Monday, December 1, 2025

Merauke Undercover


arkam

Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang menutup sebuah dunia lain yang berdenyut di bawahnya. Dunia yang tidak difoto turis, tidak ditulis di brosur, dan tidak terlihat di balik senyum sopan masyarakatnya.

Di tanah Marind, Sungai Maro bukan sekadar aliran air. Ia adalah pembuluh nadi, tempat roh dan takdir berjalan berdampingan. Tapi bahkan sungai yang suci itu kini seakan menyimpan arus gelap yang tidak lagi jinak. Ada bisikan samar setiap kali angin menyentuh permukaannya seakan sungai sedang menyimpan rahasia berat tentang kota ini, rahasia yang tidak pernah mau diucapkan manusia.

Saat malam turun, Merauke berubah. Bukan lagi kota tenang di batas timur. Melainkan arena yang dihuni bayang-bayang.

Jalanan yang di siang hari tampak damai, di malam hari menjadi lorong yang menelan langkah kaki. Setiap tikungan mengandung kemungkinan: suara pecahan botol, teriakan, atau tubuh yang jatuh tersungkur. Orang-orang berjalan cepat, menunduk, menghindari tatapan. Mereka tahu terlalu baik bahwa malam di Merauke bukan hanya gelap tapi juga lapar.

Dan di balik semua kegaduhan itu, ada satu biang keladi yang menggila: miras.
Cairan bening yang tak mengenal belas kasihan.
Ia merayap masuk ke pesta kecil, ke sudut-sudut warung, ke tangan para pemuda yang kehilangan arah. Masuk pelan, menghancurkan cepat.

Dalam mabuknya, banyak orang kehilangan dirinya sendiri, seolah tubuh mereka diambil alih oleh sesuatu yang lebih gelap, lebih liar. Malam Merauke mencatat terlalu banyak kisah yang seharusnya tidak pernah terjadi. Pisau yang dihunus tanpa pikiran. Pukulan yang menghapus persahabatan. Langkah kaki tergesa yang berakhir di tanah basah oleh darah.

Aparat bergerak. Menyisir lorong-lorong. Menangkap pedagang gelap yang muncul seperti bayangan tanpa ujung. Botol-botol dihancurkan, tetapi suara retakannya seperti musik yang tidak pernah berhenti karena selalu ada botol baru yang muncul keesokan hari.
Penindakan dilakukan, serpihan-serpihan harapan diangkat, tetapi Merauke sedang bertarung melawan monster yang tidak punya tubuh.

Ia tidak bisa dipenjara.
Ia tidak bisa ditembak.
Ia hidup dari luka, kemiskinan, frustrasi, dan keputusasaan.

Merauke Undercover adalah kota yang setiap malam seperti menarik napas panjang nafas yang berat, penuh beban. Kota yang mencoba berdiri sambil dipukul dari dalam. Kota yang tidak pernah benar-benar tidur, justru semakin terjaga ketika gelap datang, seakan gelap memang habitatnya.

Tetapi di tengah semua kehancuran itu, ada suara kecil yang tidak mau padam.
Suara manusia-manusia Marind yang masih menjaga nilai lama mereka, yang masih memegang erat identitasnya, yang masih percaya bahwa tanah dan sungai ini punya kekuatan lebih besar dari semua kegelapan yang datang.

Dan mungkin, hanya mungkin… Merauke masih bisa diselamatkan.

Selama masih ada yang berani melihat kebenaran tanpa menutup mata.
Selama masih ada yang berani menyebut nama kegelapan itu dengan jujur.
Selama cerita gelap ini tetap diceritakan.Inilah Merauke yang tak terlihat. Yang hidup dalam bayang-bayang. Yang hitam, yang muram, yang keras. Yang membuatmu berpikir dua kali sebelum menyebut kota ini hanya sebagai “kota rusa, ujung timur indonesia”.

Sunday, November 30, 2025

INTUISI

arkam
 
Ada sesuatu yang selalu terasa misterius tentang intuisi manusia. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak memohon, namun ia selalu ada mengalir di antara jeda pikiran dan detak jantung. Aku sering lupa keberadaan suara halus itu, terutama ketika dunia luar bergerak terlalu cepat dan pikiranku dipenuhi kekhawatiran yang datang bertubi-tubi. Namun pada suatu titik, aku menyadari bahwa intuisi dalam diriku bukanlah sesuatu yang tersembunyi; ia hanya menunggu aku menyediakan ruang untuk mendengarnya. Dan ruang itu terbuka setiap kali aku mendengar satu kata sederhana: tenang.
 
Entah mengapa, kata tenang selalu mampu menyentuh inti diriku. Seolah-olah kata itu memiliki getaran tersendiri yang langsung berbicara kepada bagian terdalam yang tak pernah bohong: intuisi. Setiap kali kata itu muncul, tubuhku merespons tanpa perlu diperintah bahu menurun, napas memanjang, ketegangan perlahan mencair seperti es yang terkena matahari. Tubuhku seperti mengenali kata itu lebih cepat daripada pikiranku. Ia merespons bukan karena kebiasaan, tetapi karena kebenaran yang disampaikan kata itu selaras dengan apa yang dirasakannya.
 
Dari sinilah aku memahami bahwa intuisi tidak selalu muncul sebagai firasat besar atau tanda-tanda aneh yang harus ditafsirkan. Terkadang intuisi hadir dalam reaksi sederhana bagaimana tubuh secara otomatis menjadi rileks ketika mendengar kata tenang. Itu adalah pesan dari dalam: “Di sinilah kamu kembali pada dirimu. Di sinilah kamu bisa mendengar apa yang sebelumnya tertutup.”
 
Dalam ketenangan itu, aku mulai belajar mengenali diriku dengan lebih jujur. Aku bertanya: “Apa yang hatiku sebenarnya inginkan? Apa yang tubuhku coba katakan? Bagian mana dari diriku yang selama ini aku abaikan?”Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mendapat jawaban langsung, namun dalam suasana tenang, aku merasakan bahwa aku sedang berada di jalur yang benar. Intuisi bekerja tidak dengan logika tajam, tetapi dengan rasa yang lembut. Dan kata tenang menjadi pintu yang membawaku masuk ke wilayah itu.
 
Saat aku mulai memperhatikan reaksi tubuhku, aku menemukan bahwa tubuh adalah kompas yang sangat jujur. Ketika aku memaksakan diri melampaui batas, tubuh memberikan sinyal berupa ketegangan. Ketika aku mengambil keputusan yang tidak selaras dengan isi hati, dadaku terasa berat. Tetapi ketika aku mendengar kata tenang, seluruh sistem tubuhku seolah berkata, “Ini arah yang benar. Dengarkan ini. Ikuti ini.”
 
Itulah yang membuatku mulai menjadikan kata tenang sebagai bagian dari perjalanan motivasi personalku. Aku menyadari bahwa perubahan dalam hidup bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang kejelasan. Dan kejelasan muncul ketika pikiran tidak lagi keruh. Dalam keadaan tenang, motivasi tidak datang dari dorongan yang memaksa, tetapi dari intuisi yang membimbing: “Aku ingin berubah karena aku merasa itu benar.”
 
Setiap hari aku memberikan diriku momen singkat untuk kembali ke kata itu. Di tengah kesibukan, aku menarik napas dan membisikkan dalam hati: “Tenang… dengarkan dirimu.” Dalam hitungan detik, tubuhku merespons. Ketegangan berkurang. Ruang dalam batin terbuka. Dan dalam ruang itu muncul keinginan yang paling murni: keinginan untuk hidup lebih baik, lebih seimbang, lebih selaras dengan siapa diriku sebenarnya.
 
Kadang aku duduk sendiri dalam keheningan dan membiarkan kata tenang mengalir seperti sungai yang membersihkan segala keruh. Aku merasa seperti sedang berjumpa kembali dengan bagian diriku yang dulu hilang dalam keramaian dunia: bagian diri yang tahu ke mana harus melangkah, bagian diri yang tidak takut pada perubahan, bagian diri yang tidak membutuhkan validasi apa pun untuk merasa cukup.
 
Dari sinilah motivasi personal itu tumbuh. Bukan motivasi yang menggebu-gebu, tetapi motivasi yang dalam seperti akar yang merambat ke tanah dan memberi kekuatan dari dalam. Aku berkata pada diriku sendiri: “Aku ingin menjadi versi yang lebih baik karena itu selaras dengan jiwaku.” Dan tubuh mengangguk dalam diam, merespons kata tenang seolah berkata, “Aku siap. Mari kita mulai.”
 
Malam hari, ketika aku meletakkan kepala di bantal, aku mengulang kata itu untuk terakhir kalinya: tenang. Tubuhku langsung memahami pesan itu tanpa perlu dijelaskan. Otot-otot mengendur, pikiran mereda, dan intuisi kembali terdengar halus di latar hati. Dalam momen itu aku merasa kembali utuh bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang sadar. Sadar akan kehadirannya, perasaannya, kebutuhannya, dan jalan yang ingin diambil menuju masa depan.
 
Kini aku tahu bahwa intuisi bukan sesuatu yang harus dicari jauh keluar. Ia selalu ada di dalam. Dan kata tenang adalah cara sederhana untuk membuka pintu menuju dirinya. Karena tubuh yang rileks lebih mudah mendengar. Pikiran yang tenang lebih mudah memahami. Dan jiwa yang damai lebih mudah menerima arah yang benar.@arkam

KESADARAN

Arkam

Ada masa ketika aku berjalan terlalu jauh dari diriku sendiri tanpa kusadari. Aku menjalani hari-hari seperti mesin, bergerak karena kebiasaan, bernapas karena kebutuhan, bukan karena kesadaran. Hingga suatu waktu aku mendapati tubuhku terasa berat, pikiranku dipenuhi suara-suara yang tidak ramah, dan hatiku seperti menghilang di dalam keramaian yang kubuat sendiri. Dari kejauhan batinku memanggilku bukan dengan teriakan, tetapi dengan satu kata sederhana yang selalu berhasil menembus lapisan kecemasan: tenang.
 
