Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Sunday, August 5, 2018

KOPI PAPUA SETENGAH HIDUP ?

Potensi ekonomi Papua luar biasa bila dilihat dari luas wilayah baik darat laut dan udara serta yang tidak kalah istime dibawah perut bumi yang tete manis sudah kasih buat warga Papua. sementara bila dilihat dari potensi lain yang belum dikelola juga yaitu matahari yang dikase warga papua lihat pertama kali ditambahkan dengan banjir yang belum juga dikelola dengan baik.

Berangkat dari gambaran luas wilayah Papua yang katanya menurut cerita orang kebanyakan memiliki luar wilayah dua kali pulau jawa ini memunculkan soal yang belum diselesaikan atau mungkin terlewatkan untuk di selesaikan yaitu komoditas pertanian dalam arti luar di dalamnya perkebunan yang dapat dijadikan materi cerita kali ini.

Komoditas yang di maksudkan penulis adalah KOPI PAPUA yang diangkat dengan melihat publikasi CEPOS dengan menulis 14 Kedai dan 11 Petani Kopi Ramaikan Festival Kopi, ini merupakan kegiatan yang sangat menarik dengan membentuk 25 stand yang didukung penuh Bank Indonesia serta Pemerintah Provinsi Papua.

Sebelas pemain dalam komoditas kopi datang dari wilayah Wamena, Serui, Oksibil, Timika, Lanny Jaya dan Yahukimo yang mungkin secara garis besar sebagai petani kopi atau pemain tingkat lokal sementara sektor hilirnya ada sebelas pemain yang berasal dari kota jayapura.

Tata kelola rantai nilai komoditas kopi Papua masih harus diperbaiki sebab harga kopi di tingkat petani sangat rendah karena pemicunya sistem distribusinya yang masih jelek,dikatakan jelek sebab masih ada saja pemain tingkat lokal yang mengoreng harga beli di petani kopi.

Berbicara rantai nilai, berarti kita bersepakat peran pemerintah hadir dimana dan lembaga keuangan hadir dimana itupun dengan para pemain di hilir duduk bersama bersepakat agar sama-sama senang. kesepatan pemangku kepentingan atau dalam tulisan ini disebut para pemain dalam rantai nilai kopi perlu bekerja bersama-sama agar produksi kopi tetap terjaga.

Persoalan klasik yang selama ini terjadi di hampir seluruh wilayah Papua adalah pemerintah selalu doyan serimonial dengan ikut pameran baik tingkat lokal maupun nasional hanya sebatas mengkampanyekan keunggulan daerah Papua yang tidak ada tindak lanjutnya untuk membangun dan mengembangkan potensi yang benar-benar sudah memberi hasil seperti kopi Papua.

Apa pendapat kamu........




Thursday, April 5, 2018

BEEN DARI AMBAIDIRU


arkam.id, Been (nama kebetulan) dalam cerita ini, Been pada satu kesempatan pernah membayangkan begini. Apakah warga kampung pernah mendengar cerita Ambaidiru.

Ambaidiru yang sedikit mendunia namun kurang mengigit sebab berada di seberang lautan nun jauh membentuk titik kecil di tengah lautan yang membentuk kepulauan Yapen.

Been menggunakan waktu siang hari untuk berlari menyampaikan kabar pada saudara-saudara yang lain untuk menyampaikan pesan yang isinya berkaitan cerita papa mama bahwa Ambaidiru sudah sedikit mendunia alias sudah masuk warung minum siap saji kelas dunia.

Ambaidiru, namamu tak seindah nasib mu, kenapa Been bisa langsung memberikan fonis seperti itu, Been sebenarnya harus melakukan diaknosis tentang apa saja parasit yang menimbulkan virus mematikan itu.

Cerita masa lalu tetang Ambaidiru sebenarnya merupakan sumber bacaan terbaik untuk menata masa depan warga pribumi dengan membangun dan mengembangkan ekonomi berbasis nilai hidup yang harus di perhatikan pemangku kepentingan di kepulauan yapen.

Ambaidiru sudah sedikit mendunia alias masuk pasar eksport dengan brending "Cofi From Ambaidiru" yang cita rasa bintang lima di beberapa pasar eropa yang dalam perjalanan kurang ada sentuhan pemerintah setempat membuat sedikit hilang di hati para penikmat Kopi.

Ombak memukul ditepian pantai dan irama yiur melambai pohon kepala membuat seisi rumah tertidur serta tidak mau mengambil pusing dengan persoalan yang ada di seputar mereka sebab mereka sadar hanya sebagai penghias kop surat.

Been, Tete manis su kaseh pulau dan isi perut yang begitu kaya, belum juga mengerakkan ekonomi warga berbasis nilai hidup yang setengah hidup ini.

Peta jalan pengembangan ekonomi berbasis konektifitas kepulauan dengan manajemen transportasi tingkat kepulauan Yapen.

Konektifitas antar pulau belum berjalan dengan baik ataukah peta jalan pengembangan konektifitas antar pulau belum ada di naskah perencanaan daerah yang memuat arah membangun dan mengembang ekonomi warga masih abuh-abuh.

Pemerintah perlu menciptakan inovasi baru dengan membangun dan mengembangan manajemen transportasi laut antar pulau yang baik sehingga mobilisasi barang dan orang berjalan seirama, maka ekonomi warga kepulauan akan tumbuh.

Sentuhan transportasi ke Ambaidiru akan semakin menjadi brend terbesar yang mendunia karena komoditi kopi dari Kepulauan Yapen (Ambaidiru) yang mengalir secara terus menerus di pasar eksport.

