Monday, November 24, 2025

APA KAMU DENGAR-DENGARAN

arkam

Dengar-dengaran adalah fondasi pertama dari keadilan di Papua. Bukan sekadar mendengar kata-kata, tetapi memahami apa yang dikatakan tanah, hutan, sungai, dan masyarakat adat yang hidup menyatu dengan alam selama berabad-abad. Selama ini, terlalu banyak keputusan dibuat dari ruang ber-AC di kota, dan terlalu sedikit suara yang diambil dari dusun, dan hutan tempat identitas Papua dibentuk.

Namun mendengar tidak cukup. Catatan ini mengajak kita melihat bahwa mendengar secara pasif seringkali hanya menjadi formalitas dalam dokumen dan laporan proyek. Pemerintah, perusahaan, dan lembaga luar terlalu sering datang membawa agenda sendiri bertanya bukan untuk memahami, tetapi untuk memvalidasi keputusan yang sudah mereka buat. Di sinilah perbedaan antara sekadar mendengar dan benar-benar mendengarkan menemukan maknanya.

Pertanyaannya kemudian: siapa yang selama ini diredam? Jawabannya jelas masyarakat adat dan alam Papua sendiri. Suara mereka tenggelam dalam deru mesin alat berat, tenggelam di balik rapat-rapat yang tidak pernah mereka undang, tenggelam dalam proposal yang lebih sibuk mengejar anggaran daripada menyelamatkan hutan. Dengar-dengaran berarti mengangkat kembali suara yang selama ini tercekat oleh kebijakan dari luar.

Dan mendengarkan berarti memulihkan hubungan. Di sini transisi membawa kita ke inti spiritual dan ekologis. Masyarakat adat tidak melihat alam sebagai objek ekonomi, tetapi sebagai saudara tua. Hutan bukan aset; ia adalah ruang hidup. Sungai bukan sekadar air; ia adalah garis darah budaya. Ketika orang luar mengukur tanah dengan kalkulator, masyarakat adat mengukurnya dengan sejarah. Maka mendengarkan aspirasi mereka berarti mengembalikan rasa hormat pada tanah yang selama ini dianggap sebagai komoditas.

Akhirnya, kita tiba pada kesadaran paling penting: Dengar-dengaran adalah jalan bagi Papua untuk menentukan masa depannya sendiri. Tanpa mendengar aspirasi masyarakat adat, kebijakan hanya akan menjadi intervensi kosong. Tanpa mendengar jeritan alam yang rusak, pembangunan hanya akan mempercepat kehancuran. Karena itu, mendengarkan bukanlah kelemahan itu adalah tindakan politik paling kuat untuk memastikan bahwa Papua tetap menjadi tanah yang hidup, bukan tanah yang dieksploitasi.

Pada akhirnya, mendengar aspirasi masyarakat adat dan alam Papua adalah komitmen moral. Komitmen untuk menghormati sejarah. Komitmen untuk menyelamatkan lingkungan dan komitmen untuk memastikan bahwa Papua dibangun dari suara yang paling berhak berbicara bukan dari kepentingan yang paling besar.@arkam

No comments:

Post a Comment

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...