arkam
Setia bekerja untuk tanah Papua bukan sekadar semboyan moral, tetapi sebuah sikap keberpihakan yang lahir dari kesadaran sejarah. Terlalu lama tanah ini menjadi panggung bagi proyek-proyek besar yang datang dari luar menguasai ruang, mengambil hasil, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak keberlanjutan. Karena itu, kesetiaan hari ini menuntut lebih dari sekadar hadir; ia menuntut keberanian untuk memilih siapa yang sebenarnya kita layani.
Namun kesetiaan tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari kemampuan melihat bahwa Papua bukan tanah kosong yang menunggu dibangun, melainkan rumah bagi pengetahuan lokal, adat, dan komunitas yang memiliki arah serta cara hidupnya sendiri. Ketika pekerja, pejabat, akademisi, atau aktivis hanya mengejar proyek luar, mereka tanpa sadar menggeser suara masyarakat asli ke pinggir meja keputusan. Pada titik ini, memilih bekerja untuk Papua berarti mengembalikan suara itu ke tempat yang semestinya: di pusat kebijakan.
Maka, siapa yang diuntungkan? Jika program dan kebijakan hanya menjadi daftar kegiatan yang dibiayai anggaran pusat tanpa mendengar aspirasi masyarakat, maka Papua hanya menjadi lokasi, bukan subjek pembangunan. Padahal, kehormatan seorang pekerja publik apapun jabatannya diukur dari keberanian menolak pendekatan yang hanya mengejar laporan, bukan perubahan nyata.
Di sinilah makna “setia” menemukan bentuk paling konkret. Setia berarti memikirkan dampak jangka panjang, bukan sekadar mengeksekusi proyek cepat yang memuaskan pihak luar. Setia berarti membangun kapasitas orang Papua, bukan hanya mengundang konsultan dari luar. Setia berarti menyalakan cahaya dari dalam, bukan menunggu lampu yang dibawa orang lain.
Dan akhirnya, Papua membutuhkan pekerja yang berakar, bukan sekadar singgah. Mereka yang mengerti bahwa tanah ini tidak butuh pendekatan karbitan, melainkan komitmen jangka panjang. Mereka yang berani memastikan bahwa setiap program, riset, renovasi, atau pembangunan harus memperkuat martabat masyarakat, bukan sekadar menambah portofolio proyek.
Karena pada akhirnya, bekerja untuk tanah Papua bukanlah slogan. Itu adalah pilihan etis. Itu adalah kompas moral dan itu adalah janji bahwa kita tidak akan menjadi bagian dari arus yang menjadikan Papua sekadar destinasi proyek, melainkan rumah yang kita rawat, bela, dan bangun bersama.@arkam
Setia bekerja untuk tanah Papua bukan sekadar semboyan moral, tetapi sebuah sikap keberpihakan yang lahir dari kesadaran sejarah. Terlalu lama tanah ini menjadi panggung bagi proyek-proyek besar yang datang dari luar menguasai ruang, mengambil hasil, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak keberlanjutan. Karena itu, kesetiaan hari ini menuntut lebih dari sekadar hadir; ia menuntut keberanian untuk memilih siapa yang sebenarnya kita layani.
Namun kesetiaan tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari kemampuan melihat bahwa Papua bukan tanah kosong yang menunggu dibangun, melainkan rumah bagi pengetahuan lokal, adat, dan komunitas yang memiliki arah serta cara hidupnya sendiri. Ketika pekerja, pejabat, akademisi, atau aktivis hanya mengejar proyek luar, mereka tanpa sadar menggeser suara masyarakat asli ke pinggir meja keputusan. Pada titik ini, memilih bekerja untuk Papua berarti mengembalikan suara itu ke tempat yang semestinya: di pusat kebijakan.
Maka, siapa yang diuntungkan? Jika program dan kebijakan hanya menjadi daftar kegiatan yang dibiayai anggaran pusat tanpa mendengar aspirasi masyarakat, maka Papua hanya menjadi lokasi, bukan subjek pembangunan. Padahal, kehormatan seorang pekerja publik apapun jabatannya diukur dari keberanian menolak pendekatan yang hanya mengejar laporan, bukan perubahan nyata.
Di sinilah makna “setia” menemukan bentuk paling konkret. Setia berarti memikirkan dampak jangka panjang, bukan sekadar mengeksekusi proyek cepat yang memuaskan pihak luar. Setia berarti membangun kapasitas orang Papua, bukan hanya mengundang konsultan dari luar. Setia berarti menyalakan cahaya dari dalam, bukan menunggu lampu yang dibawa orang lain.
Dan akhirnya, Papua membutuhkan pekerja yang berakar, bukan sekadar singgah. Mereka yang mengerti bahwa tanah ini tidak butuh pendekatan karbitan, melainkan komitmen jangka panjang. Mereka yang berani memastikan bahwa setiap program, riset, renovasi, atau pembangunan harus memperkuat martabat masyarakat, bukan sekadar menambah portofolio proyek.
Karena pada akhirnya, bekerja untuk tanah Papua bukanlah slogan. Itu adalah pilihan etis. Itu adalah kompas moral dan itu adalah janji bahwa kita tidak akan menjadi bagian dari arus yang menjadikan Papua sekadar destinasi proyek, melainkan rumah yang kita rawat, bela, dan bangun bersama.@arkam
No comments:
Post a Comment