Aneh bagaimana satu kata bisa memiliki efek begitu besar. Begitu aku mendengarnya, atau mengucapkannya perlahan dalam pikiran, tubuhku langsung merespons bahuku mengendur, nafasku memanjang, detak jantungku melambat. Seolah tubuhku sudah lama menunggu izin untuk merilekskan diri, dan kata tenang adalah kunci kecil yang membuka pintu besar menuju kedamaian. Tubuh tidak perlu diperintah; ia mengerti dengan sendirinya. Seakan kata itu bukan sekadar suara, tetapi sebuah sinyal bagi jiwa dan raga untuk kembali ke keadaan asli mereka: keadaan tenang, damai, dan sadar.
 
Sejak saat itu aku mulai memahami bahwa kesadaran diri bukan datang dari usaha besar atau pencarian rumit. Terkadang ia muncul saat aku kembali pada sesuatu yang sederhana. Kata tenang misalnya kata yang mengajakku kembali pada inti diriku, pada ruang dalam diri yang sering hilang tertutup pikiran yang berlarian. Dengan kata itu, aku seperti dituntun pulang ke dalam tubuhku sendiri. Di situlah aku mulai belajar mendengarkan diriku, bukan sekadar menjalani hidup.
 
Setiap kali kata tenang hadir, aku merasa ada jarak yang tercipta antara pikiranku dan emosiku. Jarak yang sehat. Jarak yang memberi ruang bagi pengamatan, bukan reaksi spontan. Dalam jarak itu, aku mulai bertanya: “Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa tubuhku menegang? Apa yang sedang ingin aku sampaikan pada diriku sendiri?” Perlahan, aku menyadari bahwa mengenali diri sendiri bukanlah tentang mencari jawaban besar, tetapi tentang memberi ruang untuk mendengar suara kecil di dalam diri.
 
Kesadaran diri juga mengajarkanku bahwa tubuh selalu jujur. Ketika pikiran memaksakan diri, tubuh menegangkan ototnya. Ketika hati memikul beban terlalu berat, napas menjadi dangkal. Namun ketika mendengar kata tenang, tubuh langsung melembut, seakan berkata, “Akhirnya… kau mengingatku.” Dari situ aku menemukan bahwa tubuh dan pikiran tidak terpisah; keduanya saling mempengaruhi, saling meminta perhatian.
 
Aku mulai membawa kata tenang ke dalam keseharianku, bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai pengingat. Saat bangun pagi, aku duduk sebentar dan berkata dalam hati: “Tenang… aku akan menjalani hari ini dengan penuh kesadaran.” Kata itu membuatku lebih hadir dalam tubuhku. Aku menyadari bagaimana kakiku menginjak lantai, bagaimana udara pagi memasuki paru-paruku, bagaimana hatiku terasa sedikit lebih ringan daripada semalam.
 
Dalam ketenangan itu, aku juga menemukan motivasi personal yang berbeda dari sebelumnya. Motivasi yang tidak datang dari rasa takut atau tekanan, tetapi dari rasa ingin mengenali diri dengan lebih dalam. Aku berkata pada diriku: “Aku ingin menjadi lebih baik, bukan karena harus, tetapi karena aku ingin merasakan versi terbaik dari diriku sendiri.”Kata tenang menjadi fondasi dari motivasi itu karena dalam keadaan tenang, aku merasa lebih jujur, lebih berani, dan lebih mampu melihat hidup dengan perspektif yang lebih luas.
 
Ketika hidup terasa berat, aku kembali pada kata itu. Aku menarik napas, lalu berkata: “Tenang… perlahan saja. Kamu tidak sendirian.” Dan tubuhku kembali mengendur, siap menemani langkah berikutnya. Aku belajar bahwa tubuh yang rileks adalah tubuh yang lebih mudah diyakinkan, lebih mudah diarahkan ke arah yang sehat, lebih mudah menerima perubahan. Dalam ketenangan, niat baik menjadi lebih mudah dijalankan.
 
Malam hari, sebelum tidur, aku menutup mata dan mendengarkan detak jantungku yang mulai stabil. Aku berkata dalam hati: “Terima kasih, tubuhku… terima kasih sudah mengerti meski aku sering lupa.” Kata tenang kembali mengalir seperti aliran air hangat yang membersihkan pikiran terakhirku sebelum aku memasuki dunia mimpi. Dan di sana, dalam keheningan, aku merasa benar-benar mengenal diriku tidak sebagai seseorang yang harus kuat sepanjang waktu, tetapi sebagai seseorang yang sedang belajar, sedang bertumbuh, sedang pulang.
 
Kini aku sadar bahwa kesadaran diri dimulai dari hal sederhana: memberi tubuh ruang untuk mendengarkan kata lembut, dan memberi jiwa ruang untuk merasa aman. Dan bagi diriku, kata itu adalah tenang. Kata yang membuat tubuh rileks meski tidak disuruh. Kata yang membuat jiwaku membuka diri tanpa dipaksa. Kata yang mengingatkanku bahwa perjalanan menjadi versi terbaik dari diriku tidak harus terburu-buru. Ia bisa dimulai dengan satu nafas, satu kata, satu momen kesadaran.@arkam

Friday, November 28, 2025

TENANG

arkam

Ada momen-momen tertentu dalam hidup ketika tubuh dan pikiran seperti saling berebut perhatian. Pikiran bergerak cepat, tubuh mengencang, napas menjadi lebih pendek tanpa kusadari. Di tengah keramaian dunia, aku sering lupa bahwa diriku sendiri butuh disentuh oleh kelembutan. Dan anehnya, hanya satu kata sederhana yang mampu mengubah seluruh suasana dalam diriku: tenang. Setiap kali aku mendengarnya atau mengucapkannya perlahan dalam hati aku merasakan sesuatu yang berbeda. Tanpa diperintah, tubuhku merespons, seolah-olah kata itu memiliki kunci yang langsung membuka ruang lega di dalam diriku.

Tenang. Begitu kata itu muncul, bahuku turun sedikit, rahangku mengendur, udara yang kutarik terasa lebih jernih. Tubuhku tahu apa yang harus dilakukan meski aku tidak menjelaskannya. Mungkin di masa lalu aku terlalu sering mengabaikan kekuatan kata ini, tetapi kini aku menyadari bahwa tubuh dan pikiran memiliki hubungan yang jauh lebih dalam daripada yang pernah kubayangkan. Ketika pikiran mendengar sesuatu yang menenangkan, tubuh ikut menyimak. Dan ketika tubuh merespons, seluruh diriku seperti kembali menemukan keseimbangan yang hilang.

Dari sinilah perjalanan kesehatanku mulai membaik bukan dari aturan keras atau target yang membuatku tertekan, tetapi dari satu kata sederhana yang mengajari tubuhku bagaimana beristirahat. Aku mulai menyadari bahwa kesehatan bukan hanya soal apa yang kumakan atau berapa lama aku berolahraga. Kesehatan dimulai dari bahasa yang kuizinkan masuk ke dalam jiwaku. Jika pikiran dipenuhi kalimat-kalimat yang menakutkan, tubuh ikut menegang. Tetapi jika pikiran dikenalkan pada kata-kata yang lembut, tubuh pun mengikuti irama itu.

Setiap pagi, sebelum memulai hari, aku membisikkan kata itu pada diriku sendiri: “Tenang… hari ini aku melangkah dengan lembut.” Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan untuk sempurna. Hanya pengingat halus bahwa hidup bisa dijalani dengan ritme yang lebih manusiawi. Kata tenang tidak membuatku pasif; justru ia membuatku lebih fokus, lebih sadar, lebih mampu merawat diri. Dalam ketenangan, aku bisa mendengar kebutuhan tubuhku: kapan aku harus minum air, kapan aku perlu bergerak, kapan aku harus berhenti.

Ada bagian dalam diriku yang merasa heran bagaimana mungkin kata sesederhana itu bisa memberi efek begitu besar? Tetapi mungkin jawabannya justru sederhana. Tubuh manusia memang dirancang untuk merespons sinyal-sinyal emosional. Kata tenang memberi izin bagi sistem sarafku untuk menurunkan kewaspadaan, seakan berkata: “Tak apa, sekarang aman. Kau boleh melepaskan sedikit bebanmu.” Dan dalam momen itu, motivasi untuk merawat diri terasa jauh lebih mudah muncul. Tidak muncul dari rasa bersalah, tetapi dari ruang yang lapang.

Ketika aku menghadapi hari yang sulit hari yang membuat nafasku sesak dan pikiranku tergesa-gesa aku mengulang kata itu lebih pelan, lebih hangat: “Tenang… perlahan saja.” Tubuhku merespons seperti anak kecil yang dibelai rambutnya; ia tidak lagi menegang, ia mulai percaya bahwa semuanya bisa ditata ulang, diselesaikan satu demi satu. Dalam ketenangan itu, aku menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang tidak berteriak, tetapi mendukungku dari dalam.

Aku belajar bahwa motivasi tidak harus garang atau membakar. Motivasi juga bisa datang dari kata-kata lembut yang membuat tubuh merasa aman. Ketika tubuh merasa aman, ia mau bergerak. Ketika pikiran tenang, ia mau berubah. Dan ketika hati rileks, ia mampu memaafkan diri sendiri atas kesalahan kecil yang pernah terjadi.