Sunday, April 1, 2018

CERITA OBET DARI SARMI

Mata Pena:arkam

Obet (nama kebetulan) dalam cerita ini, bertanya sama teman-teman seusianya, kamu pernah tidak membaca catatan antropologi Papua atau mendengar cerita tentang daerah penghasil kopra pada zaman hindia belanda di wilayah Papua. 

Daerah ini terkenal pada zaman itu dan sekarang menjadi saksi sejarah dengan kelapa nyiur melambai di tepian pantai, yang kata Obet sudah harus di catatan sebagai pantai terbanjang di dunia.

Obet (nama kebetulan) dalam cerita ini, Obet dalam satu kesempatan melakukan pekerjalanan menuju suatu wilayah di sebelah barat Kabupaten Jayapura yang dalam cerita warga masyarakat di beri julukan kota ombak Sarmi. 

Obet melakukan perjalanan melalui jalan darat dengan menumpang mobil rental. perjalanan menuju kota ombak memakan waktu kalau tidak salah delapan sampai dua belas jam.
 
Sarmi adalah singkatan dari nama suku-suku besar, yakni Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Keberadaan mereka telah lama menjadi perhatian antropolog Belanda, Van Kouhen, yang kemudian memberikan nama Sarmi.

Sarmi menjadi fokus perhatian kolonial belanda pada zaman itu, cukup beralasan sebab sarmi merupakan salah satu bagian surga kecil yang tete manis kase mempunyai laut dan kali-kali yang menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan buat Belanda.

Semenjak kolonial belanda meninggalkan sarmi dan papua berintegrasi dengan indonesia, semenjak itulah pertanian dalam arti luar tak terurus dengan baik, membuat warga sami perlahan-lahan ekonomi sedikit hilang karena terbelit kemiskinan di dusun kelapa dan dusun-dusun lain yang tete manis su kase.

Sepanjang perjalanan ke sarmi Pace Obet, mendapat hidangan ringan yang diberikan alam melalui sebuah gambar tentang hutan-hutan Kelapa dan Kakao mulai ditumbuhi tembok-tembok menghiasi sepanjang perjalanan ini, menimbulkan pertanyaan apa yang salah ? dan siapa yang melahirkan kesalahan yang membuat pohon-pohon tembok mulai mengantikan nilai hidup warga Sarmi.

Potret tembok yang tumbuh semakin subur menghiasi pingiran badan jalan kiri dan kanan semakin membuat Obet penasaran, sebab apa yang dibaca memalalui catatan tentang sarmi yang selalu mengkampanyekan konsep "satu kampung satu produk" hanya menghiasi kop surat semata saja.

Obet selalu berharap dengan surga kecil yang tete manis su kase di sebelah barat Kabupaten Jayapura ini, dengan potensi laut dan kali yang melimpah sudah menjadi arah membangun dan mengembangkan komoditi berbasis nilai hidup, yang kalau mau dilihat pada zaman Belanda sudah sedikit nasional dan internasional alias masuk pasar eksport, namun dalam perjalanan pemberian kewenangan khusus belum mengigit para pemangku kepentingan sebab pimpinan masih sibuk urus politik. 

Obet sedih sebab keluarga besarnya perlahan-lahan sedikit ekonomi hilang di dusun-dusun yang tete manis su kase. Hantaman ombak pantainya tak sedikit menyadarkan para pemangku kepentingan untuk berlari mencari para-para adat sebagai sandaran utama sebab bersama warga sarmi untuk maju bersama-sama melawan perubahan.
     

Saturday, March 31, 2018

SURAT DARI YAHUKIMO


arkam.id, Kemandirian merupakan satu soal yang masih tersangkut di pikiran sembilan dari sepuluh warga papua selalu bertanya "kapan daerah kami bisa mandiri" sudah hampir kurang lebih lima puluh tahun berintegrasi ke Indonesia.

Budi (nama kebetulan) dalam cerita ini, selalu dan selalu berpikir bahwa semua sumber daya fisik dan non fisik sudah digerakan semuanya, namun masih saja ada soal yang tertinggal untuk diselesaikan lagi yaitu "kemandirian daerah".

Pembentukan sekat-sekat baru (pemekaran) di harapkan sudah bisa melahirkan inovasi-inovasi baru yang berasal dari daerah-daerah pemekaran tersebut, tetapi yang ditemukan semua hanya kopas karena lagi trending topik di media nasional dan media sosial.

Mungkin sudah mencapai jutaan paket kebijakan di keluarkan Budi (nama kebetulan) semuanya hampir pasti di sumbangkan kekantong belanja konsumtif (konsultasi, berkoordinasi, jalan keluar daerah, jalan kedalam daerah) melebihi kegiatannya.

Sepotong cerita "kemandirian" dihadirkan sebagai arah penunjuk jalan ke satu wilayah yang diambil namanya dari empat suku besar yaitu : Yali, Hupla, Kimnal, Momuna disatukan menjadi nama Kabupaten Yahukimo dengan ibu kota pemerintahan berada di "Dekai".

Inovasi daerah untuk memetik kemandirian sudah dilahirkan melalui prakarsa pimpinan lokal di era kehususan yang apabila dilihat teman-teman tata kota pasti dan pasti diberikan pilihan pada skala lima sanggat puas sekali dengan kerangka dasar membangun dan mengembangkan Dekai menuju kota modern di masa depan.

Inovasi baru seukuran tanah papua sudah dilakukan Yahukimo dengan mempersiapkan hutan-hutan kota sebagai lokomotif pengerak ekonomi utama (PAD) untuk memperkecil ketergantungan dengan Budi (nama kebetulan) dalam cerita ini.

