi merasakan pertarungan dua dunia di dalam dirinya: dunia adat yang memanggilnya pulang dan dunia modern yang memintanya maju tanpa menoleh ke belakang. Pertarungan itu membuatnya kehilangan arah, seakan tanah leluhurnya perlahan memudar dari jangkauan. Namun ia tahu, ia tidak bisa selamanya berdiri di tengah-tengah, sebab ada pertanyaan yang menuntut jawaban: jalan mana yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri?

Dalam keheningan senja itulah seorang perempuan tua, muncul seperti bayangan dari masa lalu. Dengan suara tenang, ia berkata bahwa tanah tidak pernah melupakan anaknya. “Kau boleh pergi jauh, Edi,” katanya, “tapi tanah tetap tahu namamu.” Kalimat itu membuat Edi menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang hilang begitu saja ia hanya tertutup oleh kebisingan dunia baru. Ia mengerti kini bahwa pulang bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menyatukan masa lalu dengan masa depan.

Ketika matahari benar-benar jatuh di garis laut, Edi merasakan keputusan itu mengalir dalam dirinya: ia akan pulang, bukan untuk menghindari dunia modern, tetapi untuk menjembatani keduanya. Ia ingin menulis ulang cerita-cerita leluhur, mengajar anak-anak kampung tentang tanah mereka, dan membangun ruang belajar yang menyalakan kembali kebanggaan menjadi orang Papua Selatan. Ia tahu tugas itu berat, namun senja di Lampu Satu telah memberinya keberanian untuk memulai.

Beberapa bulan kemudian, Lampu Satu menyaksikan senja yang sama, tetapi dengan makna baru. Edi kini duduk bersama anak-anak Marind, membacakan cerita tentang roh tanah, rawa yang hidup, dan manusia yang menjaga alam. Di sela tawa kecil mereka, laut memantulkan cahaya merah seperti restu dari leluhur. Edi tersenyum. Ia tahu perjalanan batin itu belum selesai, tetapi ia telah menemukan arah: menjadi cahaya kecil yang membantu menjaga nyawa budaya di tepi selatan Papua.@arkam

MENJUAL MERPATI KE MENJUAL MASA DEPAN


arkam

Ada suatu masa ketika ekonomi bagi orang Papua hanyalah gema yang datang dari jauh seperti bisikan angin dari pulau-pulau yang tidak terlihat. Di jalanan tanah yang luas, orang-orang berdagang bukan karena tahu arah hidup, tetapi karena hidup memaksa mereka belajar bertahan. Ekonomi bagi mereka bukanlah teori, melainkan naluri untuk tetap bernapas.

Kita tumbuh dalam ketidaksengajaan sejarah. Generasi pertama di tanah ini menerima peradaban bukan sebagai ilmu, tetapi sebagai perintah. Mereka diajari untuk patuh, bukan untuk bertanya. Mereka dibentuk untuk mendengar, bukan memahami. Mereka diberi iman, tetapi tidak diberi peta untuk berjalan di dunia yang berubah cepat. Mereka mengenal doa, tetapi tidak diajari rumus pasar. Mereka belajar berserah, namun tidak pernah benar-benar belajar berdagang.

Mungkin itulah sebabnya kita hari ini berjalan seperti mencari rumah yang hilang. Kita melangkah dengan hati yang besar tetapi kompas yang tumpul. Kita punya keberanian, tetapi tidak punya peta. Kita punya tanah yang luas, tetapi tidak punya arah untuk memetakannya menjadi nilai.

Ketika Belanda datang, Papua tidak dilihat sebagai tanah ekonomi. Bagi mereka, tanah ini hanyalah tembok besar di timur pos penjagaan, bukan pusat perdagangan. Pasar-pasar besar tumbuh di Jawa, Sumatra, dan Maluku. Sementara Papua dijadikan halaman belakang dari sebuah rumah besar bernama Hindia Belanda. Wajar jika ekonomi tidak pernah diajarkan. Yang diajarkan justru membaca doa, menerjemahkan kitab, dan melayani altar. Pendidikan diberikan sebagai tanda kasih, bukan sebagai jalan untuk naik kelas.

Pengetahuan yang diwariskan pun akhirnya tidak tumbuh dari tanah ekonomi. Kita hanya belajar “menjual merpati” sebuah simbol tentang kecilnya ruang ekonomi yang diberikan, sekaligus kecilnya mimpi yang bisa dilahirkan pada masa itu. Kita dibentuk untuk hidup sederhana, cukup, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana membangun kesejahteraan.

Namun waktu berubah. Dunia memaksa kita untuk berdiri, bukan sekadar berjalan. Kita mulai menyadari bahwa masa lalu bukan lagi rujukan terbaik untuk hidup hari ini. Kita harus mengakui bahwa generasi lama berjalan tanpa bekal, tetapi generasi baru tidak boleh lagi meneruskan langkah yang sama.

Kita perlu menciptakan konsep ekonomi bumi, bukan ekonomi langit. Ekonomi yang membumi pada cerita kita, nilai kita, budaya kita. Ekonomi yang tidak memaksa kita menjadi orang lain, tetapi menguatkan siapa diri kita. Ekonomi yang tumbuh dari tanah yang kita pijak, bukan dari teori yang datang lewat kapal.

Ekonomi bumi adalah ekonomi yang menuntun kita menemukan kembali kompas yang hilang: kompas yang menghubungkan tanah, identitas, dan masa depan.

Kita tidak lagi hanya “menjual merpati”. Kita sedang belajar menjual gagasan, keahlian, hasil bumi, karya seni, teknologi, dan harapan. Kita sedang belajar bahwa ekonomi bukan hanya soal uang itu soal cara merawat hidup.

Dan barangkali, inilah perjalanan baru kita: perjalanan mencari kembali identitas yang dulu tertinggal di persimpangan sejarah.@arkam

EFEK ELIT CAPTURE DI PAPUA

arkam

Ketika Otonomi Khusus diberikan kepada Papua pada 2001, harapan terbesar masyarakat adat adalah terbukanya ruang baru bagi keadilan, pemerataan, dan pemulihan sejarah panjang marjinalisasi. Jakarta membayangkan bahwa dana besar akan mengalir seperti sungai yang menyuburkan tanah kering, membawa pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur bagi orang asli Papua. Namun, realitas di lapangan menciptakan bayangan lain: sebagian elit lokal muncul sebagai aktor-aktor baru yang memegang kendali atas jalur anggaran. Alih-alih menjadi jembatan menuju kesejahteraan kolektif, sebagian dari mereka menjelma menjadi “penjaga gerbang” yang menentukan siapa boleh ikut menikmati pembangunan dan siapa yang tetap menunggu di pinggir jalan.