Malam hari, sebelum tidur, aku menutup mata dan membiarkan kata itu mengisi kepalaku seperti aliran air hangat: tenang… tenang… tenang. Setiap pengulangan seperti melepas satu tali yang terlalu kencang di dalam diriku. Tubuhku merileks begitu saja, tanpa aku harus memberi perintah, tanpa aku harus mengatur nafas secara sadar. Seperti lagu lembut yang dikenali jiwa sejak lama, kata itu mengantar seluruh sistem dalam tubuhku kembali pada ritme alami yang seharusnya.

Kini aku tahu bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tentang aktivitas, tetapi juga tentang bahasa. Tentang bagaimana aku berbicara kepada diriku sendiri. Tentang bagaimana satu kata bisa mengubah seluruh respons tubuh. Dan hari ini, seperti kemarin, aku memilih untuk menaruh kata yang lembut itu di balik setiap langkah: tenang. Kata yang mengingatkanku bahwa aku tidak harus berlari untuk menjadi cukup. Kata yang membuat tubuhku rileks, jiwaku menyala, dan harapanku tumbuh dengan damai.@arkam

NUANSA BIRU KETENANGAN JIWA

arkam

Ada saat tertentu dalam hidup ketika aku merasakan pikiranku bergerak terlalu cepat, seperti gelombang yang saling menabrak tanpa arah. Di tengah kesibukan, tuntutan, dan suara-suara yang datang dari luar maupun dari dalam diriku sendiri, ada satu warna yang selalu berhasil kupegang sebagai jangkar: biru. Kata itu sederhana, tetapi setiap kali aku mendengarnya, sesuatu dalam dadaku melembut. Seolah ada udara segar yang masuk perlahan, memberi ruang di antara detak jantungku yang sering terasa terburu-buru.

Biru. Kata itu membawa bayangan langit yang luas, laut yang tak berujung, dan kedalaman yang tidak menakutkan, justru mengundangku untuk kembali ke pusat diriku. Aku menyadari, jika mendengar satu kata seperti biru saja bisa membuat mood-ku menjadi lebih tenang, maka mungkin aku bisa membangun konsep kesehatan dan motivasi dalam hidupku berlandaskan ketenangan itu. Tidak lagi berlari dalam kecemasan, tetapi bergerak dengan kesadaran yang lembut.

Setiap pagi, aku mulai membayangkan warna biru memenuhi ruang di sekelilingku bukan biru gelap yang murung, tetapi biru lembut yang mendamaikan. Aku membayangkan biru setipis kabut pagi yang menyelimuti pikiranku, meredakan suara-suara negatif yang sering membebaniku. Dalam ketenangan itu, aku berkata kepada diriku sendiri: “Hari ini, aku memilih untuk menjaga tubuhku dengan lembut. Aku memilih tenang sebagai kekuatanku.”

Warna biru mengajarkanku bahwa kesehatan tidak perlu selalu dipicu ketakutan—takut sakit, takut gagal, takut tidak berubah. Ia mengajarkan bahwa perubahan bisa datang dari kedamaian. Bahwa ketika hati tenang, tubuh lebih mudah mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan: istirahat, nutrisi, gerak yang lembut, dan ucapan baik yang menenangkan jiwa. Sama seperti lautan biru yang tampak tenang di permukaan, tapi tetap kuat dalam kedalamannya, aku belajar bahwa ketenangan bukan kelemahan. Justru di situlah tempat kekuatanku tumbuh.

Ketika aku merasa lelah, aku berhenti sejenak dan memanggil kata itu dalam batinku: biru. Aku menghirup napas dalam, membayangkan udara dingin laut memasuki paru-paruku. Dan perlahan, pikiranku kembali selaras. Aku berkata pada diriku: “Aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya perlu menjaga diriku hari ini.” Kata-kata motivasi itu sederhana, tetapi dibalut ketenangan yang sama lembutnya dengan warna langit sore.

Aku belajar memberi ruang pada tubuhku. Ketika tubuh minta istirahat, aku tidak lagi melawannya. Ketika ia meminta makanan yang lebih sehat, aku mendengarkan. Ketika ia meminta gerak untuk melepaskan stres, aku menuruti. Karena kini aku melihat tubuhku bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dariku yang sedang mencari kedamaian yang sama seperti pikiranku. Perjalananku menjaga kesehatan menjadi perjalanan yang penuh rasa syukur, bukan kewajiban yang penuh tekanan.

Dan setiap kali aku merasa kehilangan arah, warna biru hadir lagi kadang berupa bayangan laut, kadang berupa langit yang sunyi, kadang hanya berupa kata dalam benakku. Tetapi setiap kali warna itu kembali, ia selalu membawa pesan yang sama: “Tenang. Kau bisa mengulang lagi.” Di situ aku merasa dikuatkan. Aku merasa diingatkan bahwa motivasi tidak harus berteriak. Terkadang motivasi datang sehalus bisikan ombak yang perlahan menyentuh pasir.

Kini, setiap malam sebelum tidur, aku membayangkan biru memenuhi ruang hatiku. Aku berkata, “Terima kasih tubuhku, karena bertahan untukku. Terima kasih diriku, karena mau berubah perlahan-lahan. Besok, kita coba lagi dengan hati yang lebih ringan.” Dan di antara helaan nafas terakhir sebelum tidur, aku merasakan ketenangan itu mengalir seperti air yang menyejukkan.

Dalam hidup ini, aku mungkin tidak bisa mengendalikan segalanya. Tetapi aku bisa memilih caraku merespons. Aku bisa memilih warna lembut yang memenuhi pikiranku. Aku bisa memilih kata-kata yang menenangkan jiwaku. Dan hari ini, seperti kemarin, aku memilih biru warna sederhana yang mengajarkanku bahwa kesehatan, kekuatan, dan motivasi bisa hadir dari ketenangan yang tulus.@arkam

Thursday, November 27, 2025

Kesehatan Diri & Motivasi Personal


arkam

Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa tubuhku berbicara lebih lembut daripada pikiranku, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu yang penting, tetapi aku terlalu sibuk untuk mendengarnya. Tetapi semakin aku belajar memahami diriku, semakin kusadari bahwa tubuh memiliki bahasanya sendiri bahasa yang tidak selalu berupa kata, namun sering berupa sensasi, dorongan, atau rasa lelah yang tidak terucapkan. Pada suatu titik, aku menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari hal yang buruk, tetapi tentang memilih hal yang baik dan menyampaikan kata-kata yang lembut pada diri sendiri.

Menariknya, aku pernah membaca bahwa otak manusia punya kebiasaan aneh: ia lebih cepat merespons kata manis daripada kata-kata netral lainnya. Bahkan dalam budaya pop atau dunia otaku, kata sweet, sugar, candy, atau gula sering langsung memicu asosiasi tertentu energi, kegembiraan, sesuatu yang menyenangkan. Mungkin itu sebabnya, ketika aku mencoba memotivasi diriku untuk hidup lebih sehat, aku mulai menggunakan metafora kata manis. Bukan karena aku ingin memanjakan diri berlebihan, tetapi karena otakku tampaknya lebih peka dan lebih cepat “bangun” ketika mendengar kata manis itu.

Jadi aku mulai mengubah cara berbicara kepada diriku. Bukan lagi dengan kritik atau kalimat keras yang membuatku semakin menjauh dari perubahan, tetapi dengan afirmasi manis kata-kata yang seperti gula untuk hatiku, tapi tidak merusak tubuhku. Aku berkata: “Kesehatan ini adalah hadiah yang ingin kujaga.” Aku berkata: “Aku boleh lelah, tetapi aku tidak menyerah.” Aku berkata: “Aku layak merasa lebih baik.” Perlahan-lahan, kata-kata itu menjadi seperti tetesan madu di pikiran yang sering kusibukkan dengan kekhawatiran.

Lama-kelamaan aku mengerti: tubuhku tidak hanya butuh nutrisi, tetapi juga butuh kata-kata yang baik. Pikiran yang dipenuhi pesan negatif sulit berkembang, tetapi pikiran yang diberi “manis” berupa harapan dan kebaikan justru menemukan energi baru. Afirmasi ini menjadi gula batin, pemanis yang tidak menipu, motivasi yang menyalakan semangat tanpa merusak keseimbangan.

Setiap hari aku mencoba menambah satu kebiasaan kecil untuk tubuhku minum lebih banyak air, berjalan sedikit lebih jauh, memilih makanan yang membuatku merasa ringan dan bertenaga. Tetapi aku juga sadar bahwa perubahan fisik tidak akan bertahan jika batinku tidak ikut diperhatikan. Karena itu aku belajar untuk berbicara lembut pada diriku. Aku memberi diriku ruang untuk gagal, ruang untuk mencoba, ruang untuk berproses tanpa harus sempurna dalam semalam.

Saat aku ingin menyerah, aku mengingatkan diriku bahwa tubuh ini telah bekerja begitu keras selama bertahun-tahun tanpa aku sadari. Ia menanggung stresku, menampung emosiku, mengatur ritme hidupku. Tubuhku tidak pernah meninggalkanku, bahkan ketika aku tidak merawatnya dengan baik. Maka kini aku memilih untuk membalas ketulusan itu dengan perhatian.

Kadang aku tertawa sendiri ketika menyadari betapa sederhana motivasi itu: hanya karena otak lebih cepat mengenali kata manis, aku bisa menjadikannya alat untuk membangun kembali kekuatanku. Tapi justru di situlah keindahannya bahwa hal kecil seperti kata manis bisa menjadi jembatan menuju kesadaran diri. Bahwa “gula” tidak harus hadir dalam makanan; ia bisa hadir dalam bentuk cinta diri, penghargaan diri, dan semangat yang manis ketika bangun di pagi hari.