Dekai ibu kota Kabupaten Yahukimo merupakan kota di tengah hutan yang apabila dikelola memakai sentuhan ilmu manajemen tata kota akan menjadi salah satu kota terbaik di Nusantara.@arkam

EKONOMI BARU DI MERAUKE

arkam.id,  Sampaikan-sampaikan sama teman-teman kamu ada "Ekonomi Baru" yang lahir dari komoditi berbasis nilai hidup yang sudah sedikit nasional alias masuk pasar ekspor ke beberapa wilayah di luar Papua, namun dalam perjalanannya belum begitu mengigit para pemangku kepentingan.

Daerah di selatan tanah papua tepatnya merauke masyarakat lokal mulai tergerak membangun dan mengembangkan potensi yang tersimpan di rawa-rawa menjadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi.

Ide mengembangkan ikan gastor asing, lahir dari prakarsa masyarakat lokal yang diprakarsai Budi (nama kebetulan) dalam tulisan ini, Budi merupakan seorang Jamer (jawa merauke) orang tuanya merupakan transmigrasi pertama yang datang di merauke.

Untuk menangkap peluang yang ada budi mulai membentuk kelompok petani plasma di beberapa titik yang sudah di sepakati di wilayah tanah miring dan sekitarnya. Alat tangkap dan bahan-bahan pembuatan ikan asing gastor semuanya masih di sediakan Budi, sebab rata-rata dompet masyarakat lokal masih sakit.

Proses produksi ikan asing gastor dilakukan budi dengan menjeput langsung pada tempat-tempat yang sudah disepakati bersama petani plasma. sementara proses pembelian ikan asing gastor dilakukan dengan pengurangan bahan-bahan yang diberikan Budi barulah harga bersih ikan asing gastor per kilo diterima masyarakat lokal.

Cerita singkat di atas memberikan sedikit simpulan bahwa ekonomi baru sudah lahir dari prakarsa masyarakat, namun belum begitu mengigit karena pemerintah masih sibuk mengurus politik.@arkam

Tuesday, March 13, 2018

MEMAHAMI HIDUP UNTUK BERBUAH



Semua dari kita pasti mengerti bahwa hidup untuk berbuah, hanya kita perlu mengerti benar bahwa kita menghasilkan buah yang baik agar dapat dimakan semua orang. Dalam sari buah ini memberikan arti yang konprehensif, meminjam tanggapan analis dalam perumpamaan Yesus menggambarkan dirin-Nya sebagai Pokok anggur yang benar dan murid-murid-Nya digambarkan sebagai rantingnya. Ranting akan tumbuh dengan baik bila ia melekat pada pohon. Demikian juga dengan kita, kita akan tetap hidup apabila selalu bermakna buat orang banyak.

Kesimpulan demikian terangkat dari semakin minimnya regenerasi kepemimpinan dalam mengemudikan sebuah perahu layer yang diberi nama pemerintah kearah mana misi pemerintah akan dibawah.

Remang-remang kepemimpinan saat ini, fenomena ini apakah diakibatkan oleh semakin rendahnya tingkat pemahaman kepemimpinan atau kah ilmu kepemimpinan.

Masalah semakin meningkat dengan kemimpinan dan segala peristiwa yang terjadi memberi gambaran masih rendahnya tingkat kedewasaan seorang pemimpin dalam merespon segala perubahan amat dasyat saat ini. Kepemimpinan organisasi formal membuat para pemimpin tidak bisa berkembang sebagai pemimpin yang dewasa. Meminjam tangapan Argyris dikatakannya bahwa karena organisasi menurut kebiasaannya menciptakan tujuan-tujuan yang harus dicapai secara kolektif, maka seorang pemimpin organisasi formal seringkali merupakan arsitek dari konsepsi bagaimana tugas pekerjaanya dalam rangka tujuan tersebut. Oleh karena itu, mereka bertindak tidak matang. Para pekerja dalam banyak organisasi diharapkan bertindak dalam cara yang tidak dewasa.

Amanat itu menjebatani isu-isu kepemimpinan, tetapi kembali pada isu-isu dalam pemerintahan daerah saat ini ternyata lebih sulit . gaya kepemimpinan Bert Kambuaya mencoba mengembalikan upaya-upaya untuk memperbaiki sistem organisasi yang kaku serta menyiapkan orang-orang muda yang siap memasuki dunia baru melalui sistem seleksi yang solit dalam menyelidiki beberapa ukuran obat resep untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin professional papua yang memiliki integritas moral yang tinggi.

“BERSIKAP TERBUKA”

Meskipun Bert Kambuaya dirinya dengan cara-cara yang santai, ia tidak memisahkan dirinya dengan warga disekitarnya tersebut. Ia memang seorang unggulan yang dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan daerah ini. Ia bersikap terbukan membuat warga papua mengaguminya bekerja dalam suatu pencerahan moral yang tinggi. Bert Kambuaya dalam memimpin selalu memberikan kesempatan pada team worknya untuk memberikan masukan-masukan serta mengevaluasi kinerja organisasi yang dipimpinnya dengan membuat para bawahannya seturut dengan misi mau dikemanakan organisasi ini, sehingga bawahannya seturut dengan kepemimpinan Bert Kambuaya. Memang sich…. Ini bukan hal mudah bahkan kadang menyakitkan dengan berpegang pada ajaran-ajaran moral agama. Sungguh mengagumkan ajaran firman tuhan dalam surat Yohanes 15:8 sebagai berikut :

…..Bapa-Ku dipermuliakan,……jika kamu berbuah banyak…..

