arkam
Namun, di tengah semua kegagalan itu, ada peluang besar untuk membalik keadaan dengan syarat kita berani meninggalkan plagiarisme ekonomi dan mulai membangun model Papua yang benar-benar lahir dari identitas, ruang hidup, dan kearifan lokal.
Bagaimana caranya?
Pertama, pembangunan harus dimulai dari desa adat, bukan dari pusat pemerintahan. Ekonomi kampung pertanian sagu, perikanan tradisional, hutan adat, koperasi mama-mama adalah basis yang terbukti bertahan selama ribuan tahun. Jika desa kuat, Papua kuat.
Kedua, setiap proyek besar harus tunduk pada mekanisme Free, Prior and Informed Consent (FPIC). Tanah adat tidak boleh diputuskan di ruang rapat, tetapi melalui dialog adat, musyawarah kampung, dan kesepakatan yang jujur.
Ketiga, tenaga kerja lokal harus menjadi tulang punggung, bukan pelengkap. Untuk itu, pendidikan vokasi, pelatihan teknis, dan program sertifikasi industri harus dibiayai langsung dari Otsus, agar kawasan seperti KEK Sorong tidak menjadi “pulau industri asing” di atas tanah Papua.
Keempat, nilai tambah harus tinggal di Papua. Industri pengolahan lokal, koperasi pengumpul hasil alam, hingga perusahaan berbasis kampung harus menjadi prioritas. Jangan lagi Papua hanya mengekspor bahan mentah dan mengimpor kemiskinan.
Kelima, lingkungan harus menjadi pusat pembangunan, bukan korban. Karena hutan, laut, dan sungai bukan hanya aset ekonomi mereka adalah bagian dari identitas dan spiritualitas Orang Papua.
Jika langkah-langkah ini dijalankan, maka pembangunan Papua akan berhenti menjadi tiruan, dan berubah menjadi sesuatu yang otentik sesuatu yang tumbuh dari tanahnya sendiri.@arkam
Namun, di tengah semua kegagalan itu, ada peluang besar untuk membalik keadaan dengan syarat kita berani meninggalkan plagiarisme ekonomi dan mulai membangun model Papua yang benar-benar lahir dari identitas, ruang hidup, dan kearifan lokal.
Bagaimana caranya?
Pertama, pembangunan harus dimulai dari desa adat, bukan dari pusat pemerintahan. Ekonomi kampung pertanian sagu, perikanan tradisional, hutan adat, koperasi mama-mama adalah basis yang terbukti bertahan selama ribuan tahun. Jika desa kuat, Papua kuat.
Kedua, setiap proyek besar harus tunduk pada mekanisme Free, Prior and Informed Consent (FPIC). Tanah adat tidak boleh diputuskan di ruang rapat, tetapi melalui dialog adat, musyawarah kampung, dan kesepakatan yang jujur.
Ketiga, tenaga kerja lokal harus menjadi tulang punggung, bukan pelengkap. Untuk itu, pendidikan vokasi, pelatihan teknis, dan program sertifikasi industri harus dibiayai langsung dari Otsus, agar kawasan seperti KEK Sorong tidak menjadi “pulau industri asing” di atas tanah Papua.
Keempat, nilai tambah harus tinggal di Papua. Industri pengolahan lokal, koperasi pengumpul hasil alam, hingga perusahaan berbasis kampung harus menjadi prioritas. Jangan lagi Papua hanya mengekspor bahan mentah dan mengimpor kemiskinan.
Kelima, lingkungan harus menjadi pusat pembangunan, bukan korban. Karena hutan, laut, dan sungai bukan hanya aset ekonomi mereka adalah bagian dari identitas dan spiritualitas Orang Papua.
Jika langkah-langkah ini dijalankan, maka pembangunan Papua akan berhenti menjadi tiruan, dan berubah menjadi sesuatu yang otentik sesuatu yang tumbuh dari tanahnya sendiri.@arkam
No comments:
Post a Comment