arkam
Ada sesuatu yang selalu terasa misterius tentang intuisi manusia. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak memohon, namun ia selalu ada mengalir di antara jeda pikiran dan detak jantung. Aku sering lupa keberadaan suara halus itu, terutama ketika dunia luar bergerak terlalu cepat dan pikiranku dipenuhi kekhawatiran yang datang bertubi-tubi. Namun pada suatu titik, aku menyadari bahwa intuisi dalam diriku bukanlah sesuatu yang tersembunyi; ia hanya menunggu aku menyediakan ruang untuk mendengarnya. Dan ruang itu terbuka setiap kali aku mendengar satu kata sederhana: tenang.
Entah mengapa, kata tenang selalu mampu menyentuh inti diriku. Seolah-olah kata itu memiliki getaran tersendiri yang langsung berbicara kepada bagian terdalam yang tak pernah bohong: intuisi. Setiap kali kata itu muncul, tubuhku merespons tanpa perlu diperintah bahu menurun, napas memanjang, ketegangan perlahan mencair seperti es yang terkena matahari. Tubuhku seperti mengenali kata itu lebih cepat daripada pikiranku. Ia merespons bukan karena kebiasaan, tetapi karena kebenaran yang disampaikan kata itu selaras dengan apa yang dirasakannya.
Dari sinilah aku memahami bahwa intuisi tidak selalu muncul sebagai firasat besar atau tanda-tanda aneh yang harus ditafsirkan. Terkadang intuisi hadir dalam reaksi sederhana bagaimana tubuh secara otomatis menjadi rileks ketika mendengar kata tenang. Itu adalah pesan dari dalam: “Di sinilah kamu kembali pada dirimu. Di sinilah kamu bisa mendengar apa yang sebelumnya tertutup.”
Dalam ketenangan itu, aku mulai belajar mengenali diriku dengan lebih jujur. Aku bertanya: “Apa yang hatiku sebenarnya inginkan? Apa yang tubuhku coba katakan? Bagian mana dari diriku yang selama ini aku abaikan?”Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mendapat jawaban langsung, namun dalam suasana tenang, aku merasakan bahwa aku sedang berada di jalur yang benar. Intuisi bekerja tidak dengan logika tajam, tetapi dengan rasa yang lembut. Dan kata tenang menjadi pintu yang membawaku masuk ke wilayah itu.
Saat aku mulai memperhatikan reaksi tubuhku, aku menemukan bahwa tubuh adalah kompas yang sangat jujur. Ketika aku memaksakan diri melampaui batas, tubuh memberikan sinyal berupa ketegangan. Ketika aku mengambil keputusan yang tidak selaras dengan isi hati, dadaku terasa berat. Tetapi ketika aku mendengar kata tenang, seluruh sistem tubuhku seolah berkata, “Ini arah yang benar. Dengarkan ini. Ikuti ini.”
Itulah yang membuatku mulai menjadikan kata tenang sebagai bagian dari perjalanan motivasi personalku. Aku menyadari bahwa perubahan dalam hidup bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang kejelasan. Dan kejelasan muncul ketika pikiran tidak lagi keruh. Dalam keadaan tenang, motivasi tidak datang dari dorongan yang memaksa, tetapi dari intuisi yang membimbing: “Aku ingin berubah karena aku merasa itu benar.”
Setiap hari aku memberikan diriku momen singkat untuk kembali ke kata itu. Di tengah kesibukan, aku menarik napas dan membisikkan dalam hati: “Tenang… dengarkan dirimu.” Dalam hitungan detik, tubuhku merespons. Ketegangan berkurang. Ruang dalam batin terbuka. Dan dalam ruang itu muncul keinginan yang paling murni: keinginan untuk hidup lebih baik, lebih seimbang, lebih selaras dengan siapa diriku sebenarnya.
Kadang aku duduk sendiri dalam keheningan dan membiarkan kata tenang mengalir seperti sungai yang membersihkan segala keruh. Aku merasa seperti sedang berjumpa kembali dengan bagian diriku yang dulu hilang dalam keramaian dunia: bagian diri yang tahu ke mana harus melangkah, bagian diri yang tidak takut pada perubahan, bagian diri yang tidak membutuhkan validasi apa pun untuk merasa cukup.
Dari sinilah motivasi personal itu tumbuh. Bukan motivasi yang menggebu-gebu, tetapi motivasi yang dalam seperti akar yang merambat ke tanah dan memberi kekuatan dari dalam. Aku berkata pada diriku sendiri: “Aku ingin menjadi versi yang lebih baik karena itu selaras dengan jiwaku.” Dan tubuh mengangguk dalam diam, merespons kata tenang seolah berkata, “Aku siap. Mari kita mulai.”
Malam hari, ketika aku meletakkan kepala di bantal, aku mengulang kata itu untuk terakhir kalinya: tenang. Tubuhku langsung memahami pesan itu tanpa perlu dijelaskan. Otot-otot mengendur, pikiran mereda, dan intuisi kembali terdengar halus di latar hati. Dalam momen itu aku merasa kembali utuh bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang sadar. Sadar akan kehadirannya, perasaannya, kebutuhannya, dan jalan yang ingin diambil menuju masa depan.
Kini aku tahu bahwa intuisi bukan sesuatu yang harus dicari jauh keluar. Ia selalu ada di dalam. Dan kata tenang adalah cara sederhana untuk membuka pintu menuju dirinya. Karena tubuh yang rileks lebih mudah mendengar. Pikiran yang tenang lebih mudah memahami. Dan jiwa yang damai lebih mudah menerima arah yang benar.@arkam