Apakah tidak cukup jelas bahwa firman Allah ini ternyata tidak sejalan dengan ajaran kepemimpinan yang selalu menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin ialah dapat memperngaruhi orang lain atau bawahannya ? Meskipun terasa “menyakitkan” toh harus kita katakan bahwa asumsi dasar ajaran kepemimpinan yang kita pelajari selama ini memang bertentangan dengan ajaran agama, tidak saja agama Kristen tetapi juga semua agama yang ada dan dikenal di dunia.

(Arius Kambu, Ekonomi Uncen)

Thursday, February 15, 2018

CATATAN UNTUK PEMIMPIN DI TANAH PAPUA



Zaman semakin terbuka dengan dorongan NEED yang teramat kuat sampai kita lupa sama mereka yang memberikan tanah garapan untuk pembangunan kantor-kantor pemerintahan dengan pelepasan tanah adat sampai penetapan keputusan lewat sertifikat tanah berarti sampi di situ urusan pemerintah dengan pemilik tanah. 

Fenomena itu mungkin harus kita dalami bersama bahwa pemilih tanah ini pasti memiliki generasi penerus yang sebenarnya harus di lihat dari kaca mata HAK HIDUP. Jika memakai kaca mata itu, maka kita semua hampir pasti menemukan jawaban yang sama bahwa mereka KORBAN PEMBANGUNAN yang seharusnya di perhatikan pemerintah daerah.

Bagaimana perhatian pemerintah daerah. analisis sementara arkam dijelaskan bahwa pemerintah daerah sudah sepatutnya membentuk sebuah unit terkecil (CSR) di bagian humas untuk menyiapkan segala aturan main serta menyediakan 0,1 persen APBD untuk memberdayakan mereka, agar kepastian HAK HIDUP mereka bisa berlanjut dari generasi ke generasi agar tidak ada yang menjadi korban dari pembangunan itu sendiri.

Dengan terbentuknya unit terkecil (CSR) di bagian humas, maka dinyakini persoalan-persoalan pemalangan sudah bisa teratasi karena mereka sudah tidak merasa sebagai korban pembangunan. selamat merenung....

Friday, October 27, 2017

PAPUA DAN GRATIFIKASI


SKRIP ARTIKEL

Daerah di seberang lautan tempat matahari pertama kali terbit, yang dalam catatan resmi ditulis Papua itu, merupakan satu nama yang tersimpan sejuta makna karena alamnya masih penuh misteri.

Suku bangsa Papua kurang lebih 252 orang yang penyebarannya meliputi wilayah pesisir pantai, rawa-rawa, lembah dan perbukitan yang masih hidup dalam jaringan sosial masing-masing.

Orang Asli Papua merupakan petani peramu dan petani ladang yang hidup dalam tradisi nomaden dan alam adalah ibu bagi mereka. Perjalanan pembangunan di Papua memiliki ekor panjang karena masah lalu masih merupakan satu sumber rujukan untuk melihat Papua tahun ini atau beberapa tahun kedepan.

Berbicara Papua melalui berbagai forum diskusi dan temu konsultasi antar pemerintah pusat dan daerah selalu saja dibahas pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur yang belum memberikan dampak sebanding dengan besarnya belanja pemerintah daerah.

Berbagai jurus telah dikeluarkan pemerintah daerah dalam membangun Papua, namun masih ada saja soal yang belum dijawab melalui program dengan baik atau dengan kata lain pemerintah daerah belum mampu menjelaskan misi dalam bentuk program kepada orang asli Papua.

Soal yang belum dijawab adalah rendahnya rasa keindonesiaan orang asli Papua keranana ada rasa ketidak puasan terhadap apa yang sudah dibuat pemerintah daerah yang merupakan perpanjangan tanggan dari pemerintah pusat.

Dengan semakin derasnya dana yang masuk tiap tahun ke pemerintah daerah belum mampu menyelesaikan persoalan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur karena hampir sebagian besar disumpangkan kekantong korupsi dan belanja konsumsi pemerintah daerah.

Lihat tema kita itu adalah Papua Dan Gratifikasi, atau dengan kata lain Papua Dan Hukum Indonesia, sebelum menyelam lebih dalam ada baiknya kita luangkan waktu untuk membaca kembali cerita nilai hidup arang asli Papua, disitu ada tersimpan satu nilai yaitu nilai kekerabatan yang dipelihara secara turun temurun sampai tahun ini adalah ucapan terima kasih yang tidak cukup disampaikan lewat kata-kata tetapi harus dalam bentuk benda berwujud atau dalam bentuk fisik.

Kebiasan memberi ucapan dalam bentuk fisik sudah melembaga dalam jaringan sosial orang asli Papua dan menjadi kebiasan yang melahirkan ucapan terima kasih yang tidak sekedar dengan kata-kata saja.

Angin perbaikan tatakelola pemerintahan saat ini, mulai memberikan ketidak nyamanan bagi orang asli Papua di bidang layanan publik karena setiap aktifitas yang dilakukan berkaitan dengan belanja publik tidak diperbolehkan untuk mencari dalam kegiatan-kegiatan tersebut karena ada penjaga yang diberi nama Gratifikasi.

Dalam perjalanan hidup sehari-hari orang papua sudah pasti tidak akan pernah lepas dari kegiatan saling berbagi atau saling memberi karena ada nilai keiklasan yang lahir tanpa paksaan.