Fenomena elite capture ketika kekuasaan dan sumber daya publik disedot oleh segelintir orang di Papua tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh di tanah yang telah lama dikondisikan oleh relasi patronase sejak masa kolonial. Ketika negara masuk dengan logika pembangunan, ia memperkuat figur-figur tertentu melalui jabatan politik, birokrasi, dan jaringan bisnis. Dalam konteks Papua, patronase kemudian menemukan kendaraan baru: Dana Otsus. Aliran dana besar tanpa sistem pengawasan yang kuat membuka ruang bagi birokrat, politikus, dan pebisnis lokal untuk membangun jejaring kepentingan yang lebih tertutup dan semakin elitis.

Di banyak kabupaten, struktur anggaran secara de facto dikendalikan oleh lingkaran kecil: kepala daerah, kepala dinas, kontraktor pemerintah, hingga kerabat dan kroni politik. Konstelasi ini menciptakan ekonomi rente, di mana nilai tertinggi bukanlah inovasi atau kapasitas, tetapi kedekatan politik. Akibatnya, banyak proyek publik menguap menjadi pembangunan setengah jadi: sekolah dibangun tanpa guru, puskesmas berdiri tanpa obat, dan jalan kabupaten yang rusak kembali setiap musim hujan. Sementara anggaran telah terserap, hasilnya tidak pernah benar-benar dirasakan masyarakat adat.

Masalah yang lebih dalam muncul ketika elite capture menembus ruang sosial orang Papua sendiri. Sebagian elit lokal, yang seharusnya menjadi representasi suara rakyat, justru terperangkap dalam logika sistem yang memberi keuntungan pada stabilitas kekuasaan dibanding pelayanan publik. Rak­yat kecil sering kali hanya muncul sebagai penonton yang diberi janji politik saat pemilu, sementara akses terhadap anggaran diputuskan oleh meja-meja tertutup rapat tempat kontrak dan proyek dipertukarkan. Ketika ini terjadi secara berulang, terbentuklah kelas baru: “kelas menengah-birokratis Papua” yang jaraknya makin jauh dari kehidupan masyarakat adat di kampung-kampung.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik pasca konflik dan pasca militerisasi. Selama beberapa dekade, banyak wilayah Papua mengalami trust deficit antara negara dan rakyat. Ketika negara mencoba mengatasi ketidakpercayaan itu dengan dana besar, sebagian elit mengambil kesempatan di tengah lemahnya institusi pengawasan. KPK mencatat beberapa kasus korupsi kepala daerah, tetapi itu hanya puncak gunung es dari struktur patronase yang jauh lebih dalam. Di bawahnya, ada ribuan transaksi kecil dan besar yang tidak pernah masuk laporan, tetapi sangat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Namun, penting untuk tidak menyamaratakan. Banyak pemimpin Papua yang bekerja sungguh-sungguh, memperjuangkan pendidikan, membuka layanan kesehatan, dan membangun infrastruktur dengan integritas. Tetapi suara mereka sering tenggelam karena sistem politik yang mendorong kompromi, persekutuan pragmatis, dan permainan anggaran. Bagi pejabat yang idealis, melawan jaringan rente berarti risiko kehilangan jabatan atau diisolasi dalam birokrasi. Inilah yang membuat elite capture bukan sekadar masalah moral individu, tetapi persoalan struktural yang mencengkeram tanpa disadari.

Dampak paling nyata dari elite capture adalah lahirnya “kemiskinan di tengah kelimpahan.” Papua menerima anggaran ratusan triliun sejak Otsus, tetapi banyak kampung masih berjuang dengan akses air bersih, listrik, dan sekolah bermutu. Ketimpangan antara pusat kota dan kampung-kampung pedalaman semakin melebar. Sementara itu, sebagian kecil elit memperlihatkan gaya hidup konsumtif: mobil mewah, rumah berlapis pagar tinggi, perjalanan dinas ke luar negeri, wisata rohani. Kontras semacam ini memperkuat perasaan ketidakadilan dan memperdalam jurang antara “negara” dan rakyat adat.

Dalam konteks inilah muncul seruan bahwa reformasi Otsus bukan sekadar soal meningkatkan anggaran atau membentuk provinsi baru. Inti persoalan adalah membangun tata kelola yang membuat anggaran publik kembali ke tangan publik. Mekanisme transparansi, audit independen, dan partisipasi adat perlu diperkuat. Penguatan lembaga adat dan kampung bisa menjadi alternatif untuk mengurangi kontrol elit politik terhadap seluruh alur anggaran. Sebab masyarakat adat, dalam banyak kasus, memiliki struktur sosial yang lebih akuntabel dan dekat dengan kehidupan nyata.

Jika elite capture tidak dibongkar, maka Otsus hanya akan menjadi mesin keuangan besar yang memperkaya sedikit orang sambil meninggalkan jurang sosial yang semakin dalam. Tetapi jika ada keberanian untuk melakukan reformasi dan mengembalikan anggaran kepada masyarakat, Papua dapat memasuki “gelombang ketiga” pembangunan: era ketika kekuatan lokal bukan hanya simbol politik, tetapi fondasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ini menuntut komitmen, bukan sekadar retorika.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah berapa banyak dana yang turun ke Papua, tetapi siapa yang mengendalikan dan untuk siapa dana itu digunakan. Coretan ini mengajak kita menatap kenyataan bahwa sebagian elit lokal memiliki peran dalam memperkuat lingkaran ketidakadilan. Namun pada saat yang sama, ia juga membuka ruang harapan bahwa perubahan masih memungkinkan jika suara masyarakat adat dimasukkan kembali ke pusat pengambilan keputusan, dan jika negara bersedia membangun sistem yang tidak dapat lagi direbut oleh segelintir orang. Papua tidak kekurangan sumber daya; yang dibutuhkan adalah tata kelola yang jujur, terbuka, dan berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.@arkam

PLAGIARISME PENDIDIKAN

arkam

Pendidikan selalu dipuji sebagai jendela masa depan, tetapi jendela itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibangun dari serpihan pengalaman manusia serpihan harapan, serpihan luka, dan serpihan janji yang setengah dipenuhi. Dalam setiap jendela, selalu ada tangan-tangan yang menyusunnya. Pertanyaannya: tangan siapa yang menyusun jendela bagi anak Papua hari ini? dan dengan niat apa?