Pada akhirnya aku belajar sesuatu: menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari sesuatu, tetapi tentang memberi sesuatu. Memberi waktu, memberi energi, memberi perhatian, dan memberi kata-kata yang manis untuk jiwa yang terkadang rapuh. Ketika aku berkata pada diriku “Aku ingin hidup sehat, bukan karena aku harus, tetapi karena aku berharga,” di situlah motivasi personal itu terasa paling tulus. Dan perlahan, tubuhku merespons bukan dengan perubahan besar, tetapi dengan rasa ringan yang mengalir perlahan.

Seperti gula yang larut dalam air, afirmasi itu meresap ke dalam hidupku. Tidak terlihat, tetapi terasa. Tidak instan, tetapi nyata. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk mengubah arah.@arkam

Wednesday, November 26, 2025

KESEDIHAN YANG MENGAJARKANMU MENJADI UTUH

arkam

Ada masa ketika hidup terasa berat dan seluruh dunia seperti berpaling darimu. Di momen seperti itu, kesedihan datang tanpa diundang, memenuhi ruang dalam hatimu hingga kamu merasa tidak punya tempat untuk bernafas. Namun hadirnya kesedihan bukan tanda akhir itu adalah awal dari sesuatu yang sedang dibentuk dalam dirimu.

Kesedihan tidak datang untuk melemahkanmu; ia datang untuk membangkitkan sisi dirimu yang selama ini terpendam. Bangkit tidak berarti harus kuat seketika. Bangkit berarti memilih untuk bergerak, meski hanya satu langkah kecil, meski langkah itu goyah.

Kadang bangkit hanyalah membuka mata saat kamu tidak ingin bangun. Kadang bangkit adalah memberanikan diri mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Aku mencoba lagi hari ini.” Bahkan usaha kecil itu sudah merupakan keberanian besar.

Lihatlah dirimu dengan lebih jujur. Meski kamu pernah terluka, kamu tidak berhenti. Meski harapanmu pernah hancur, kamu tetap mencari jalan. Kamu mungkin merasa lemah, tetapi sesungguhnya kamu sedang menunjukkan kekuatan yang tidak semua orang mampu miliki.

Kesedihan hanyalah bagian dari perjalananmu, bukan takdir akhirnya. Ia datang untuk membentuk karakter dan keberanianmu. Seperti benih yang tumbuh dalam gelap sebelum menembus tanah menuju cahaya, kamu pun sedang bertumbuh di balik rasa sakitmu.

Di balik setiap air mata dan rasa kehilangan, ada diri yang lebih kokoh sedang dipersiapkan. Luka-luka yang kamu rasakan bukan menghancurkanmu; mereka sedang mengajarkanmu bagaimana menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih mengenal dirimu sendiri.

Kamu tidak harus terburu-buru. Pemulihan tidak berjalan dalam garis lurus. Ada hari ketika kamu merasa kuat, dan ada hari ketika kamu kembali rapuh. Itu bukan kegagalan itu bagian alami dari proses bangkit.

Percayalah bahwa perubahan sedang berlangsung dalam dirimu, bahkan ketika kamu tidak merasakannya. Perlahan, kelelahan akan berubah menjadi ketenangan, ketakutan berubah menjadi keyakinan, dan kebingungan berubah menjadi arah yang baru.

Setiap hari kamu bertahan adalah bukti bahwa kamu tidak menyerah. Dan orang yang tidak menyerah, betapapun kecil langkahnya, adalah orang yang sedang bergerak menuju kemenangan besar dalam hidupnya.

Kamu berharga, kamu kuat, dan kamu pantas bahagia. Ini bukan akhir cerita. Kamu sedang menuju hari-hari yang lebih terang, dan ketika waktunya tiba, kamu akan bangkit lebih kuat, lebih lembut, dan lebih hidup daripada sebelumnya.@arkam

Monday, November 24, 2025

HIDUP ITU HANYA ADA SAAT INI

arkam

Ada satu kebenaran sunyi yang sering kita lewatkan dalam hiruk-pikuk kehidupan: hidup hanya ada pada saat ini. Bukan kemarin yang sudah menjadi arsip peristiwa, bukan pula esok yang masih berupa bayangan tanpa bentuk. Hidup berdenyut hanya pada detik yang sedang berlangsung. Pada tarikan napas yang kita sadari. Pada langkah yang kita pilih hari ini. Pada rasa yang kita izinkan hadir di dalam diri.

Semesta, dengan kecerdasan tak terhingga, telah mengatur segalanya dengan sangat teliti. Ia menyediakan dunia sebagai ruang aman bagi seluruh makhluk untuk hidup, tumbuh, dan menikmati keberadaan. Setiap unsur alam tanah, air, udara, hewan, tumbuhan memiliki tugas dan fungsinya sendiri, membentuk mata rantai kehidupan yang saling menopang. Dalam skema besar semesta, tak ada makhluk yang hadir tanpa peran. Kita saling menghidupi satu sama lain, kadang tanpa disadari.

Manusia, yang disebut sebagai makhluk sosial, sesungguhnya tak pernah dirancang untuk berjalan sendirian. Keinginan untuk berbagi cerita, merasakan kehangatan kehadiran, dan saling menyentuh kehidupan adalah bagian dari cetak biru keberadaan kita. Kita dihimpun dalam komunitas, keluarga, lingkaran pertemanan, dan perjumpaan-perjumpaan kecil yang membentuk jati diri kita. Namun dalam perjalanan hidup yang penuh kesibukan, manusia sering tenggelam dalam pikiran yang berputar tentang masa lalu dan masa depan.

Kita terlalu sering menyesali apa yang telah berlalu. Energi terkuras untuk mengulang-ulang cerita lama, seakan ingatan itu bisa mengubah kenyataan. Atau kita justru larut dalam kekhawatiran tentang masa depan, menciptakan skenario-skenario imajinatif yang belum tentu terjadi. Akibatnya, kita lupa satu hal penting: kehidupan sedang berlangsung tepat di depan mata, di dalam tubuh kita, di dalam rasa yang muncul saat ini.

Untuk menemukan kembali makna hidup, manusia perlu kembali ke dalam diri. Di sanalah segala jawaban bersemayam. Batin adalah ruang tempat kejujuran berdiam. Tubuh pun memiliki bahasanya sendiri ia mengirimkan pesan dalam bentuk rasa sakit, lelah, gelisah, juga damai. Tetapi sering kali kita mengabaikannya. Kita makan tanpa sadar, bekerja tanpa jeda, bergerak tanpa mendengar peringatan halus dari tubuh. Padahal tubuh tidak pernah berbohong; ia selalu mengingatkan ketika kita tersesat terlalu jauh dari diri sendiri.

Dengan mulai mendengarkan tubuh, kita belajar memperbaiki rasa. Rasa yang lemah bisa diperkuat kembali melalui perhatian, kesadaran, dan kejujuran terhadap kebutuhan diri sendiri. Saat rasa tumbuh, cinta pun melebar cinta kepada diri, kepada sesama, kepada kehidupan itu sendiri. Kesadaran akan kehadiran kita di dunia menjadi lebih jernih dan terang.

Sadar akan hidup berarti menyadari bahwa hidup ini bukan sekadar dijalani, tetapi dirayakan. Kita merasakan setiap pengalaman sebagai bagian dari perjalanan menuju Tuhan Yang Esa. Meski jalan setiap manusia berbeda ada yang berliku, ada yang mulus, ada yang penuh badai—tujuannya tetap satu: kita sedang bergerak menuju pemahaman lebih dalam tentang makna ketuhanan, cinta, dan diri kita sendiri.

Dalam proses itu, manusia membutuhkan ruang untuk belajar bersama dan bercakap bersama. Kebijaksanaan sering lahir dari percakapan sederhana, dari saling mendengar tanpa menghakimi, dari ruang-ruang yang memungkinkan kita menjadi versi paling jujur dari diri sendiri. Berbagi rasa membuat kita ingat bahwa kita tidak sendiri. Ada orang lain yang juga berjuang, tumbuh, tersandung, lalu bangkit lagi.

Namun perjalanan ini menuntut satu hal penting: jangan merendahkan diri sendiri. Jangan mengotori jati diri dengan keyakinan bahwa kamu tidak cukup. Tidak layak. Tidak berarti. Semesta tidak menciptakanmu dengan sia-sia. Kamu dirancang untuk menjadi bagian dari kedamaian, untuk menghadirkan keamanan bagi dirimu sendiri dan orang lain, untuk menebarkan kebahagiaan yang sederhana tetapi tulus.

Kita semua adalah peziarah yang sedang menuju satu muara: ketunggalan semesta. Perbedaan jalan bukanlah pemisah, tetapi jembatan. Karena pada akhirnya, semua perjalanan kembali ke sumber yang sama sumber cahaya, cinta, dan keberadaan.

Maka hiduplah sepenuhnya di sini, sekarang. Hadirlah sepenuhnya dalam nafasmu. Rasakan bumi yang menopang, langit yang menaungi, dan cinta yang bergerak diam-diam melingkupi perjalananmu. Sebab hidup, dengan segala misteri dan keindahannya, hanya benar-benar ada pada saat ini.@arkam

MATI RASA

arkam

Ada masa-masa ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan apakah ia sedang sedih, marah, atau sekadar lelah. Bukan karena perasaannya hilang, tetapi karena semuanya menumpuk sekaligus hingga otak memilih satu strategi bertahan hidup yang paling sederhana: mematikan tombol emosi.

“Mati rasa” bukan berarti tidak peduli. Justru seringkali di balik kehampaan itu tersimpan tumpukan perasaan yang terlalu berat untuk ditanggung. Otak menutup pintu, hati menurunkan tirai, dan tubuh masuk ke mode bertahan. Hening di luar, penuh gemuruh di dalam.

Pada tahap ini, seseorang mungkin berjalan menjalani hari seperti robot: melakukan apa yang harus dilakukan, tersenyum kalau perlu, mengangguk jika diminta. Namun di balik gerak-gerik otomatis itu, ada jarak yang semakin lebar antara dirinya dan dunia. Seakan-akan ia menonton hidupnya sendiri dari luar, tanpa benar-benar terlibat.