Sementara tututan tata kelola pemerintahan yang akuntabel membuat nilai-nilai hidup orang asli papua berada pada dua pilihan tetap dilestarikan sebagai warisan generasi mendatang ataukah dihilangkan karena ada tuntutan pekerjaan saat ini. (@arkam)

Monday, October 23, 2017

HUBUNGAN DAN MASALAH MEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA DI LIHAT DARI ASPEK PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DI PAPUA



Berbicara Papua, kita selalu dan selalu menyoroti empat aspek yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur. Berbagai kebijakan sudah dilaksanakan secara optimal, namun masih ada saja soal yang belum terjawab dengan benar atau sengaja dilupakan untuk dilanjutkan tahun-tahun mendatang.

Sementara berbagai praktisi dan pengamat serta akademisi juga memberikan pendapat mereka tentang empat aspek utama yang di kejar pemerintah pusat yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur perkembangan belum menunjukan atau memberikan dampak yang berarti bagi masyarakat Papua.

Berbagai jurus telah diambil pemerintah pusat untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Papua, karena dengan ketersediaan infrastruktur dasar akan mempercapat kemandirian ekonomi orang asli Papua.

Semakin derasnya bantuan yang diberikan pemerintah pusat belum sepenuhnya menjamin rasa keindonesiaan orang asli papua, itu bisa diakui bahwa pemerintah memberikan bantuan semuanya hampir di sumbangkan ke kantong korupsi dan belanja konsumsi pemerintah pada level Provinsi, Kabupaten sampai pada tingkat distrik dan kampung. Sementara orang papua kelas paling kecil tidak sama sekali diberikan akses dalam menerima bantuan yang diberikan pemerintah.

Dallam berbagai kesempatan diskusi, sudah banyak yang memberikan formula dan resep yang paling ampuh untuk menjawab soal tentang lambatnya orang asli papua berlari karena masih rendahnya komitmen pemerintah daerah membangun sumber daya manusia orang asli Papua.

Berbicara tentang Sumber Daya Manusia Orang Asli papua berarti titik fokus pemerintah daerah adalah pendidikan dan kesehatan menjadi agenda utama pemerintahan di tingkat Kabupaten untuk memberikan prioritas utama pada dua faktor tersebut.

Banyaknya soal yang perlu dijawab bersama atau dijelaskan bersama, namun yang juga perlu sekali untuk dipahami adalah ditengah pergaulan dunia jangan sampai lupa, mengembangkan nilai-nilai leluhur budaya yang menjadi jati diri orang asli Papua.

Kelas sosial dibagi dalam beberapa bagian sebut saja, kelas atas, kelas menengah, kelas bawah dan kelas paling bawah, issu ini hanya memfokuskan diri pada kelas paling bawah yang sebenarnya paling banyak diberikan porsi untuk mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan dibandingkan dengan kelas bawah, menengah dan kelas atas. [arkam]

Tuesday, July 4, 2017

PENDIDIKAN KEPEMIMPINAN ENAM MENIT



Tahun ini, mari kita meluangkan waktu kurang lebih enam menit untuk melihat kembali kebelakang, sebagai peta jalan kita untuk bisa mendalami apa sebenarnya persoalan pada masing-masing daerah sewilayah Papua yang harus menjadi prioritas utama kita untuk mengambil keputusan menjual di tahun ini.

Masa lalu merupakan rujukan yang berarti untuk menata masa depan yang lebih berkeadilan, kita harus meluangkan waktu enam menit untuk membuat langkah-langkah kecil membangun strategi dengan mengerakan segala sumber daya yang kita miliki untuk mengempur habis-habisan membuat satu titik masuk membangun opini dan membangun brent ketokohan masing-masing dengan menawarkan jualan agar bisa laku terjual tahun ini.

Lihat-lihat masa berintegrasi dengan Indonesia sampai tahun ini, kita diajak untuk melihat kembali pada era masing-masing kepemimpinan itu yang menjelaskan kesukses kepemimpinan dalam ceritanya di era kesuksesan masing-masing.

Pendidikan kepemimpinan enam menit, dihadirkan sebagai bahan renungan untuk menyelesaikan soal-soal yang terlewatkan organisasi selama ini untuk menyediakan dana 1 % dari pendapatan organisasi untuk membangun program kepemimpinan dari masing-masing wilayah dimana kita memegang kalkulatornya.

Banyak teori kepemimpinan menjelaskan kepemimpinan adalah pengaruh, memberi contoh dan kewibawaan, selama perjalanan waktu definisi kepemimpinan yang dipelajari dari unsur pengaruh, membericontoh dan berwibawah yang dilihat, hampir sebagian besar dari kita melihat seseorang disebut pemimpin itu karena pendidikan yang ditamatkan, jabatan yang dipegang dan kemampuan keuangan, namun semua itu belum secara tepat mendeskripsikan arti pengaruh, memberikan contoh, berwibawah yang sebenarnya, pengaruh seorang pemimpin yang sebenarnya adalah setiap hari kita harus mampu menolong orang lain atau memberikan amal kepada orang yang tidak kita kenal.

Sampaikan-sampaikan sama semua teman-teman pemimpin yang lain bahwa kepemimpinan itu adalah memberikan bantuan kepada orang lain yang tidak kita kenal dan setiap hari harus menolong orang lain.

Pendidikan kepemimpinan enam menit ini juga sebagai bahan renungan tahun ini, kita lihat berapa jumlah rumah tangga miskin, berepa jumlah anak putus sekolah, berapa jumlah orang tua tidak bisa menulis dan membaca, berapa jumlah gizi buruk dan lain-lain.

Kepemimpinan yang paling terkecil adalah keluarga, kalau kita semua sepakat untuk membangun kualitas kepemimpinan di masa depan, maka tahun ini, kita harus menolong keluarga-keluarga kita yang masih terlilit dalam lingkaran di atas.

