Monday, November 24, 2025

EKONOMI YANG TAK PERNAH LAHIR DI TANAH PAPUA

arkam

Di tanah yang dilukis matahari pagi dengan warna emas, di mana sungai-sungai mengalir seperti urat nadi bumi, Papua selalu menyimpan janin masa depan yang tak pernah benar-benar diberi kesempatan lahir. Di lereng-lereng yang dipagari kabut, di padang rumput yang menanti langkah, di kampung-kampung yang dengannya angin bercerita, ekonomi adalah bayi yang dikandung waktu, namun tak pernah disambut dengan pelepah sagu dan tarian bahagia. Ia tumbuh sebagai kemungkinan yang patah, sebagai harapan yang dirawat dalam diam, sebagai masa depan yang diselipkan di bawah tikar pandan, menunggu tangan sejarah yang tak pernah datang.

Orang Papua berjalan menyusuri jejak leluhur dengan tombak, dengan manik-manik, dengan lagu yang mengiringi bebatuan. Mereka tidak miskin; mereka cukup. Mereka tidak kaya; mereka penuh. Mereka hidup dengan logika kelimpahan yang ditulis oleh alam sendiri. Gunung memberi garam dari batu, hutan memberi daging dari rusa, sungai memberi rumah bagi ikan dan cerita. Namun suatu hari, sebuah dunia baru datang dari laut: dunia yang bicara tentang angka, uang, pasar, dan kemajuan bahasa yang tidak pernah diajarkan oleh bintang-bintang di atas kepala.

Ketika kolonial datang, mereka melihat tanah Papua bukan sebagai tambang emas atau kebun cengkeh, bukan pula sebagai ladang kopi yang menunggu dipetik. Mereka hanya melihat sebuah ruang sunyi yang terlalu jauh untuk dijadikan pusat ambisi, terlalu asing untuk dijadikan mesin kekayaan. Tanah Papua bukan lahan yang digarap ia disisakan. bukan untuk dijaga, tapi untuk dibiarkan. Sebuah pulau yang ditandai di peta kekuasaan, namun tidak pernah digenggam oleh keseriusan pembangunan.

Lalu gereja datang sebagai cahaya pertama dengan Firman, bukan dengan alat tani; dengan buku, bukan dengan cangkul; dengan doa, bukan dengan pabrik. Gereja mengajarkan damai, tapi tidak membangun pasar. Gereja mengajarkan cinta, tapi tidak membangun sarang perdagangan. Di sekolah-sekolah misi, anak-anak Papua belajar membaca kitab langit, tetapi tidak belajar menggambar peta ekonomi bumi. Mereka menjadi guru, bukan petani besar; mereka menjadi penginjil, bukan pengusaha; mereka menjadi penjaga moral, bukan penggerak pasar. Dan di balik semua itu, kolonial mengangguk, puas, karena ketertiban telah hadir tanpa perlu keringat investasi.

Di antara derik jangkrik malam, ekonomi Papua menjadi cerita yang tidak pernah selesai ditulis. Ia seperti benih yang jatuh di tanah tetapi tidak pernah disiram; seperti perahu yang dibangun tanpa layar; seperti rumah yang tiangnya ditanam namun dindingnya tak kunjung dibangun. Ekonomi Papua adalah harmoni yang dipetik tanpa melodi.

Ketika Indonesia masuk membawa bendera baru, tanah Papua sudah berdiri seperti seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah ekonomi. Tidak ada pasar yang matang, tidak ada jaringan dagang, tidak ada kelas wirausaha yang tumbuh dari kampung. Tidak ada pondasi, tidak ada rangka, tidak ada warisan keterampilan untuk membangun masa depan. Pembangunan datang seperti hujan badai yang mengguyur ladang yang belum diolah. Jalan dibangun sebelum orang mengenal roda perdagangan. Kantor didirikan sebelum masyarakat memahami logika industri. Gedung-gedung tinggi muncul seperti pohon asing yang tumbuh tanpa akar.

Ekonomi Papua menjadi anak yang dibanjiri hadiah, tetapi tidak pernah diajari cara menggunakannya.

Pendatang datang membawa kapal, membawa logistik, membawa ilmu pasar yang tidak pernah diajarkan di sekolah misi. Di pasar-pasar Timika, Wamena, Nabire, Serui, Sorong, dan Merauke, orang Papua berdiri di pinggir, melihat dunia ekonomi berputar seperti roda yang tidak mengajak mereka naik. Mereka menjadi penonton dalam perhelatan yang berlangsung di halaman rumah mereka sendiri.

Sementara itu, hutan tetap bernapas, gunung tetap tegak, dan sungai tetap mengalir menyimpan kesedihan yang tidak pernah diucapkan. Alam Papua, yang begitu kaya, berdiri sebagai saksi bahwa kekayaan tidak selalu melahirkan kesejahteraan. Kekayaan tanpa pendidikan ekonomi hanyalah emas yang terkubur.

Dan kini, di abad modern ini, anak Papua yang duduk di bangku sekolah sering bertanya:

"Di mana ekonomi kami? Mengapa ia tidak tumbuh bersama langkah kami?"

Jawabannya tersembunyi dalam sejarah panjang pengabaian.

Ekonomi Papua tidak pernah mati karena ia tidak pernah lahir.

Ia adalah ide yang digantung di udara, selama bertahun-tahun dibiarkan mengambang tanpa tubuh, tanpa tangan, tanpa kaki untuk berjalan.

Namun, di balik getir itu, ada satu hal yang tetap hidup: daya imajinasi. Orang Papua mulai belajar menyusuri kembali akar mereka bertanya pada leluhur, pada sungai, pada tanah. Mereka mulai melihat bahwa ekonomi tidak harus lahir dari pabrik besar; ia dapat tumbuh dari kebun sagu, dari laut yang luas, dari petuanan adat, dari kreativitas muda-mudi, dari tangan-tangan yang menenun tas noken yang kini dibawa ke kota-kota besar dunia.

Ekonomi Papua memang terlambat lahir, tetapi kelahirannya bukan mustahil. Ia hanyalah bayi yang menunggu bidan yang tepat: pendidikan yang memberdayakan, kebijakan yang adil, dan keberanian untuk membangun dari akar sendiri.

Pada akhirnya, tanah Papua berbisik melalui hutan dan anginnya:

"Kami bukan tanah yang miskin. Kami hanya tanah yang terlalu lama ditinggalkan."

Dan di balik bisikan itu, tersimpan harapan bahwa suatu hari, ekonomi Papua tidak lagi menjadi cerita yang tak pernah dimulai, tetapi menjadi lagu yang dinyanyikan bersama: lagu tentang kelahiran yang akhirnya tiba, tentang masa depan yang akhirnya menemukan jalannya.@arkam

No comments:

Post a Comment

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...