“Mati rasa” sering muncul ketika seseorang telah terlalu lama menahan beban emosional tanpa sempat bernapas. Ketika setiap hari ia memaksa diri “kuat”, tanpa menyadari bahwa kekuatan pun punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, tubuh memberi sinyal: diam, kosong, datar karena hanya itu yang tersisa untuk menjaga agar semuanya tidak runtuh.

Dalam keheningan mati rasa, sebenarnya ada cerita yang ingin diceritakan. Ada pertolongan yang ingin diminta. Ada kelelahan yang ingin diakui. Dan sering kali, proses pulih dimulai ketika seseorang berani mengakui satu kalimat sederhana: “Aku sebenarnya tidak baik-baik saja.”

Mati rasa bukan akhir. Ia hanya jeda tanda bahwa diri butuh ruang, butuh pemulihan, dan butuh disentuh kembali oleh hal-hal kecil yang menghidupkan: kehangatan, kehadiran, dan keberanian untuk kembali merasakan pelan-pelan.@arkam

Insentif Korupsi Non Finansial

arkam

Semua orang mendayung, fenomena ini semakin bertumbuh subur karena ada pembiaran yang terjadi karena amnesia organisasi, muncul sebagai akumulasi dari pola-Pola kebiasaan lama yang terus diputar ulang.
 
Disamping itu, segala sesuatu diselesaikan dengan segala sesuatu juga membuat alasan dua keputusan selalu diselesaikan melalui jalur negosiasi sebagai alasan satu atas dasar menjaga rahasia atasan membuat selalu saja ada insentif untuk melindungi kebohongan. Kepentingan kelompok seperti ini terus tumbuh sumber di organisasi.
 
Fenomena ini sudah berlangsung lama dan dipelihara dengan amat sangat baik agar tidak terbaca. Pepatah tua, ikan uda busuk di kepala, maka tetap busuk. Perumpamaan ini menjadi benar kalau diperkuat dengan orang-orang di seputaran birokrasi yang bermental autopilot uda nggak ada pilihan untuk keluar dari zona nyaman. 
 
Insentif korupsi non finansial yang diberikan masih merupakan sesuatu hal yang baru, walaupun di beberapa negara bukan sesuatu yang baru. Namun, satu tahun terakhir ini mulai diperdebatkan sebagai sebuah fenomena gunung es yang terus dipelihara dan dijaga agar tidak mencair.
 
Insentif korupsi non finansial, selalu terucap di berbagai kesempatan dengan berbagai konspirasi yang disepakati, seperti berlindung dibalik pesan-pesan buku suci, ungkapan yes boss, siap boss, petunjuk bos, fenomena seperti ini dipastikan melahirkan praktek-praktek di luar norma organisasi dan melemahkan berpikir rasional.
 
Manusia-manusia mental miskin yang selalu bersandar di balik petunjuk pimpinan, menjaga wibawa organisasi, pesan-pesan buku suci dan selalu mengatasnamakan kepentingan orang banyak, membuat praktek-praktek kecurangan selalu dibiarkan tumbuh dan dibiarkan karena semua mendayung.@Arkam

Dewan Perwakilan Netizen

arkam

Masyarakat sibuk membersihkan kebun nun jauh dibalik gunung, bukit dan rawah bahkan terpencar pada zona ekologisnya dan pemerintah sibuk memotong hak-hak masyarakat di kota. Orang-Orang dikota coba mengambil peran masyarakat dengan jualan narasi kemiskinan, tapi mereka dibatasi fungsi yang terbatas dalam menyuarakan hidup dan kehidupan masyarakat, disamping itu, pemimpin di daerah sibuk dengan membuat konten kreator untuk menyampaikan kepada dewan perwakilan netizen sebagai laporan pertanggungjawaban bahwa netizen tidak salah memiliki mereka.
 
Disamping itu, mereka sibuk mengurus dirinya sendiri tanpa memperhatikan suara-suara masyarakat, sibuk olahraga setiap Jumat dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan spiritual sampai lupa menjawab keinginan masyarakat untuk sejahtera bareng-bareng sebagai tujuan atau keadilan hadir dimeja makan.
 
Pertanyaan besar yaitu: keadilan sosial pada sila ke 5, Uda diwujudkan di Pemimpin Mana di Provinsi dan Kabupaten Mana Di Tanah Papua atau masih sibuk menolong dirinya sendiri atau mental peramu yang membuat mereka selalu resisten terhadap orang baru yang dilihat sebagai ancaman. Fenomena ini, selalu menghantui mereka sebab orang-orang tipe ini selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.
 
Sembilan dari Sepuluh orang pasti bersepakat bahwa kita uda hidup dalam platform global 4.0 yang sudah bergeser ke 5.0, namun setidaknya Anda harus selalu mengenal jati diri sebagai manusia melanesia. Maka, masyarakat bukan lagi memiliki sumber pendapatan dari bantuan pemerintah, mereka harus berdikari, tapi kenyataan mereka hanya menaruh harapan kapan waktunya bintang jatuh dari langit.
 
Pimpinan daerah sibuk bikin video, fbpro, tiktok, senam jumat, sibuk kegiatan spiritual dan berbagai kegiatan membangun citra dan brand sebagai pertanggungjawaban pada dewan netizen melalui like, comentar, serta bagi pada dapil netizen masing-masing karena pemimpin-pemimpin ini mewakili suara dewan netizen bukan suara masyarakat yang dititipkan lewat bilik suara.@arkam

Inkompetensi Itu Ancaman Organisasi

arkam
 
Fenomena pemerintahan satu tahun terakhir ini, kita dikejutkan oleh berbagai keputusan pengisian posisi jabatan yang kurang memperhatikan atau memahami tentang panggilan jiwa membuat penempatan jabatan lebih pada dua hal yaitu : (1) persepsi dan (2) pertimbangan yang menutupi akal sehat untuk memiliki orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi yang tepat pula.
 
Ada sebagian kecil orang yang selalu mendengar intuisi atau kata hati sebelum keputusan diambil karena ada kepuasan, namun ada sebagian lebih selalu berhitung di segala kemungkinan karena yang dicari manfaat ekonominya.
 
Inkompetensi merupakan ancaman besar pada pertumbuhan organisasi. Kalau zaman sekolah dulu, ada program pemerintah memberantas buta huruf dan aksara, tapi fenomena hari ini, ya hari, banyak orang-orang terdidik yang selesai dari perguruan tinggi melakukan praktek-praktek salah.
 
Lelang terbuka, berarti pemerintah membuka ruang seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk berkompetisi secara sehat sesuai syarat perlu yang telah ditetapkan organisasi. Tetapi kenyataan tidak membuat ada sebagian orang yang memiliki personaliti baik, memilih untuk diluar jadi pengamat saja. 
 
Praktek-praktek salah terus dipelihara dengan berbagai hitung-hitungan ekonomi membuat penempatan dalam jabatan tidak memperhatikan atau membedakan syarat perlu dalam kompetensi manajerial, teknis serta sosial budaya.
 
Persepsi dan pertimbangan menjadi pemicu dominan dalam mempengaruhi kualitas keputusan serta akal sehat jongkok membuat organisasi berkembang dalam cerita diatas kertas. Rendahnya kompetensi ini terlihat dari intervensi kebijakan yang dilakukan masih jauh dari akar masalah.
 
Kebocoran perilaku yang telah menjadi kebiasaan yang selalu dipraktek ulang dengan pola yang sama, tapi cara main berbeda sebagai pilihan strategi untuk menutupi konspirasi kepentingan membuat profesional hannya sebatas jualan jamu di bibir.@Arkam

BADUT & KEPENTINGAN PERUT

arkam
 
Fenomena perjalanan pemerintahan satu tahun terakhir ini diwarnai dengan pertunjukan yang sebenarnya hanya ada di pesta ulang tahun yaitu badut. Namun, kenyataan badut juga ada di pemerintahan. Disamping itu, juga generasi pemimpin daerah mengalami amnesia organisasi dalam membuat keputusan penting dan strategis dalam pemerintahan.
 
Ada berbagai persoalan yang terjadi di depan mata, dibiarkan karena ada indikasi semua ikut mendayung dalam organisasi karena urusan perut membuat fokus mereka hilang. Kita adalah apa yang kita makan, ini satu fenomena di mana perilaku Anda dihari ini bukan muncul spontan itu merupakan kebiasaan yang terus diputar-putar ulang oleh kecerdasan pikiran.
 
Anda telah membaca di berbagai media massa cetak atau lini masa media sosial yang dipertemukan melalui handphone, dengan informasi-informasi yang baik atau salah semua dikonsumsi membuat kekacauan pikiran untuk memilih keputusan sebab semua dihantui oleh persepsi dan pertimbangan membuat rendahnya kualitas kepemimpinan kebohongan dilindungi.
 
Kondisi Papua saat ini pemimpinnya berada pada dua pilihan sebagai manusia yaitu (1) kepentingan perut; (2) kepentingan keamanan; pilihan ini penulis lukiskan dari tokoh yang menjadi mentor penulis yaitu abraham Maslow dengan teori hirarki kebutuhan manusia. Maka, pemimpin organisasi manapun selalu mempertimbangkan faktor perut dalam membuat keputusan, ini menyebabkan ada kesalahan di depan mata tidak ditindak bahkan dilindungi karena ada hitung-hitungan perut.
 
Disamping itu, ada sebagian pemimpin dalam organisasi apapun selalu mempertimbangkan aspek keamanan dalam membuat keputusan yang dilihat kurang maksimal sebab ada pertimbangan rasa aman. Hal ini telah berlangsung lama menyebabkan organisasi berjalan di tempat karena faktor rasa aman menjadi pertimbangan utama dalam memberi hukuman kepada bawahan yang membuat kesalahan.@arkam

1112 KAWAN

arkam
 
Albert Einstein berkata, metode yang sama digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sama, maka jangan mengharapkan hasil yang lebih baik.
 
