arkam
Di Bawah langit negeri sejuta rawa ada terkait sejuta harapan yang tersangkut dan mengakar. Manusianya terpencar-pencar pada zona ekologinya masing-masing dan dipersatukan sungai serta manusianya hidup dengan kemelekatan pada rawa dan semak belukar yang memerankan fungsi masing-masing seperti beberapa wilayah di Papua umumnya.
Hutan rawa memainkan peran dan fungsinya yang besar dalam mempengaruhi perilaku mereka, disamping itu hutan sebagai rumah doa dan sumber pangan mereka. Bergeser lebih dalam lagi dengan memulung serpihan-serpihan bincang-bincang lepas tentang surga tersembunyi yang dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Dibawah langit negeri sejuta rawa, aku terus mencari sepotong-sepotong cerita yang tercecer dan terkail pada beberapa bukit yang mewakili energi maskulin dan rawa yang mewakili energi feminim yang saling berpelukan dan memberi pesan tentang sepasang putra dan putri yang sedang memadu kasih.
Nasib manusianya tak sebahagia lukisan alamnya, mereka butuh penjelasan lain dari masalah hidup yang tidak mampu dijelaskan oleh generasi pemimpin daerah dan praktisi agar tidak menjadi cerita takhayul di tengah-tengah masyarakat. Mereka butuh penjelasan atas fenomena atau masalah mendasar yang membuat rapuh rasa cinta dan bangga tanah kelahirannya.
Mereka punya harapan kuat untuk melihat keadilan itu hadir sampai di piring diatas meja makan dan punya mimpi yang sama mendengar selamat pagi Indonesia pada saluran dan frekuensi gelombang radio dan TV yang sama seperti teman-teman lain yang nun jauh di seberang lautan.
Dalamnya rawa tak sedikitpun menenggelamkan harapan, mereka menaruh hidup dan kehidupan di hutan rawa sebagai ibu dan sungai sebagai ayah, dimana hutan dan sungai berpelukan erat dan memainkan fungsi sebagai rumah doa serta tabungan pangan. Sementara itu, mereka juga punya cerita yang sama tentang ketuhanan, tapi kenapa jendela kesempatan belum juga terbuka untuk mereka.
Apakah mereka sengaja dibiarkan membangun masa depan diatas tanah rawa yang berlumpur dan sewaktu-waktu terhantam oleh sentuhan manusia bermental eksploitasi yang melakukan penjarahan atas nama percepatan pembangunan.
Distribusi keadilan terkait pada kepentingan membuat masyarakat menghadapi masalah dalam memutar TV pada saluran merah putih dan mendengar pemerintah hadir melalui layanan dasar (pendidikan, kesehatan, ekonomi). @arkam
Di Bawah langit negeri sejuta rawa ada terkait sejuta harapan yang tersangkut dan mengakar. Manusianya terpencar-pencar pada zona ekologinya masing-masing dan dipersatukan sungai serta manusianya hidup dengan kemelekatan pada rawa dan semak belukar yang memerankan fungsi masing-masing seperti beberapa wilayah di Papua umumnya.
Hutan rawa memainkan peran dan fungsinya yang besar dalam mempengaruhi perilaku mereka, disamping itu hutan sebagai rumah doa dan sumber pangan mereka. Bergeser lebih dalam lagi dengan memulung serpihan-serpihan bincang-bincang lepas tentang surga tersembunyi yang dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Dibawah langit negeri sejuta rawa, aku terus mencari sepotong-sepotong cerita yang tercecer dan terkail pada beberapa bukit yang mewakili energi maskulin dan rawa yang mewakili energi feminim yang saling berpelukan dan memberi pesan tentang sepasang putra dan putri yang sedang memadu kasih.
Nasib manusianya tak sebahagia lukisan alamnya, mereka butuh penjelasan lain dari masalah hidup yang tidak mampu dijelaskan oleh generasi pemimpin daerah dan praktisi agar tidak menjadi cerita takhayul di tengah-tengah masyarakat. Mereka butuh penjelasan atas fenomena atau masalah mendasar yang membuat rapuh rasa cinta dan bangga tanah kelahirannya.
Mereka punya harapan kuat untuk melihat keadilan itu hadir sampai di piring diatas meja makan dan punya mimpi yang sama mendengar selamat pagi Indonesia pada saluran dan frekuensi gelombang radio dan TV yang sama seperti teman-teman lain yang nun jauh di seberang lautan.
Dalamnya rawa tak sedikitpun menenggelamkan harapan, mereka menaruh hidup dan kehidupan di hutan rawa sebagai ibu dan sungai sebagai ayah, dimana hutan dan sungai berpelukan erat dan memainkan fungsi sebagai rumah doa serta tabungan pangan. Sementara itu, mereka juga punya cerita yang sama tentang ketuhanan, tapi kenapa jendela kesempatan belum juga terbuka untuk mereka.
Apakah mereka sengaja dibiarkan membangun masa depan diatas tanah rawa yang berlumpur dan sewaktu-waktu terhantam oleh sentuhan manusia bermental eksploitasi yang melakukan penjarahan atas nama percepatan pembangunan.
Distribusi keadilan terkait pada kepentingan membuat masyarakat menghadapi masalah dalam memutar TV pada saluran merah putih dan mendengar pemerintah hadir melalui layanan dasar (pendidikan, kesehatan, ekonomi). @arkam
No comments:
Post a Comment