Catatan penulis tentang suara yang mengalir seperti sungai yang sedang mencari lautnya; suara yang mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan cerita dari sudut-sudut kota terpencil dan terpencar, lalu merangkainya menjadi gambaran tentang pendidikan yang seharusnya hadir sebagai cahaya, bukan bayangan. Penulis berbicara tentang “ruang kebahagiaan” yang semestinya menjadi tempat negara menepati janjinya, bukan sekadar ruang untuk menabur slogan. Namun ruang itu hari ini sering berubah menjadi panggung, tempat politik mengemas janji dalam kotak-kotak indah yang dibungkus kata-kata mulia.

“Pendidikan hak segala anak bangsa,” demikian konstitusi berbisik tegas. Namun di Papua, bisikan itu sering tenggelam oleh bocornya strategi, oleh rencana-rencana yang tak pernah menyentuh akar persoalan, dan oleh moral hazard yang ditanam subur oleh birokrasi sendiri.

Seperti ember berlubang yang terus diisi air, sistem pendidikan di Papua dipaksa berdiri di atas pondasi yang rapuh: korupsi, ketidak seriusan, dan kebiasaan menjadikan pendidikan sebagai proyek, bukan kebutuhan. Padahal pendidikan tidak pernah lahir dari papan proyek. Ia lahir dari niat yang benar niat untuk mencerdaskan, bukan sekadar menghabiskan anggaran.

Janji-janji kampanye sering hadir seperti angin yang menawarkan kesejukan sementara: pendidikan gratis, insentif guru, ruang baca, internet, perbaikan fasilitas sekolah. Namun banyak dari itu hanyalah gema dari kebijakan nasional, bukan hasil gagasan murni yang tumbuh dari pemimpin Papua sendiri. Maka benarlah ketika penulis menulis bahwa semuanya “omon-omon,” sebab terlalu sering program pendidikan hanya menjadi “jualan merpati,” terbang tinggi saat kampanye lalu hilang jejak saat rakyat menunggu hasilnya

Pemimpin sering lupa bahwa ketika mereka “membeli” masalah rakyat saat kampanye melalui blusukan, kunjungan, dan janji manis sebenarnya yang mereka terima adalah amanah. Amanah yang harus diwujudkan, bukan dilupakan. Namun apa yang terjadi? Belum selesai satu masalah akar rumput ditangani, mereka sudah kembali turun ke masyarakat untuk “belanja masalah” yang baru. Ini bukan kerja kepemimpinan; ini pencitraan. Ini bukan pengabdian; ini pencarian panggung.

Di sinilah letak kegetiran sekaligus pencerahan pendidikan selalu menjadi janji yang mudah dijual, tetapi sangat sulit diwujudkan tanpa kemauan etis yang sungguh-sungguh. Pendidikan bagi orang Papua seharusnya bukan gelang emas yang hanya dipakai saat ingin tampil indah di kamera. Ia harus menjadi jembatan nyata menuju masa depan yang lebih baik. Jembatan yang dibangun bukan dari beton korupsi, tapi dari data yang jujur, niat yang bersih, dan keputusan yang strategis serta manusiawi.

Pemimpin tidak dipilih untuk mendefinisikan kepemimpinan mereka dipilih untuk menciptakan keputusan yang mengubah keadaan. Pendidikan bukanlah panggung bagi birokrat tertentu, tetapi rumah bagi setiap anak Papua yang menginginkan masa depan lebih terang dari masa kini.

Maka pendidikan adalah panggilan untuk mengembalikan sekolah, guru, dan anak-anak Papua pada orbit yang benar: orbit keadilan, keseriusan, dan kemanusiaan. Pendidikan adalah tugas suci, bukan proyek. Ia adalah jendela yang harus dirawat agar tidak retak oleh politik dan kepentingan sesaat.

Dan jika suatu hari jendela itu kembali bersih, mungkin kita akan melihat bahwa yang kita butuhkan bukanlah lebih banyak janji, tetapi lebih banyak keberanian untuk bertindak.@arkam

AKLAMASI BIBIT KORUPSI

Bangun yu, sadar yu, uda lulus, apa perlu disekolahkan ulang biar waras dijaga agar pendidikan publik yang diperlihatkan lewat lensa kamera telah menjelaskan kualitas isi pikiran kamu.

Pondok pelunasan utang, lewat ruang belajar kebahagiaan dari suara jalanan, menggelitik dan memprovokasi pikiran kamu tentang “aklamasi”. Dalam laporan perilaku yang meninjau menjelaskan bahwa organisasi yang sehat, biasanya terlihat dari adanya perbedaan pendapat dan harus ada lawan tarung sesungguhnya, bukan di skenariokan itu memberi signal bahwa organisasi itu sehat. 

Sehat karena ada pertentangan pikiran dari berbagai pihak dalam organisasi. Kamu, harus memahami dengan baik sebab orang yang berpikir waras selalu menjawab 1+1 bukan dua, bisa tiga atau empat berarti orang tersebut waras mengambil keputusan. Namun, Keputusan biasanya dipengaruhi juga oleh dua faktor persepsi dan pertimbangan membuat kamu tidak damai dan suka cita dalam membuat keputusan benar.

Maka, pertentangan pikiran itu menjelaskan organisasi sehat dan itu normal, walaupun kita menganut sistem organisasi dengan vertikal leadership, di mana keputusan diatas harus diambil walaupun ada perdebatan di akar rumput, terutama mereka-mereka yang membesarkan organisasi tersebut harus patuh pada keputusan diatas.

Secara ilmiah, tidak dibenarkan organisasi ditetapkan melalui aklamasi, kenapa demikian, para pencari fakta bilang, kamu yang dipilih secara aklamasi dipastikan tersandera pada kepentingan penjaga gerbong membuat biaya perawatan organisasi tinggi.

Lebih jauh lagi, kamu dipilih seharusnya tidak memakai ukuran, contoh ijazah, senioritas, jabatan kepala daerah atau jabatan lainnya, tetapi seharusnya dipakai adalah prestasi sebagai ukuran utama, itu baru publik yang waras bilang kamu hebat.