Pesan bijak ini coba diambil untuk mengkritisi program-program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pemerintah daerah satu tahun terakhir ini semua seperti syair lagu masih seperti dulu lagi atau cuman ganti baju tapi aromanya masih seperti dulu lagi. Hal ini, dapat dijelaskan bahwa pimpinan di daerah kehilangan angin untuk menetapkan layar perahu agar tujuan dapat dicapai.
 
Kurve belajar uda lulus dan ditambahkan pelatihan jenis A sampai Z, dari ruang diskusi ke ruang diskusi yang lain mereka uda tamat, tapi kenapa satu tahun terakhir ini masih ditemukan kegiatan-kegiatan pemberdayaan ekonomi yang sama cuman bedahnya ganti pemimpin saja, ibarat ganti baju aja isi dalam 11 12 sama dengan pemimpin sebelumnya.
 
Fenomena ini memberi gambaran bahwa kegiatan berulang tersebut menjelaskan kualitas isi kepala yang kurang nutrisi dan perlu ada asupan vitamin untuk bisa berfikir jernih. Disamping itu, manusia tipe ini selalu berfikir main aman dan tidak keluar dari zona nyaman untuk ambil resiko.
 
Maka, kualitas belanja daerah menurun, karena banyak strategi salah yang diambil membuat sejahtera bersama masih jauh diatas awan dan terjadi kebocoran keuangan, lingkungan, budaya membuat daerah sulit untuk bertumbuh dan gantung harapan pada pemerintah pusat.
 
Kualitas belanja daerah sedikit dipengaruhi oleh tingginya harapan membuat keputusan dipengaruhi oleh pikiran positif dan pikiran negatif, seperti Anda diberikan kepercayaan mengelola kegiatan dengan pikiran yang positif, maka kegiatan berjalan baik, tetapi kalau Anda berpikir harus mendapatkan bagian dari kegiatan itu, maka apapun keputusan yang diambil dipastikan melanggar aturan.@arkam

TANPA HATI SEMUANYA MATI

arkam
 
Mata pena ini terus berjalan menebar kebaikan melalui cerita sebab manusia hadir ke dunia uda dititipkan perannya masing-masing untuk menyuarakan jiwa-jiwa yang tak bersuara, agar dunia menjadi tempat yang aman dan damai untuk setiap ciptakan semesta. 
 
Perasaan itu sangat penting bagi manusia, maka itu, mengenal diri secara baik sebagai modal utama untuk menumbuhkan suka cita. Dengan mengenal perasaan mereka, maka mereka tetap berdiri sebagai pagar hidup, perasaan itu sangat penting bagi orang-orang yang selalu hidup selurus pengaris. 
 
Dalam guru buku suci telah disampaikan dengan baik bahwa panggilan jiwa melayani merupakan elemen penting untuk membentuk perilaku manusia di dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, dalam jalan hidup ada sebagian kecil yang berjalan lurus penggaris dan ada sebagian kecil jalan di belokan serta ada sebagian lagi kesombongan religius.
 
Dewa ilmu manajemen Mihaly (1934) sudah menuturkan tentang flow merupakan satu kondisi di mana seseorang dengan sukacita sepenuhnya meleburkan dirinya ke dalam apa yang dikerjakannya, sehingga Ia lupa waktu, lupa tempat, bahkan lupa dirinya dengan batas kemampuan fisiknya.
 
Pesan cerita diatas menjadi catatan koreksi untuk Anda tentang kerja selalu dengan hati melayani, tanpa ada batasan kepentingan maupun urusan perut membuat moralitas motivasi intrinsik terjadi, walaupun secara sadar itu salah, namun frekuensi pikiran telah diputar negatif membuat keputusan yang diambil selalu menabrak aturan main.
 
Mengenali diri sebagai ukuran lain untuk memahami lebih dalam kualitas manusia, sebab dengan cakap-cakap secara rasional telah digunakan dewa manajemen untuk mengukur kualitas diri manusia. 
 
Kalau mengenal diri, siapa Anda, maka segala sesuatu yang dilakukan selalu bermain dengan intuisi memberi arti mengenal diri, makan tipe manusia ini tidak menjual diri dengan cara melakukan perbuatan melawan hukum dan tindakan-tindakan lain yang merugikan orang banyak.@arkam

SADAR

arkam
 
Sadar dengan cara-cara hidup instan dan mengorbankan orang banyak, walaupun hidup adalah hidup dan semua orang bahagia di tempatnya masing-masing. Mengerti sebelum akal sehat ditutupi kepentingan perut. Hal ini, harus dipahami dengan baik karena “Masyarakat salah lebih baik, dibandingkan pemerintah benar semua”. 
 
Hampir sebagian trik dan intrik dilakukan ketika konspirasi senyap dengan menekan orang kampung dengan cara jaga kebodohan dan jaga rasa lapar sebagai pintu masuk yang tepat untuk membongkar praktek-praktek salah yang dipelihara.
 
Pesan ini menjadi menarik untuk dilakukan analisis lebih dalam lagi karena banyak sekali menimbulkan pertengkaran pikiran di media online antara yang mendukung dan tidak mendukung terkait proses pemberdayaan ekonomi masyarakat, lebih khusus orang asli Papua. 
 
Masalah pimpinan daerah pada ranting terkecil dan tingkat kemajuan rendah tidak dipersiapkan secara baik, membuat mereka terjebak dengan perbuatan melawan hukum. Proses pemberdayaan masyarakat yang salah membuat hari ini Anda media online ramai dengan kasus pimpinan ranting terkecil sebagai perwakilan pemerintah melakukan legal hazard.
 
Mereka dengan tingkat kemajuan yang rendah bahkan ada sebagian dari mereka hanya sampai di pagar sekolah dipaksakan untuk terlibat sebagai kepala kampung. Fenomena ini, membuat pimpinan di daerah menang banyak karena menyalahkan masyarakat.
 
Anda harus belajar untuk ambil posisi duduk seperti orang kampung dengan tingkat kemajuan rendah sebab duduk dengan benar, maka Anda dapat dengan jernih memahami apa persoalan sebenar sehingga muncul persoalan moral hazard dan legal hazard. 
 
Maka, dengan tingkat kemajuan yang rendah serta pola pemberdayaan kampung salah membuat urusan perut diambil sebagai satu pilihan utama membuat terjadinya moral hazard. Pemekaran dan tidak pemekaran, Otsus dan tidak otsus, kecamatan ganti distrik, desa ganti kampung sama 1112.
 
Kata cerita pemekaran dilakukan karena alasan mempercepat pembangunan dan memperluas layanan publik tidak menghilangkan kebijakan pembangunan berbasis investasi besar dan masih tergantung pada cara berpikir birokrasi yang masih bergantung pada pusat.@arkam

HILANG DALAM BIROKRASI

arkam
 
Catatan lapangan menunjukkan bahwa perjalanan manusia Papua menjadi pelaku-pelaku usaha stop di “sertifikat pelatihan”, ada sebagian lagi yang disiplin diri lewat tidur malam dan bangun pagi sama dengan pengusaha sukses di tanah jauh “stop juga dikata-kata motivator”.
 
Cerita Manusia Papua lebih panjang dari cerita lapangan Mahabarata dari India dan la galigo dari sulawesi. Tapi, Kesadaran diri harus menjadi hal utama untuk dapat mampu membaca dunia manusia Papua melalui “jaring-jaring makna”.
 
Pelaku bisnis manusia Papua seharusnya dibangun berdasarkan pengetahuan lokal (local knowledge) dengan berbasis nilai hidup sebagai produk yang nilai ekonomisnya tinggi. 
 
Manusia Papua, dipastikan memiliki cerita rakyat yang lebih panjang dari cerita mahabarata dan lagaligo. Manusia Papua tahun ini, sumber pendapatan berasal dari bantuan pemerintah.
 
Apa ada yang salah dengan semua ini, sungguh jauh berbeda antara jam tidur malam dan bangun pagi berbeda. Semua sudah disediakan semesta dan tugas manusia papua ambil secukupnya dan jangan sisakan sisanya. 
 
Manusia papua sibuk tanam, petik, oleh dan makan serta memikirkan pasar. pemerintah sibuk belanja anggaran di kamera untuk pencitraan menyebabkan anggaran hilang dalam birokrasi.@arkam

LOBO, KAIMANA: PINTU PERDAGANGAN DAN DIPLOMASI

arkam
 
Jejak Awal Kontak. Sumber etnografis dan arsip kolonial Belanda menunjukkan bahwa sejak abad ke-16, kawasan Onin, Kaimana, Lobo Sudah menjadi bagian dari jaringan perdagangan antar-pulau di timur Nusantara (Kamma, 1976; Van Baal, 1966). 
 
Pedagang dari Seram, Banda, dan Tidore rutin berlabuh di pelabuhan alami Lobo untuk menukar hasil hutan Papua damar, burung cendrawasih, mutiara dengan besi, garam, dan kain. Dalam catatan Portugis abad ke-17, wilayah ini disebut sebagai Onin Coast, kawasan kaya hasil bumi yang “telah lama mengenal dunia luar.”
 
Masyarakat Merasi (suku asli) Kaimana yang memiliki jaring-jaring budaya dengan orang Wamesa di Wondama, yang mendiami pesisir ini sudah membangun struktur sosial dan hukum adat yang kompleks. Sistem kepemimpinan tradisional berfungsi sebagai mediator perdagangan dan penjaga keseimbangan hubungan antar kampung. 
 
