arkam
Dalam wacana pembangunan Papua selama lebih dari dua dekade terakhir, ada satu pola yang terus muncul berulang-ulang pola yang tampaknya modern dan menjanjikan, namun justru menyimpan ironi mendalam.
Pola itu adalah kecenderungan menggunakan model pembangunan dari luar Papua, menyalinnya begitu saja tanpa memahami konteks sosial, budaya, dan ekologis yang membentuk kehidupan masyarakat di Tanah Papua.
Fenomena inilah yang saya sebut sebagai plagiarisme ekonomi: sebuah praktik meniru model pembangunan yang dianggap “berhasil” di tempat lain, tetapi gagal karena tidak mengakar pada tanah dan manusia Papua.
Istilah “plagiarisme” mungkin jarang terdengar, tetapi ia menggambarkan kenyataan yang sering luput dari pembahasan formal. Para perencana pembangunan dan pemimpin daerah kerap membayangkan bahwa Papua akan maju bila mengikuti jejak Batam, Surabaya, Balikpapan, atau kawasan industri di Jawa Barat.
Namun, pengandaian itu tidak pernah sungguh-sungguh diuji. Padahal, masyarakat Papua hidup dalam ekologi yang berbeda, struktur sosial yang unik, dan sejarah politik yang panjang, penuh luka dan ketidakpercayaan. Menyalin sebuah model laksana menempelkan cetak biru kota industri ke hutan rimba, berharap ia tumbuh tanpa melihat akar yang ia injak.
Dan karena plagiarisme ekonomi itu dilakukan secara rutin sadar atau tidak ia membentuk pola pembangunan yang retak di permukaan namun rapuh di pondasi. Di sinilah persoalan dimulai, dan dampaknya mengalir hingga jauh ke dalam kehidupan masyarakat adat.@arkam
Dalam wacana pembangunan Papua selama lebih dari dua dekade terakhir, ada satu pola yang terus muncul berulang-ulang pola yang tampaknya modern dan menjanjikan, namun justru menyimpan ironi mendalam.
Pola itu adalah kecenderungan menggunakan model pembangunan dari luar Papua, menyalinnya begitu saja tanpa memahami konteks sosial, budaya, dan ekologis yang membentuk kehidupan masyarakat di Tanah Papua.
Fenomena inilah yang saya sebut sebagai plagiarisme ekonomi: sebuah praktik meniru model pembangunan yang dianggap “berhasil” di tempat lain, tetapi gagal karena tidak mengakar pada tanah dan manusia Papua.
Istilah “plagiarisme” mungkin jarang terdengar, tetapi ia menggambarkan kenyataan yang sering luput dari pembahasan formal. Para perencana pembangunan dan pemimpin daerah kerap membayangkan bahwa Papua akan maju bila mengikuti jejak Batam, Surabaya, Balikpapan, atau kawasan industri di Jawa Barat.
Namun, pengandaian itu tidak pernah sungguh-sungguh diuji. Padahal, masyarakat Papua hidup dalam ekologi yang berbeda, struktur sosial yang unik, dan sejarah politik yang panjang, penuh luka dan ketidakpercayaan. Menyalin sebuah model laksana menempelkan cetak biru kota industri ke hutan rimba, berharap ia tumbuh tanpa melihat akar yang ia injak.
Dan karena plagiarisme ekonomi itu dilakukan secara rutin sadar atau tidak ia membentuk pola pembangunan yang retak di permukaan namun rapuh di pondasi. Di sinilah persoalan dimulai, dan dampaknya mengalir hingga jauh ke dalam kehidupan masyarakat adat.@arkam
No comments:
Post a Comment