Kamu ingat selalu bahwa ada gerbong penjaga, gerbong itu apabila salah dirawat, Maka, bibit korupsi moral hazard akan tumbuh karena dipelihara dalam kebijakan yang kamu tidak sadar sendiri karena ada orang kuat.@arkam

Saturday, June 8, 2019

TERSENYUM

Tahun ini awan terlihat gelap dipandang memakai kacamata jiwa, tahun penuh kecemasan, keraguan, kembimbangan, kepedihan yang datang dan pergi membuat beberapa individu yang berada di pusaran birokrasi ada yang gembira dan ada pula yang bersedih.

Proses lelang jabatan maupun perampingan organisasi di Pemerintah Daerah yang dilakukan memakai mekani
sme terbuka, membuat banyak individu yang gagal karena sedikit saja yang terpangil. Kegagalan yang diakibatkan proses diatas telah meninggalkan luka hati sebab kesempatan tertunda dengan waktu yang belum pati.

Gembira dan sedih ini, merupakan irama kehidupan di atas perahu yang diberinama organisasi sudah seharusnya dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa dan bukan dilihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Kompetisi sudah pasti sudah pasti hukumnya ada yang kala. Kekalahan itu perlu sekali dilihat atau diambil sebagai titik masuk untuk memperbaiki diri lebih matang lagi, agar event yang akan datang diperkecil resiko gagalnya.

Gambaran kasar terlihat bahwa masih banyak bisikan negatif yang terungkap dari beberapa individu yang belum memberi izin hati untuk menerima rasa kepahitan hidup ketika kehilangan jabatan dengan hasil seleksi tersebut, ini mungkin ada takarannya masing-masing dalam melontarkan kekecewaan mereka karena belum siap lahir batin yang paripurna.

Kompetisi itu sebenarnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang postif seperti semasa masih menyandang status anak kampus, dimasa itu biasanya terjadi persaingan antar teman sebelahan kursi atau seangkatan yang normal saja yaitu nilai indeks prestasi yang berbeda antar teman kuliah.


Lahir batin masih mahal harganya atau masih jauh dari kondisi yang sebenarnya, ini dikarenakan masih ada penolakan yang dilakukan beberapa individu yang belum bisa menerima kenyataan kehilangan pendapatan berupakan fasilitas yang melekat langsung pada jabatan tersebut serta belanja operasional sehari-hari yang dibebankan pada organisasi akan terhenti otomatis.

Persoalan di atas, bila belum dikelola dengan baik, akan menimbulkan atau melahirkan energi negatif yang bermuara pada penurunan kemampuan berfikir postif serta cepat emosi. Persoalan tersebut perlu ada intervensi penyembuhan yang bersumber dari diri sendiri sebab penumpukan beban pikiran yang begitu berat akan menimbilkan sakit jiwa yang proses penyembuhan susah sekali diselesaikan dengan intervensi kimia.

Guru spiritual memberikan saran yang boleh dibilang sanggat ampuh untuk digunakan sebagai obat penyembuhan yang terbaik yaitu “tersenyum”. Menurut guru spiritual tersenyum memproduksi energi yang keberhingga dan senyum juga sebagai jembatan penghubung untuk memperbaiki atau mengantikan energi negatif dengan engergi yang positif.@arkam

PORT NUMBAY MENGGELIAT


Malam di Kota yang zaman lampau di juluki Hongkong di waktu malam, mulai perlahan-lahan susah diurus sebab sentuhan yang diberikan berlebihan kepada Port Numbay atau dengan kata lain sentuhan sudah semakin liar yang semestinya di batasi sebab daya dukung lahan pemukiman semakin kecil. Sementara yang menjadi fokus cerita adalah daya dukung jalan sudah kurang memadai untuk menampung kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sedangkan fenomena lain yang menarik dan menimbulkan pertanyaan yaitu apakah dengan tumbuhnya Port Numbai ini, membuat Pemerintah sudah mengantisipasi tuntutan masyarakat yang terkena dampak polusi udara dan gangguan kebisingan lainya yang hanya menunggu waktu untuk dimuntahkan masyarakat dalam bentuk menyampaikan pendapat dimuka umum.

Melihat perkembangan kota yang sudah semakin padat ini, perlu ada kerjasama lintas organisasi antara pemerintah Portnumbay, Kabupaten Jayapura, Keerom yang dijembatani Provinsi untuk mempersiapkan langkah mengantisipasi dampak yang ditimbul di kemudian hari, misalnya membuat kebijakan yang meniru Daerah lain seperti DKI Jakarta yaitu : syarat pembelian kendaraan diwajibkan menyertakan foto garasi rumah.

Bergeser pada fenomena lain yang menarik untuk dilihat lebih dalam lagi yaitu kepadatan kendaraan di jalan raya maupun yang diparkir diatas trotoar, ini menimbulkan pertanyaan lagi dan lagi yakni apakah ukuran daya beli masih relevan dipakai kalau dilihat melalui ukuran kepadatan kendaraan.@arkam

Wednesday, June 5, 2019

MEREKA MULAI SIUMAN

Memasuki hari raya idul fitri 1440 H, ada guntingan yang menarik namun kurang menggigit dikarenakan apa yang ingin didapatkan ketika anda saya dan dia membaca lintas papua pada media cetak ternama seukuran papua yang dikenal dengan nama cenderawasih pos atau disingkat cepos edisi senin 04/06/2019.

Sebelum dilakukan pembedahan lebih dalam tentang “Musyawarah Adat” , ada baiknya anda saya dan kamu, melihat satu simbol dari alam tanah ini yang disampaikan penjaga sungai yang terkenal buas, namun ada pelajaran teramat penting yang perlu dipelajari dari kelebihan yang diberikan pencipta alam semesta kepada seekor buaya.

Dalam sebuah telaga atau sungai hidup seekor buaya yang dalam kehidupannya selalu tenang dan tidak bersuara bahkan tidak pernah merusak telaga dan sungai dan berontak kalau diganggu mahluk asing yang wilayahnya. Sementara itu, buaya tersebut bergerak mencari makan ketika lapar.

Filosofi buaya ini, coba anda saya dan dia lihat dengan memakai kacamata adat sebagai alat masuk untuk mengurai masalah apa yang sebenarnya membuat luka hati semakin perih dengan memuntahkan aroma tak sedap, ini semua bersumber dari tanah garapan mereka sudah mulai langka atau main menipis manfaat ekonominya.