Hal ini menunjukkan bahwa orang Papua di Lobo telah memiliki peradaban maritim dan diplomatik jauh sebelum pengaruh Eropa masuk. Lobo sebagai Ruang Hibrid Maritim. Dengan kacamata teori hybridity dari Homi Bhabha, Lobo dapat dibaca sebagai ruang ambivalen pertemuan budaya. 
 
Bhabha (1994) menjelaskan bahwa koloni bukanlah wilayah dominasi tunggal, melainkan ruang pencampuran (in-between space) di mana makna dan identitas terus dinegosiasikan. Di Lobo, percampuran antara kosmologi laut Papua dan ekonomi dagang Maluku menciptakan identitas ganda: orang Papua yang sekaligus pelaut dan diplomat.
 
Proses hibridisasi ini tampak dalam struktur simbolik adat: masyarakat mengenal “laut sebagai jalan pengetahuan”. Dalam tradisi mereka, laut bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang komunikasi spiritual dengan leluhur. 
 
Ketika kontak dagang dengan luar terjadi, nilai-nilai ekonomi baru diserap tanpa menghapus struktur kosmologis lama. Dengan kata lain, Lobo menjadi ruang di mana ekonomi global dipahami melalui kerangka lokal.@arkam

MIMPI


arkam 
 
Rantai makanan secara perlahan mulai terancam karena manusia melakukan sentuhan berlebihan membuat alam mulai terdesak melakukan penyesuaian dengan berbagai fenomena alam. Di Berbagai tempat hewan-hewan liar mulai hadir di pekarangan rumah dan ada sebagian hewan liar memangsa manusia.
 
Manusia dituntut menjaga keseimbangan dengan cara merawat dan ambil secukupnya serta hargai setiap perjalanan makanan sampai di meja makan melalui proses yang begitu panjang, maka tugas manusia memanfaatkan dengan baik jangan ada yang dibuang.
 
Maka, tanam mimpi di tanah kelahiran sebab mereka yang mengenal tanah lahirnya pasti menjaga lingkungan dengan baik, tanpa ada paksaan. Menanam mimpi seperti Martin Luther King mengejar mimpi tentang orang harus duduk dan berdiri sama tinggi sebagai manusia sempurna dan sekat-sekat kelas sosial dihilangkan, terbukti Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika.
 
Di mana Ia hanya pegang pada keyakinan I have a dream bukan I have a plan. Orang-orang muda sudah seharusnya menanam mimpi benar di tanah kelahiran. Ada sebagian orang muda yang lebih memilih menanam mimpi di media sosial membuat pemikiran-pemikiran cerdas cuman sebatas opini.
 
Orang-orang muda butuh rangkulan agar tercipta satu frekuensi mencintai tanah kelahiran sebagai pintu spirit menjaga tabungan generasi. Orang-orang muda harus mengerti bahwa hidup adalah hidup dan terus mengalir menembus ruang dan waktu. Tanam mimpi di tanah kelahiran sebab mereka yang mengenal diri pasti merawat diri secara baik.@arkam

PEJALAN

arkam

Matahari juga tenggelam di senja hari sebagai perjalanan pulang dan bangun di pagi hari untuk memberikan energi kehidupan kepada siapa saja di planet ini tanpa memilih kelas sosial. Pesan ini penting untuk Anda, bahwa jiwa juga butuh waktu untuk istirahat agar bangun dengan energi yang baru.
 
Maka, siklus hidup sudah diatur sedemikian rupa, seperti matahari yang tenggelam memberi makna untuk semesta bahwa jiwa membutuhkan waktu untuk tenggelam atau butuh waktu untuk jedah antara tarikan nafas masuk dan nafas keluar butuh waktu untuk istirahat sebentar.
 
Disamping itu, siklus hidup butuh waktu untuk didengar, dirasakan sensasi-sensasi tubuh bicara kepada Anda, jiwa butuh didengar serta diberikan sentuhan dengan ucapan terima kasih telah menemani Anda melakukan perjalanan pulang ke diri sendiri.
 
Untuk itu, di setiap perjalanan Anda harus memberi ruang dengan stop sebentar untuk mendengar sensasi-sensasi tubuh dengan rasa sebab yang menemani Anda satu kali dua puluh empat jam adalah jiwa Anda sendiri.
 
Semua makhluk hidup selalu melakukan perjalanan untuk pulang kembali kedalaman diri sendiri, berarti Anda mengenal diri Anda, maka Anda mengenal semesta yang esa.
 
Memahami perjalanan jiwa itu penting, karena sensasi tubuh bercerita itu patut didengar, tapi kebanyakan orang menunda pesan itu dengan jalan minum obat.@arkam

BANGGA VALIDASI ORANG LAIN

arkam

Menyuarakan suara masyarakat, kamu fungsinya terbatas, kamu bukan punya kuasa untuk mewakili suara masyarakat, kamu sudah sadar apa belum, kamu bukan yang kasih makan masyarakat.
 
Kalau mau dayung-dayung sendirilah, biar mengerti dan pintar baca pesan musim angin laut, kamu harus sadar bahwa kotoran hewan dimata petani itu manfaatnya besar. kalau dimata kamu hanya kotoran hewan.
 
Kamu harus tau, masyarakat tidak kail harapan di validasi kamu, masyarakat hanya bertanyakan, mereka salah apa dan kenapa mereka disalahkan. Mereka bertanya kalau kamu tau itu salah kenapa harus berdoa.
 
Masyarakat tidak minta validasi kamu, masyarakat sadar bahagianya di levelnya masing-masing, masyarakat hanya butuh dihargai di level kepemimpinan formal. Kamu berikan kepercayaan di jajaran muspida atau tetap sebagai kaum buruh.
 
Hari ini, ya hari ini, kualitas kamu dinilai ada didengkul, kamu menyampaikan gagasan mewakili kualitas otak kamu, diri kamu belum diurus bagaimana kamu mau buatan lompatan jauh dengan mewakili pikiran, tubuh dan jiwa masyarakat.
 
Kamu berbuat curang kepada masyarakat, kamu narasikan masyarakat miskin dan bodoh, masyarakat salah apa sampai kamu berulangkali berbuat curang kepada masyarakat. 
 
Kamu sombong dan bangga atas pencapaian kamu sebagai pemimpin, sampai-sampai menulis perjalanan hidup, publikasi di berbagai media dan kesempatan, untuk bilang pada dewan netizen pusat, provinsi, kabupaten, distrik dan desa, sampai RT, RW sampai dusun untuk mendapatkan pengakuan dan pencitraaan.
 
Masyarakat cuman pesan, kalau kamu tau yang dilakukan itu salah, kenapa harus berdoa, kesombongan itu bukan prestasi, itu lukisan yang menjelaskan kualitas isi kepala kamu. Masyarkat, sudah cerdas, maka masyarakat hanya butuh didengar dan dirangkul.
Kamu perlu tau “bangga dan percaya diri itu beda”.@arkam

KELAS BARU DI PAPUA

arkam

Dalam perjalanan penulisan ekonomi jalanan dan dari suara dari jalanan, penulis terus menyulam makna di setiap potret jalanan, suara samping di emperan tokoh, di jiku warung kaki lima ada yang mendekat dan berbisik minta seribu ka.
 
Potret kehidupan terus mengalir di jalan ini untuk terus cari, dapat, lihat, baca dan rekam dalam pohon pengetahuan untuk menumbuhkan akar yang kuat untuk terus dilakukan pencarian tentang apa akar masalah yang menyebabkan manusia papua jadi pengusaha sampai sebatas mendapatkan sertifikat pelatihan.
 
Sementara, ada sebagian besar manusia Papua lain jadi pengusaha hannya sebatas jualan kecap manis lewat cerita motivasi. Ujung-ujung tidur malam dan bangun pagi tidak sama. Pengulangan cerita pemberdayaan dari rezim ganti rezim kepemimpinan masih omon-omon pencitraan aja.
 
Lalu, Teori Pareto 80/20, selalu jadi inspirasi penulis untuk membedah pola kepemimpinan. Pemetaan sumber daya alam dilakukan dengan konsep pareto, di mana dari hasil cari, dapat, lihat, baca dan rekam, di mana hanya ada 20% kelas baru papua yang menguasai 80% sumber daya alam papua.
 
Maka, potret ini terlihat dari permainan halus yang berlindung dibalik narasi “percepatan pembangunan” ini merupakan pola main kelas baru papua yang merupakan perpanjangan tangan pusat ditingkat lokal. Kelas baru ini juga mengambil peran sebagai perantara masyarakat Papua dengan pusat.
 
Kelas baru ini juga mengambil fungsi sebagai jembatan kebijakan pusat yang dapat dilegitimasi dalam adat lokal. Kelas baru Papua ini punya keyakinan kuat bahwa mereka punya kuasa dan diberi kuasa oleh masyarakat Papua sebagai perantara pusat di daerah.@arkam

ELIT PAPUA BARU PART 2

arkam
 
Sadarlah cara hidup mu, ini pesan sakral dari musikus Papua “Black Brothers” yang tidak sampai memegang pagar kampus, dimasa itu mera sudah cerdas dengan kedalam batin menyampaikan kegelisahan hati tentang perilaku manusia Papua yang selalu menumpang di kecurangan.
 
Sekali lagi dan lagi, mereka bilang bersuara mewakili masyarakat Papua yang tidak bersuara. Mereka bilang mereka diberikan kuasa karena punya kuasa untuk mewakili suara manusia papua. Masyarakat Papua terpenjara pada pendidikan peradaban kolonial yang salah, dimana masyarakat diberi didikan untuk takut tuhan dan tunduk pada semua keputusan, dimana yang salah dijawab benar dan yang benar dijawab salah.
 