Lihat-lihat diary kita, sudahkah kita meluangkan waktu enam menit untuk membuat langkah-langkah kecil membangun strategi penyelamatan kepemimpinan yang sudah semakin gersang ini.

Soal ini semakin penting untuk dijawab kalau kita sepakat kepemimpinan terkecil adalah keluarga, maka tahun ini sediakan waktu enam menit untuk mendesain program untuk menolong orang lain yang bukan kita kenal dari rumah tangga mereka, karena dirumah tangga itu ada generasi emas dengan ketidak mampuan belanja membuat kualitas hidup mereka abu-abu di masa depan nanti.

Sekali lagi kepemimpinan bukan dilihat dari status pendidikan, jabatan dan kemampuan keuangan seseorang melainkan pengaruh kepemimpinan yang sebenarnya adalah dilihat dari berapa besar hasil yang kita peroleh setelah membantu menolong orang lain.

Setelah selesai membaca pendidikan kepemimpinan enam menit ini, kita diharapkan sudah bisa membuat langkah-langkah kecil dengan menyediakan waktu enam menit untuk merenungkan program-program apa yang akan dilakukan dalam rangka menyelamatkan keluarga-keluarga yang tidak kita kenal keluar dari jeratan ketidak mampuan belanja.

Ada begitu banyak generasi emas yang masa depan mereka abu-abu itu dengan menyiapkan dana sekitar 1 % dari belanja daerah atau organisasi untuk membangun program kepemimpinan tingkat pintu mata rumah atau tingkat kampung guna menyelamatkan generasi-generasi emas Papua di kemudian hari. @arkam.

Sunday, April 16, 2017

MIMIKA MASIH LIAR SEBAB MANUSIA BERUBAH KO WAJAH TIDAK BERUBAH


arkam.id, MIMIKA merupakan daerah pemekaran Kabupaten Fak Fak, perjalanan Jayapura ke Mimika makan waktu kurang lebih 46 menit lewat udara, sepanjang perjalanan saya dimanjakan dengan indahnya alam Papua penuh misteri membuat saya teringat kembali lagu suara kemiskinan yang disampaikan Edo dalam syair lagu ada sebuah katasebanyak batu dan sebanyak daun adalah harta harapan”.   

Perjalanan Jayapura Mimika saya ditemani segelas teh panas buatan tanggan manis pramugari Maskapai Plat Merah. Tiba di Mimika sekitar pulul 10.05 menit dan melanjutkan perjalanan menuju Hotel Grent Tembaga dalam perjalanan saya disuguhkan pemandangan yang cukup mengejutkan dan mungkin berbanding terbalik karena Mimika merupakan Daerah Otonom dengan PDB tertinggi yang bersumber dari tambang emas serta tembaga dari Freeport Papua.

Besarnya sumbangan yang diberikan tidak memiliki daya ungkin yang kuat alias tidak mengeliat dalam menata diri dan mempercantik diri seperti kota-kota pertambangan lainya di Indonesia. Sebelum ceritanya melebar sejauh hamparan limbah tailing….…Saya lupa satu hal yang lumayang menarik untuk diceritakan juga yaitu dalam perjalanan ke hotel ada demo yang dipusatkan di depan kantor Bank Papua merupakan kawasan yang menurut para pekerja social masuk dalam wilayah yang cukup strategis dalam menyampaikan pikiran-pikiran perubahan Mimika dengan mengusung tema “Pelanggaran HAM”. 

Potret sepanjang perjalanan ke hotel semakin memperkuat dugaan saya dalam membuat simpulan kecil yang munkin tak mungkin bisa dibenarkan adalah berbaris ruko di sisi kiri dan kanan jalan protokol Mimika semakin jelas menjelaskan bahwa pemain utama dalam sektor ekonomi Mimika adalah kawan-kawan dari Sulawesi dan sebagian Tionghoa sedangkan kawan-kawan jawa menguasai bisnis kuliner sementara kawan-kawan pribumi (anak negeri) sebagai penontoh pada sektor ini.   

Jam tidur malam mereka tak sama dengan jam tidur kami, jam bangun pagi mereka tidak sama dengan jam bangun pagi kami, pendidikan mereka tidak sama dengan pendidikan kami, kesehatan mereka tidak sama dengan kesehatan kami, pendapatan mereka tidak sama dengan pendapatan kami, fenomena itu yang membuat harus ada perubahan, perubahan itu butuh orang-orang mudah cerdas yang berani mengambil keputusan dengan program yang tepat pula. 

Hasil perjalanan singkat bisa juga dibuatkan kesimpulan bahwa CSR Freeport belum dikelola atau dimanfaatkan daerah dengan baik dalam menata Mimika agar menjadi kota kecil modern. Black Brothers bilang ada emas disana Tembagapura yang saya puja selalu, sampai era kekinian masih pantas untuk dipuja puji ataukah kita delete aje……jawabanya cukup dengan senyum aja….karena bukan untuk diperdebatan karena ceritanya seluas hamparan hutanya. Ribuan selonsong peluruh berserakan disana, gesekan-gesekan itu dipicu kepentingan bisnis dibandingkan perlindungan dan penguatan masyarakat sipil.

Soal-soal inilah yang menciptakan jurang yang semakin dalam rasa percaya diri suku-suku yang mendiami sekitar areal penambangan Freeport Papua. Pemain dalam bidang pertambangan resmi sampai yang tidak resmi dengan bekingan orang-orang kuat di negeri ini membuat konflik antar suku tetap terjadi karena kepentingan akan yang memiliki nilai tawar yang kuat ketimbang cerita di para-para adat (satu tungku dalam satu rumah adat). Hasil diskusi lepas dengan anak-anak negeri menjelaskan konflik itu muncul karena ada gesekan kepentingan lokal tujuh suku di areal penambangan tradisional. 