Luka hati yang lebih perih dan ekstrim yaitu sex ratio mereka mulai menurun perlahan-lahan, bila dilihat dari populasi masyarakat asli yang cenderung menurun, masalah ini melahirkan perkiraan sementara yaitu waktu mereka hampir sebagian besar digunakan untuk bergulat mengisi kampung tengah (perut) yang membuat terbatasnya waktu untuk melakukan aktivitas sex.

Penyebab lain yang diperkirakan ikut menyumbang penurunan populasi masyarakat asli, ini disebabkan oleh beberapa masyarakat asli yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengabaikan tumbuh kembangnya generasi penerus warga mereka atau dengan perumpamaan yakni “tongkat estafet diberikan kepada siapa”.

Beberapa masyarakat asli yang berperilaku negatif atau mementingkan dirinya sendiri, sampai ketika berada pada satu masa dimana Ia mulai merasa terancam, maka pada saat itu Ia mulai sadar bahwa marganya hilang merupakan hutang yang harus dilunasi atas perilaku mereka selama masih berkuasa.

Tikar adat yang dilakukan berdasarkan 4 golongan mata angging suku Marind yaitu Mayo, Timo, Sosum dan Esam sebagai pemilik tanah lulur mulai berontak karena pekarangan rumah mereka mulai masuk keluar migran tanpa pajak.

Pesta adat yang dilakukan bermaksud menyampaikan kepada penduduk migran bahwa tanah ini bukan tanah tak bertuan, tanah ini ada penjaganya. Mereka mulai melakukan perlawanan, namun para migran sudah migrasi puluhan bahkan ratusan ke tanah ini.

Filososi sederhana yaitu kalau mau masuk ambil barang di ladang (kebun) orang harus meminta izin sama pemiliknya, sebab kalau mengambil tanpa seizin pemilik ladang itu berat hukumnya kalau sampai tertangkap.

Bila dilihat dari berbagai konflik yang terjadi di hampir semua wilayah di tanah ini, masalahnya hanya satu yaitu konflik kepemilikan properti yang disebabkan motif ekonomi sudah terbungkus pada properti yang dimasa lampau properti tersebut digunakan secara bersama-sama, namun berkembangnya waktu properti mulai jadi sengketa karena yang dilihat nilai ekonominya. 

Migrasi besar-besaran tanpa pajak ke tanah Animha dilakukan melalui gerbong transmigrasi yang mulai tumbuh dan berkembang menjadi komonitas besar yang berfungsi sebagai generator pengerak ekonomi yang mengurita keseluruh wilayah selatan Papua. Komunitas migran ini telah berevolusi dalam struktur sosial ekonomi selatan.

Penetrase kelompok migran mulai bergeser dari wilayah ekonomi kewilayah politik, ini mulai terlihat dari pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat daerah Merauke sebagian besar kursi diambil oleh kelompok migran, dengan komposisi itu, maka sebagian besar keputusan strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan ditentukan kelompok migran.

Fenomena ini, yang membuat masyarakat asli yang sudah terdidik mulai berteriak dibawah bendera para-para adat, ini dilakukan agar kelompok migran harus sadar diri dan selalu mematuhi tatakrama yang sudah ditetapkan adat secara turun temurun.@arkam

MASALAH MEIBRAT

Meibrat merupakan satu Kabupaten terunik di pedalaman kepala burung, ini dihuni tiga suku besar yakni Ayamaru, Aitinyo dan Aifat yang pada masa lampau disebut dengan nama Ayamaru yang dalam perjalanan pemerintahan setelah dibentuk kabupaten ini penuh dengan misteri karena susah diukur memakai akal sehat. 

Perjalanan Pemerintahan Daerah yang
 misterius ini disebabkan terjadi lompatan budaya yang membuat sistem Pemerintahan dijalankan berdasarkan konsep like and dislike yang dilakukan pembuat kebijakan yang bahasa kasar suka-suka hati.

Terjadinya lompatan budaya atau ada sistem nilai yang terbangun ribuan tahun lalu, dipatahkan pemikiran generasi atau kelompok intelektual dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan digunakan untuk membuat rumitnya masalah sistem politik di tanah A3.

Lihat dari sisi yang lain, bisa juga dijelaskan bahwa perkembangan pemerintahan saat ini lebih primitif sebab orang A3 kembali tinggal dalam lubang gaaNya masing-masing, serta menumbuh kembangkan status nepotisme kelompok yang kuat dalam pemerintahan yang melayani.

Sementara itu, perjalanan organisasi di era kekinian dihuni oleh tiga kelompok dalam gerbongnya masing-masing yaitu (1) kelompok intelektual; (2) kelompok aktivis; dan (3) Kelompok Religius. Tiga kelompok besar ini, masing-masing memainkan peran di eranya masing-masing.

Kelompok Intelektual, ialah kelompok yang biasanya konsen berbicara atau menyampaikan gagasan atau pendapat kebanyakan dilakukan dengan membuat perbandingan baik empiris, teoritis maupun fenomena, biasa berdasarkan kota asal studi baik dalam maupun luar Papua. Kelompok ini perkembanganya mulai pelan-pelan tergeser di bumi A3.

Kelompok Aktivis, ialah kelompok yang berisikan anak-anak mudah terdidik yang konsen memberikan advokasi lingkungan dengan memakai bendera kelompok swadaya masyarakat yang dalam perjalanannya belum begitu banyak membuat perubahan di bumi A3.

Kelompok Religius, ialah kelompok religius yang melahirkan sebuah paham bahwa bersama kelompok ini, sudah pasti masuk surga, kelompok ini mulai tumbuh subur di bumi A3.

Berbagai kelompok kepentingan yang sekarang membuat panggung pertunjukkan dengan memakai lipstik pesta rakyat, ini sudah saatnya mulai sadar bahwa keputusan satu paket dengan resiko. Keputusan yang dibuat selalu memuat unsur efektif.

Orang bumi A3 sudah seharusnya belajar sama orang Bali, kenapa harus belajar ke Bali, mereka bukan siapa-siapa dengan kami atau satu ras dengan orang A3, ini pertanyaan yang akan muncul.

