arkam
Kedatangan Misi dan Perjumpaan Dua Dunia. Pada 5 Februari 1855, dua misionaris Protestan Jerman, Ottow dan Geissler, mendarat di Pulau Mansinam dengan dukungan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Mereka datang membawa “terang Injil” ke tanah yang mereka anggap “belum beradab.” Namun, catatan lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Doreri dan Wandamen sudah lama mengenal pedagang dan kekuasaan luar, terutama Tidore. Mereka telah mengenal besi, kain, dan bahasa Melayu sebelum misionaris tiba (Mansoben, 1995).
Dengan demikian, kedatangan misi bukanlah pertemuan pertama, melainkan pertemuan kedua, dalam arti pertemuan antara dua sistem pengetahuan: pengetahuan lokal Papua yang berbasis kosmologi leluhur dan pengetahuan Barat yang berbasis rasionalitas dan agama Kristen.
Peradaban sebagai Proyek Kolonial. Dalam kerangka poskolonial, kedatangan misi di Mansinam dapat dibaca sebagai bagian dari proyek kolonial Belanda untuk “menjinakkan” Papua. Pendidikan dan agama dijadikan instrumen kontrol sosial dan moral. Namun, seperti yang dikatakan Bhabha (1994), proyek kolonial selalu mengandung ambivalensi: meski berusaha mendominasi, ia juga membuka ruang bagi pembentukan makna baru oleh pihak terjajah.
Di Mansinam, masyarakat Doreri tidak hanya menerima Injil, tetapi juga menafsirkan ulangnya melalui bahasa dan simbol lokal. Figur Manarmakeri dalam mitologi Biak, misalnya, kemudian diidentikkan dengan “pembawa terang” seperti Yesus. Ini menunjukkan terjadinya proses hibridisasi teologis: Injil di-Papua-kan melalui tafsir lokal. Maka, Mansinam bukan hanya tempat penerimaan pasif, melainkan juga ruang negosiasi makna dan spiritualitas.@arkam
No comments:
Post a Comment