Gesekan-gesekan itu merupakan hal yang biasa terjadi pada masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh berbagai persoalan mulai dari kepentingan politik local, kepentingan ekonomi, persoalan muda-mudi dan lain-lain yang sebesarnya secara adat bisa diselesaikan melalui para-para adat, namun dengan adanya kepentingan para pihak situasi itu mulai dikelola sebagai sebuah gerakan yang melawan kedaulatan Indonesia, issu-issu ini lahir dari orang-orang cerdas yang mempunyai kepentingan ekonomi dengan Freeport Papua menciptakan issu konflik sebagai produk yang kalua dijual mendapat keuntungan ekonomi besar.

Mau cerita-ceta lanjut……tapi stop dulu saya cari alas dasar alias makan, untuk mendapatkan menu yang pas…ayo tanya resepsionis hotel gren tembaga dulu….siang mba….orang jawa apa bukan….jawab mba saya orang jawa…..pas banget mba…..klo orang jawa pasti tau rumah makan jawa timur….jawab mba tau pa……ada dekat lampuh merah tidak jauh kok pa…..jalan dari sini karena uda lapar tombak saya beranjak keluar dari hotel  di sepanjang perjalanan  saya menoleh kiri kanan mana rumah makannya …..jalan semakin dekat akhitnya saya temukan warung dengan nama putra lumajang. 

Baca nama warung langsung terbayang ketika studi di kota pahlawan Surabaya, ada seorang teman atau sebutan yang kren Mas Arisman, shi teman ini kebetulan pacarnya orang lumajang…..namanya mba Sri merupakan wanita lumajang yang dinal di kota pahlawan Surabaya…..sambil pesan makan aku tanya mas disini kalau malam aman apa tidak…….jawab mas…pa aman warung kami buka sampai jam 12 malam, maklum orang baru di Mimika. 

Mimika di malam hari bagaikan lilin, hal ini dapat dilihat pada sudut-sudut kota yang teramat gelap yang hanya diterangi warung kaki lima dengan produk lalapan menghiasi sudut-sudut kota ini dan tidak ada yang diistimewakan dari kota yang ada tambang tembaganya di sana tembagapura alias Freeport Papua masih sangat pelit membagikan sedikit saluran listriknya untuk menerangi kota ini.   

Kota Mimika tak seindah namamu karena tak mau berbenah atau kah ada pembiaran sistematis sejauh hamparan limbah buangan tailing atau semakin menumpuknya longsongan peluru di areal penambangan Freeport jawabnya cukup dengan senyum aja……jurang sosial ekonomi mereka pemilik negeri yang ada tambang tembaganya disana Mimika sudah semakin dalam hal ini bisa dibenarkan juga bahwa masih sedikit penelitian-penelitian sosial ekonomi bernilai lebih dalam hal sebagai rujukan pemerintah daerah dalam membuat program-program strategis yang benar-benar dilakukan dalam program pro rakyat. 

Penelitian-penelitian yang hamper ratusan semuanya penelitian-penelitian matematika dan ilmu pengetahuan alam yang sebagian besar dibiayai Freeport Papua dengan maksud agar hasil-hasil penelitian tersebut dapat memperkaya laboratorium ilmu pengetahuan amerika yang diperkirakan pada satu saat akan tercipta ilmu-ilmu  baru dibidang matematika dan ilmu pengetahuan alam atau ilmu dalam bidang kedokteran masih dugaan sementara. Sepengal cerita yang menarik di Mimika…

Aku berjumpa Pace Tua orang Amungme di rumah makan Putra Lumajang trus…Pace Tua detanya anak orang wamena atau nabire…saya jawab tidak Bapa saya orang Papua Barat, trus pace tua dia marah dan balik jawab jangan ikut republik dong pu aturan karena kita itu satu tanah papua….saya jawab trima kasih Pace Tua atas simpulannya……..sederhana dengan bahasa Indonesia ala kadar versi orang Papua yang memunculkan pertanyaan besar apakah rasa keindonesia orang papua semakin meningkat dengan pembagian petak-petak kebun baru alias pemekaran wilayah selama ini sudah mampu mengobati luka merek ataukah sakit mereka masih tetap ada….kita pasti melihat persoalan ini dengan memakai kaca mata yang berbeda itu wajar karena kita menumpang dikecurangan. 

Kita pasti tidak bersepakat bahwa “aku tak mau bersalah pada anak-anak cucu” benar-benar terjadi di negeri yang punya tambang temabaga disana Mimka mau tutup Freeport Papua syarat utama dan terutama kita harus kembali membuka buku sejarah Republik merebut Irian Barat yang cucuk rumit persoalannya…….kalo rumit persoalannya trus apa yang harus kita lakukan…..selamat merenung….longsongan peluru berserakan di areal penambangan Freeport Papua yang semakin memperdalam ruang-ruang soslal ekonomi masyarakat makin tertutup diwilayah leluhur mereka yang akan bermuara pada pola atau perilaku saling curiga terhadap semua orang yang sedang melintas diwilayah mereka adalah penjahat kemanusiaan.   

Program-program pengembangan ekonomi yang digagas Freeport lewat pemberian bantuan keuangan kepada tujuh suku selaku pemilik hak ulayat yang diharapkan peruntukannya untuk kegiatan ekonomi produktif masih belum memberikan efek yang berarti hal-hal tersebut bisa dilihat pada pasar tradisional Mimika pemain pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan nilai hidup orang asli Mimika adalah kawan-kawan dari luar Papua, sementara pemilik hak ulayat hanya sebagai pemakai produk.  