Tahun 2002, peristiwa bom Bali yang dilakukan teroris itu, banyak menewaskan ribuan orang yang tak berdosa ini, ditanggapi dingin orang Bali, yang bisa dilihat dari masyarakat Bali hanya diam dan menerima peristiwa tersebut walaupun menyakitkan mereka. Aksi balas dendam sama sekali hilang dari pikiran masyarakat itu sendiri.@ARKAM

MASALAH PASAR HARGA DIRI DI MAIBRAT

Melihat kebijakan Pemerintah Daerah membangun pasar yang dipengaruhi turbulensi Politik pada saat bergulirnya pesta Demokrasi itu, membuat rembesan menjadi gesekan kecil antara beberapa individu yang terlalu dibesar-besarkan oleh beberapa individu lain untuk memuluskan kepentingan mereka itu yang penting dilihat warga masyarakat.

Persoalan turbulensi politik membuat Pemerintah Daerah membuat kebijakan belanja modal dengan membangun pusat aktivitas ekonomi masyarakat tanpa melalui sebuah kajian akademik yang baik akan bermuara pada aset tidak produktif.

Pengeluaran Pemerintah Daerah yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (DAU, DAK, OTSUS, PAD, SILPA) akan membentuk belanja modal yang terakumulasi ke dalam aset daerah, ini perlu dikelola sesuai dengan perencanaan.

Keputusan pembangunan pasar diambil dari persoalan politik dengan mengabaikan aspek ekonomi akan melahirkan resiko kegagalan yang besar di masa depan karena aspek kelayakan sebuah pasar diabaikan pembuat kebijakan.

Alat bantu yang dipakai untuk memberikan edukasi kepada para pengambil kebijakan ini, penulis meminjam pesan Zocrates yang menjelaskan bahwa “Sesuatu Yang Tidak Di Teliti, Tidak Pantas Untuk Di Jalani”. 

Pesan Zocrates ini teramat sanggat tepat dipakai sebagai jembatan untuk memberikan pencerahan secara rasional walaupun saran penulis terlambat, namun mungkin masih bisa dijadikan pertimbangan untuk pengalihan fungsi bangunan tersebut menjadi Market Point di batas kota. 

Secara teori yang belum terbantahkan selama ini bahwa membangun sebuah pasar perlu ada kajian kelayakan secara ekonomi yang komprehensif sebab orientasi belanja pembangunan sebuah pasar adalah menaikan Pajak Daerah.

Pasar secara teori merupakan tempat pertemuan antara produsen dan konsumen atau petani dan pembeli dengan aktivitas pertukaran barang dengan alat ukur uang. Persoalan yang akan dihadapi ketika pasar sudah terbangun adalah siap pembeli utama atau konsumen target utama ketika pasar dibangun siapa.@arkam

Thursday, May 16, 2019

PRASANGKA


Perkembangan revolusi industri yang dimulai dengan 1.0 2.0 3.0 dan 4.0 yang telah terjadi di belahan dunia barat sangat cepat dalam merubah perilaku individu dan organisasi secara global dengan daya ledak yang cukup kuat sampai di indonesia.

Perkembangan teknologi secara langsung juga memberi dampak kepada perubahan lingkungan baik ke dalam maupun keluar yang telah berimbas pada perilaku individu yang ikut terkoreksi. Akibat perkembangan teknologi juga mempengaruhi tindakan individu dan organisasi.

Melihat perkembangan revolusi industri 4.0 yang semakin membumi dan telah menggeser cara-cara kerja konvensional kecara kerja berbasis teknologi informasi ini menuntut desain ulang fremwork sebab masalah ada pada cara berpikir beberapa individu yang belum siap menerima perubahan.

Kesiapan individu untuk menerima revolusi industri 4.0 masih mengalami hambatan yang disebabkan tingkat kemajuan dan kepemilikan moneter masih rendah, ini dilihat dari lompatan faseh atau revolusi dari fase peramu langsung dipaksakan lompat jauh pada industri 4.0.

Banyak lompatan yang dilewatkan membentuk perilaku individu untuk menerima kenyataan sedikit mengalami hambatan karena tingkat kemajuan yang rendah dalam menganalisis dan memecahkan masalah dengan berpikir positif. Fenomena ini bisa dilihat dari proses penarikan CPNS yang masih tersandung ofline online.

Penolakan seleksi memakai online mendapat penolakan, ini disebabkan prasangka berlebihan yang mengalir membentuk kemarahan tanpa alasan jelas. Prasangka juga disebabkan tingkat kemajuan pendidikan masih rendah yang membuat bersaing secara terbuka masih terus menghantui mereka.@arkam

Tuesday, May 14, 2019

LUKA JIWA


Masa lalu masih memiliki ekor panjang sampai hari ini, yang terus menggelinding bagaikan bola salju. Masa lalu masih memiliki ekor panjang atau dalam istilah kekinian susah move on. Fenomena ini bisa diamati atau di scan dari segala persoalan yang terjadi selalu saja disebut Amber/ Pendatang/ Non Papua sebagai penyebab masalah.

Pendapat seperti ini sebenarnya kecenderungan lebih besar dipengaruhi informasi masa lalu yang diceritakan berulang-ulang tentang status Papua dalam peta Indonesia, yang menurut kaum terdidik dan masyarakat kebanyakan belum sah. Status Papua ini diduga sebagai “Luka Jiwa” yang membuat sampai rasa ke Indonesia orang Papua menjadi ganda. 

Sumber penyebab luka jiwa di atas, masih menjadi gorengan yang menarik, lesat dan gurih serta harganya murah meriah ini dikelola dengan baik dan cerdas oleh kelompok intelektual yang katanya nasionalis untuk mencapai tujuan individu kelompok dan golongan.

Hasil scan yang dilakukan melalui berbagai peristiwa perjalanan Papau sampai tahun ini memberikan informasi bahwa pertarungan terbuka melalui partisipasi langsung warga memilih siapa yang diunggulkan sebagai perpanjangan tanggan di parlemen menjadi lemah sebab modal hitam kulit keriting rambut tidak cukup sebab menjadi minoritas dalam daftar pemilihan tetap.

Keterwakilan di parlemen semakin menurun, ini juga perlu di lihat sebagai sebuah teguran keras atas perilaku kita yang mementingkan diri sendiri dan kurang melihat efek keberlanjutan dan diperparah lagi namun belum disadari bahwa politik kekhususan membuat Orang Asli Papua kembali hidup dalam goanya masing-masing.@arkam

BAYAR HARGANYA


Sore menjelang malam di sudut kampus cemara, bertemu dengan seseorang tokoh pendidikan dan juga sekaligus sebagai pengamat politik yang sudah terkenal dengan pemikiran-pemikiran yang cerdas dalam membedah persoalan dalam latar alamiah.

Tema diskusi yang diangkat terkait dengan masalah yang telah menjadi trending topic di media sosial dan media cetak yang dilakukan orang asli papua untuk menolak rendahnya keterwakilan mereka dalam parlemen. Protes yang dilakukan orang asli papua dimulai dari kabupaten merauke yang berlanjut ke beberapa titik di tanah papua.

Mereka berontak karena keterwakilan mereka melenceng jauh dari yang diperkirakan, mereka tidak memakai ukuran daftar pemilih tetap sampai dengan mekanisme yang ditetapkan partai politik bahkan sampai menolak menerima stempel pemilih minoritas.

Sorotan diskusi lebih terfokus pada pertanyaan sejauh mana peran pemerintah melihat persoalan tergusurnya orang asli papua di parlemen sebagai ancaman serius di masa depan kalau dibiarkan pemerintah daerah akan memuntahkan aroma tak sedap dalam bentuk konflik sosial.

Ada harga yang harus dibayar dalam menyelamatkan hak dasar orang asli papua dengan cara pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan jumlah partai politik atau mendorong tumbuh kembangnya partai politik lokal seperti yang diamanatkan dalam politik kekhususan.

Pembatasan partai politik pasti agak sulit dilakukan, namun untuk menjaga rantai nilai sosial orang asli papua, maka pemerintah daerah harus berani membuat kebijakan yang didudukan pada politik kekhususan sebagai jalan tengah untuk merendam konflik sosial.

Melihat fenomena yang terjadi, maka secara sadar orang asli papua dengan para pemangku kepentingan harus belajar dari aceh, tentang bagaimana menghidupkan partai lokal sebagai kendaraan utama untuk membangun indonesia dengan sistem pemerintahan syariat islam.

Kembali pada rendahnya keterwakilan di parlemen, sampai-sampai menimbulkan berbagai prasangka antara si A sampai Z saling curiga mencurigai dan juga saling menuduh. Masalah saling curiga, sampai lupa pada harga yang harus dibayar sebuah keputusan kalah harus diterima.@arkam

Monday, May 13, 2019

ARTI CINTA

Ananias anak muda yang diizinkan sang pencipta untuk melihat dunia pertama kali di satu tempat yang diberi nama sorong ke selatan.
Pada masa beraromah putih abu-abu, Ananias menuliskan masa depan di sebuah sekolah menengah atas di sorong ke selatan.
Di kelas sekolah itu, Ananis duduk sebelah dengan seorang teman yang berjenis kelamin perempuan yang lumayan cantik ukuran sorang ke selatan.
Hari terus berjalan meninggalkan minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun yang tidak terasa telah mengantarkan Ananias menuju garis finish dengan meninggalkan putih abu-abu.
Di masa sekolah yang dijalankan dari kelas pertama sampai kelas ketiga, Ananias mulai mengungkapkan rasa yang terpendam dalam dada kepada teman kelas yang duduk di sebelah kiri dengan jarak kurang lebih 1 meter lebih sedikit yang namanya Mawar.
Dengan hembusan nafas agak sedikit sesak, Ananias memanfaatkan jam istirahat kelas untuk mengungkapkan rasa dengan bertanya...Mawar apakah kamu mau menjadi pacar aku….
Mawar hanya melepas senyum pada Ananias….Namun Ananias bertanya lagi pada Mawar….apakah kamu bersedia jadi pacer aku….Mawar memberi jawaban maaf Ananias…...kenapa kamu menolak menerima cinta aku.
Jawaban Mawar….saya tidak suka laki-laki yang suka merokok dan minum-minum...mendengar alasan itu, Ananias langusng pergi berlalu meninggalkan Mawar.
Setelah merampungkan ujian sekolah dan dinyatakan lulusan dengan menerima surat yang menerangkan telah menyelesaikan pendidikan di kota sorong yang keselatan. 
Ananias merantau guna melanjutkan pendidikan kesalah satu perguruan tinggi yang cukup punya nama seukuran Kota Sorong.
Setelah mengambilkan formulir dan merampungkan segala administrasi masuk sebuah perguruan tinggi umumnya yang dilanjutkan mengikuti tes masuk. Setelah selang satu minggu keluar informasi Ananias dinyatakan lulus.
Ananias mengikuti proses transformasi dalam industri jasa yang disebut pendidikan itu dengan aktivitas perkuliahan dan kegiatan pengembangan diri itu, Ananias tergabung dalam kegiatan Kerohanian... 
Ananias memilih kegiatan Kerohanian sebagai jalan masuk utama untuk meningkatkan nilai spiritual agar selalu terhindar dari perilaku negatif. 
Hari terus berjalan berganti minggu dan minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, Ananis sudah semakin fokal mengungkapkan pendapat di muka umum, ketika ada gerakan membela orang kecil, ananias selalu tampil terdepan yang membuat Ananias semakin matang dalam mengeluarkan pendapat.
Dalam rutinitas yang padat antara kuliah dan organisasi kemahasiswaan di kampus, Ananias selalu menyisihkan sedikit waktu 1 sampai 2 jam untuk berolahraga guna memastikan tubuh tetap aman.
Tempat mengeluarkan racun atau energi negatif di dalam tubuh Ananias dengan memanfaatkan ruang public yang telah disediakan pemerintah bagi warga kota yang tidak punya cukup uang untuk belanja kesehatan dengan memanfaatkan Taman Deo sebagai tempat jalan sore.
Di suatu sore, Ananias sedang jalan-jalan di taman deo, dengan tidak sengaja pula, ananias berjumpa dengan Mawar yang tidak lain merupakan teman satu sekolah di kota sorong selatan lagi duduk bersama pacar yang satu sekolah namun beda jurusan itu.
Menangis melihat pacarnya Mawar menghisap rokok malioboro putih, mimicu memori Ananias terbuka kembali dengan memunculkan pertanyaan pada Mawar….. Itu pacar kamu ya dan Mawar menjawab iya itu pacar saya….. mendengar jawaban Mawar…. Ananis belum puas dengan jawaban Mawar itu...Ananias bertanya lagi dan lagi pada Mawar...Waktu sekolah kamu menolak cinta saya dengan alasan saya suka merokok dan minum-minum. Ternyata hari ini saya lihat kamu pacaran dengan lelaki perokok dan peminum berat.
Mana yang benar : ( ) Cinta itu Rasa….. ( ) Cinta Itu Anugrah atau ( ) Cinta Itu Sebab atau Cinta itu apa menurut kamu….