Cerita-cerita tambahan ketika diskusi kelas magister manajemen  kelas Mimika, saya memotret banyak persoalan yang dimunculkan berkaitan dengan sosial ekonomi masyarakat tujuh suku yang difasilitasi lembaga sosial masih terbatas demonstrasi produk yang dikembangkan berbasis potensi lokal Mimika, misalnya kepiting, udang, ikan bandeng kali, ternak babi, copi, kakao semua produk-produk lokal tersebut masih sebatas demontrasi pada tingkat petani atau ketika diikutkan pameran tingkat nasional bahkan internasional. 

Sementara itu kita coba bergeser untuk melihat program pengembangan yang dilakukan Freeport Papua sejauh ini belum memberikan manfaat misalnya sektor pertanian yang merupakan binaan Freeport sudah mampu menyediakan sayuran di dapur Freepot atau kebutuhan akan daging sudah mampu di sediakan peternak-peternak lokal.

Gambaran lain yang bisa membuat kita kagum adalah ketika melihat halaman website Freeport ditemukan program-program CSR yang dilakukan perusahaan sangat luar biasa bangusnya memberikan kontribusi pada ekonomi masyarakat  dan lingkungan, alaman itu menimbulkan pertanyaan apakah semua program Freeport Papua dibangun untuk masyarakat umum ataukah hanya untuk karyawan Freeport saja. Fenomena ini menjelaskan bahwa keberadaan Freeport tidak memberi kontribusi yang bermakna bagi masyarakat Mimika masih dugaan sementara pace dan mace…..trus mana cerita kamu…...  

PELABUHAN POMAKO. Pada masa administrasi pemerintahan Fak Fak pelabuhan ini merupakan tempat transit saudagar-saudagar dari wilayah maluku dan ternate sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Bade dan Merauke, pada masa itu penduduk asli mulai mengenal ilmu “BARTER” (tukar menukar barang dengan barang) etnis yang terkenal pada masa itu orang Kokonau sementara dua etnis yang lain masih menyendiri dibalik bukit karena persoalan akses. 

Setelah memekarkan diri pemerintahan dan keuangan sendiri pemerintahan tidak berjalan dengan maksimal karena persoalan tata kelola pemerintahan terbatas pada masih terbatasnya sumber daya manusia yang dimiliki serta system penjenjangan karir dan kadernisasi sama sekali tidak dilaksanakan, fenomena-fenomena itu yang menjadi gambatan untuk menemukan pemimpin di masa depan Mimika. 

Pada catatan ini kita bermain dengan logika tidak masuk akal sehat daerah yang ada tambangnya seharusnya lebih maju dari daerah tetangga  toh jauh tertinggal dari daerah atau wilayah tetangga dari sisi layanan publik, belanja modal masih sanggat rendah yang bisa dilihat dari akses masyarakat terhadap air bersih, jalan antar distrik, antar kampung masih sanggat susah.

Semakin dalamnya persoalan soslal ekonomi masyarakat Mimika yang sampai saat ini terpecahkan karena titik soalnya kita tidak lulus matakuliah etnografi Papua atau belum sama sekali membaca buku Etnografi Papua ataukah kita hidup dalam kepura-puraan sampai selalu memakai model atau metode pendekatan pemberdayaa masyarakat daerah lain yang dipaksakan untuk diterapkan di Mimika…….selamat merenung. 

EKONOMI MIMIKA ANAK TIRI YANG KESEPIAN. Masyarakat Mimika menatap dengan mata kosong dimana aku….apakah sudah ditelan limbah tailing….manusia berubah kelakuan tidak berubah ….ekonomi Mimika anak tiri yang kesepian….seperti gelapnya malam dan bisikan seorang pemabuk kepada pimpinan publik yang meremehkan pemabuk disini pilihan hidup kita berbeda karena hidup punya arti ….selamat menikmati…

Sepengal cerita yang lain saya temukan dirumah makan putra lumajang….saya mampir diwarung sambal memenasan lalap ayam namun tempat duduk sudah full dengan kawan-kawan jawa sampai tersisah satu tempat duduk ….setelah duduk mas warung datang menghampiri dan tanya pa minumnya apa ….mas teh hangat manis….singkat cerita terdengar suara kawan jawa yang memesan minuman memakai logatnya has Madura…..cerita ini memberi simpulan ada sebuah aturan main yang tidak bisa ditinggalkan orang Madura adalah culture maduranya, dimana bisnisnya dibesarkan bersama-sama…apa cerita kamu…

Kau patahkan semangatku tapi entah mengapa aku masih tetap mencintai mu Mimika…..berjanjilah untuk datang lihat aku yang datang dengan tatapan kosong terus cinta kamu Mimika lihat dan rasakan hati ku…….beningnya air dari gurung mestinya begitu hukum alam, namun putihnya sungai dari gunung mestinya tidak demikian hukum alam melainkan buangan limbah tailing bukan keingginan kami pemilik tanah dan alam ini….dimana rasa keadilan itu masih ada karena air, tanah dan alam itu milik marga dan tuhan yang dipinjam pakai pemerintah dan pemilik modal manusia berubah ko wajah susah berubah….masyarakat pemiliki menatap dengan mata kosong dimana aku apakah sudah ditelan limbah tailing atau tergusur kepentingan ngaur atau pemerintah sibuk berpolitik sampai lupa akan tugas utamanya.(by arkam).

Apa Pendapat Kamu.......

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...