@arkam

PERBANDINGAN ITU VIRUS


Pesta rakyat tinggal menunggu rekapan hasil akhir siapa-siapa yang mewakili rakyat di parlemen itu masih meninggalkan bekas luka yang proses penyembuhannya makan waktu lama. Saya kau dan dia pasti tidak mau menerima hasil akhir dari sebuah pertandingan karena ukuran yang dipakai perbandingan.

Perbandingan merupakan semua fenomena yang baru diproduksi pada pelaksanaan pesta demokrasi itu, namun fenomena itu merupakan bawaan pengalaman masa lalu yang hadir berulang kali dalam kehidupan sehari-hari selalu memandang sesuatu memakai perbandingan.

Fenomena itu biasanya juga terlihat pada pengklasifikasian yang dibuat kau saya dan dia memakai ukuran pendidikan yang ditamatkan, kota tempat studi dulu, status sosial yang dimunculkan sebagai ukuran untuk menilai kemampuan individu yang menjadi target untuk dibully.

Bila ditarik lebih jauh lagi ke wilayah pemerintahan masih juga ditemukan perbandingan-perbandingan disampaikan langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan suksesi pergantian pimpinan di level atas sampai level terkecil.

Saya kau dan dia biasanya tidak secara sadar membandingkan kepemimpinan yang dulu dengan kepemimpinan yang sekarang, misalnya bonus yang diberikan pimpinan yang dulu lebih baik dari yang sekarang atau pimpinan yang dulu lebih komunikatif dari yang sekarang.

Perbandingan sebenarnya merupakan referensi rujukan untuk melakukan perbaikan-perbaikan nilai hidup maupun penetapan target capaian organisasi, namun harus dilihat dari aspek ruang dan waktu, misal kapan saya kau dan dia membuat perbandingan kapan tidak membuat perbandingan.

Catatan para pakar psikologi yang tertinggal di ruang baca menyebutkan bahwa selama saya kau dan dia masih terus membandingkan nilai lebih dan nilai kurang secara personal, maka mulai saat itu star menderita karena sakit jiwa.

Dalam catatan religius disebutkan hidup adalah sebuah kesempatan untuk melayani Tuhan, yang menyebabkan saya kau dan dia menegakkan aturan ini dalam kehidupan sehari-hari sampai lupa tugas saya kau dan dia untuk menghadirkan tuhan dalam perbuatan, misalnya membantu membayar hutang kredit, biaya rumah sakit, pendidikan orang kecil.

Tulisan di atas ini merupakan sebuah ajakan untuk saya kau dan dia dalam mengambil keputusan melangkah maju perlu memastikan satu langkah itu penting, kalau penting diperjuangkan kalau tidak penting, maka saya kau dan dia harus memastikan bahwa kita sama-sama melayani umat Tuhan, namun jalannya saja yang berbeda. @arkam

TANGGUNG JAWAB


Lihat kawan, informasi minggu ini cukup menarik untuk dianalisis dan diperdebatkan akan bermuara pada satu titik saling melempar tanggung jawab. Sebab informasi tersebut berkaitan langsung dengan hak hidup orang asli papua dalam politik kekhususan.

Kawan siapa sih yang sebenarnya bertanggung jawab mengawal politik khususan yang telah diberikan dalam bentuk undang-undang. Ini menimbulkan suatu soal yang belum diselesaikan ataukah sengaja tidak dikerjakan yaitu kalau kawan sudah mengerti arti undang-undang kenapa harus diperdebatkan lagi.

Informasi kemarin penerimaan pegawai negeri sipil menjadi trending topic di beberapa media cetak maupun media online yang memunculkan berbagai macam tafsiran negative para pencaker orang asli papua yang menyoroti mekanisme afirmasi dengan formula 80 : 20 yang diamanatkan dalam undang-undang politik kekhususan.

Kawan kita semua perlu mengucap syukur karena formasi tersebut dimunculkan setelah pesta rakyat berakhir sehingga tidak ada yang dirugikan gorengan gorengan politik yang menumpang di atas kendaraan 80 : 20 sebagai senjata yang ampuh untuk mencapai target sebagai wakil rakyat atau pimpinan daerah.

Sejarah undang-undang politik kekhususan sudah dijelaskan sejelas-jelasnya tentang 80 : 20, namun dalam perjalanan tidak diperjuangkan melainkan diperdebatkan dan saling melempar tanggung jawab sampai-sampai juga pada saling curiga satu sama lain yang membuat 80 : 20 masih terus diperdebatkan.

Kawan terpilih sebagai pimpinan daerah atau wakil rakyat sampai pada organ-organ yang terkecil dengan ranting-rantingnya diberikan kewenangan untuk memperjuangkan apa yang menjadi mimpi bersama seperti dalam simbol padi dan kapas sebagai cita-cita bersama.

9 dari 10 pencaker asli papua menaruh harapan besar untuk 80:20 sebagai pilihan terbaik dibandingkan penerimaan memakai sistem online maupun offline yang ditawarkan pemerintah. Mekanisme online maupun offline di beberapa media para analis masih mempersoalkan transparansi dan akuntabilitas pimpinan daerah.

Fokus analisis saya kau dan dia hanya terbatas mendiagnosis makna atau nilai yang masih bersembunyi dalam ungkapan tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari saya kamu dan dia selalu saja menemukan ungkapan tanggung jawab disampaikan ketika terjadi sebuah peristiwa, misalnya berani berbuat salah berani tanggung jawab.

Informasi minggu ini tentang formasi penerimaan pegawai negeri sipil memunculkan berbagai protes pencaker asli papua yang menuntut afirmasi serta sistem penarikan memakai mekanisme offline sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dipegang pimpinan daerah di tanah papua.

Pencaker asli papua melakukan perlawanan kepada pemerintah daerah merupakan harga yang harus dibayar karena utang pejabat daerah selamat bertugas tidak memperjuangkan politik ke khususan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. @arkam

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...