Maka, elit baru Papua, merupakan manusia pilihan pemerintah pusat atas nama “percepatan pembangunan Papua” sebagai kunci rahasia negara menaikkan rasa keindonesiaan manusia Papua dengan membentuk kelas Papua baru, untuk diberikan fungsi perantara dalam menjinakkan Manusia Papua yang dianggap liar dan primitif.
 
Sementara, titik tembak diarahkan pada titik kelaparan dan titik kebodohan yang dibiarkan sebagai fokus utama untuk memuluskan niat gelap kepentingan elit global dalam melakukan ekstraksi sumber daya alam Papua melalui jalan kata keramat “Papua tanah damai”. Papua gelap dan angker karena otak di dengkul.
 
Disamping itu, manusia Papua yang telah dilahirkan kembali sebagai elit baru atau orang pilihan telah dengan sadar menumpang di atas gerbong urusan perut, membuat kebenaran digunting dengan guntingan kepentingan membuat perjalan tidak selurus penggaris.
 
Namun, opini liar, apakah sembilan dari sepuluh Manusia papua menetapkan pilihan pada skala lima sangat setuju dengan kata keramat “tim percepatan pembangunan Papua”, apakah dengan fungsi yang terbatas dapat menjawab masalah yang dihadapi manusia Papua hari ini.
 
Untuk itu, manusia Papua yang kurang lebih 255 hingga 257 yang masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri serta terkonsentrasi pada zona ekologisnya, membutuhkan penjelasan dari masalah yang mereka hadapi saat ini, sebab sebagian besar manusia Papua terafiliasi dengan elit baru Papua, sudah tidak punya fungsi dan kuasa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi saat ini.@arkam

ELIT PAPUA BARU PART III

arkam
 
Orang PAPUA belum menemukan manusia yang tepat di zaman ini, manusia yang dilahirkan kembali, manusia yang perkataan dan perbuatan sama. Era hari ini, ya hari ini, yang dilihat pada seorang pemimpin adalah etika bukan berapa banyak materi yang dimiliki.
 
Maka, kamu harus mengerti bahwa manusia dengan kesadaran tinggi yang dapat saling membantu dan mendukung pencapaian organisasi. Namun, kesombongan telah menutupi pohon pengetahuan membuat kamu hidup diera saling berbual dan terbual yang terus dipelihara sebagai sumber pendapatan dan mengorbankan manusia yang lain.
 
Dalam kaitan itu, muncul istilah membunuh atau dibunuh yang mulai dikembangkan dalam bentuk lain, seperti manusia elit lokal baru yang mengambil peran strategi sebagai perantara legitimasi pusat dengan daerah melalui elit lokal Papua mengokestrasi semua kepentingan membentuk kebohongan sebagai gaya memimpin.
 
Untuk itu, kilas balik perjalanan integrasi penting digunakan sebagai titik masuk dalam melihat pola pendekatan membangun Papua masih merupakan warisan peninggalan kolonial yang hannya mereplikasi sesuai kemauan manusia Papua sebagai wisata masa lalu. 
 
Penjelasan ini sebagai pemicu untuk melihat kemiskinan dan kebodohan di Papua bukan sekedar akibat kurangnya pembangunan, tetapi buah dari strategi salah yang sudah berlangsung lama dari era Belanda, masuknya peradaban, hingga birokrasi modern.
 
Maka, penulis menyuarakan lagu kami ingin bebas dalam rangkaian tulisan yang diangkat untuk mengurat sejarah hidup manusia Papua untuk memberi protes apa yang sudah dilakukan dan akan dilakukan penguasa tingkat daerah dengan elit baru Papua dengan untuk tujuan : (1). Menjaga Papua tetap bergantung; (2). mengendalikan sumber daya tanpa perlawanan; (3). Memastikan sumber daya nasional dan luar tetap dominan atas pengetahuan, ekonomi dan budaya.@arkam

APA BENAR KAMU JUJUR

arkam
 
Jujur adalah sikap paling revolusioner di Papua hari ini. Di tengah arus dana Otonomi Khusus yang begitu besar, kejujuran bukan lagi sekadar nilai moral, tetapi fondasi politik dan sosial yang menentukan masa depan generasi Papua. Sebab setiap rupiah yang hilang karena korupsi berarti satu ruang kelas yang tidak terbangun, satu puskesmas yang tidak dilengkapi, dan satu anak Papua yang kehilangan kesempatan untuk maju.
 
Namun kejujuran tidak berdiri sendiri. Ia berhadapan dengan sistem yang sudah lama dibentuk oleh patronase, feodalisme, dan kepentingan elit lokal maupun luar. Manipulasi laporan, proyek fiktif, hingga pengaturan anggaran seringkali dibungkus dengan bahasa “demi pembangunan.” Pada titik inilah kejujuran menjadi langkah perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling berbahaya karena ia mengguncang dasar kenyamanan mereka yang menikmati manfaat dari ketidakberesan.
 
Maka, pada pertanyaan inti: siapa yang paling dirugikan? Jawabannya selalu sama: masyarakat Papua. Ketika dana Otsus diselewengkan, masyarakat kehilangan pelayanan dasar, pemuda kehilangan masa depan, dan kampung-kampung tetap tertinggal meski laporan pembangunan tampak indah di atas kertas. Jujur berarti menolak menjadi bagian dari lingkaran itu walaupun tekanan, ancaman, dan tawaran menggiurkan datang bertubi-tubi.
 
Karena itu, kejujuran harus berubah menjadi gerakan. Gerakan yang dimulai dari orang-orang biasa: guru yang berani menolak laporan palsu, bendahara kampung yang menolak mark up, pejabat daerah yang tidak menerima gratifikasi, akademisi yang tidak mau manipulasi data demi proyek. Dari tindakan-tindakan kecil inilah lahir keberanian besar keberanian untuk menolak korupsi bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan integritas.
 
Dan pada akhirnya, kesadaran kolektif harus ditegakkan: Jujur bukan hanya menjaga kehormatan pribadi, tetapi menjaga harga diri sebuah bangsa. Papua hanya akan maju jika dana Otsus benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Ketika setiap rupiah digunakan tepat sasaran, ketika laporan bukan hasil rekayasa, ketika pejabat dan masyarakat sama-sama menjaga integritas barulah Otsus menjadi alat perubahan, bukan sumber masalah.
 
Karena pada akhirnya, menolak korupsi dan manipulasi dana Otsus bukan sekadar sikap etis.Itu adalah bentuk cinta pada tanah Papua. Bentuk komitmen pada rakyat. Dan bentuk pernyataan bahwa masa depan Papua tidak boleh dijual, diselewengkan, atau diperdagangkan bahkan dengan harga berapapun.@arkam

Filosofi Matohalle Orang Merauke

arkam

Geliat malam di kota seribu musamus, aku masih terus memulung pesan alam berserakan untuk di rangkaikan kembali dan dipahat aksara di dinding lini masa sebagai bel pengingat generasi pemimpin daerah bahwa apakah Papua Selatan itu anugrah atau Bencana.

Bintang jatuh hari kiamat, pesan musikus legendaris Papua Black Brothers dihadirkan sebagai pesan untuk cepat menyiapkan tingkat kemajuan pendidikan dan penguasaan moneter yang baik untuk bertahan di situasi penuh ketidakpastian.

Segerombolan generasi pemimpin daerah hadir sebagai benalu hutan untuk naik di atas gerbong rendahnya tingkat kemajuan pendidikan mereka dengan menjual ribuan ide besar yang sebenarnya realita nol.

Geliat ekonomi malam di kota seribu musamus, telah menjelaskan bahwa lapangan ekonomi hanya dimainkan kawan-kawan dari seberang lautan tempat matahari terbenam.

Orkestrasi dan mobilisasi di lapangan ekonomi dari hulu sampai hilir membutuhkan kehadiran generasi pemimpin daerah sebab hak hidup, marga, sejarah mulai masuk dalam lingkaran kepunahan.

Matohalle merupakan satu kondisi yang diciptakan masyarakat karena ada ketidak puasan atas berbagai masalah yang terjadi di sekitar mereka atau melakukan protes kepada para pihak yang masuk dalam pekarangan rumah mereka tanpa mengetuk pintu budaya.

Riak PPS secara resmi membuka migrasi orang semakin meningkat, sinar lampu warung kaki lima yang berbaris di jalan utama, mulai memberi jawaban bahwa kehidupan ekonomi mereka akan meningkat.

Namun riak-riak Provinsi Papua Selatan tidak menjanjikan hal positif bagi masyarakat di empat penjuru mata angin yang paling besar terkena dampak hadirnya Provinsi Papua Selatan.

Belantara ini membutuhkan tukang kebun yang pintar memilih bibit untuk ditanam sebab hari esok itu misteri.@arkam

Filosofi Kuda Mati di Merauke Papua Selatan


arkam

Lahirnya nama Kuda Mati bukan karena ratusan atau ribuan kuda mati di lokasi tersebut, tetapi ada cerita yang melegenda dan ceritanya perlu di pahat kembali agar Anda mengerti dengan arti dan diberikan nama tersebut buat wilayah di sebelah bandara merauke Papua Selatan. Story Telling menjadi penting agar generasi lintas generasi mendapatkan pengetahuan tentang apa yang tersembunyi di balik nama Kuda Mati.

Sementara, Anda yang lagi membaca dan atau baru menemukan arti Kuda Mati dalam catatan tinta langit ini, perlu untuk membangun literasi tentang menulis cerita Merauke, Story Telling merupakan titik masuk utama untuk membangun dan menyampaikan cerita berbasis nilai budaya yang masih tersimpan rapi yang perlu dieksplorasi sebagai tambang emas baru Merauke dan Papua Selatan.

Kembali di topik, pada masa lampau ada kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pemerintah melalui lembaga donor yang menjadikan Merauke dan Pegunungan Bintang sebagai Pilot Projek, bukti sejarah di pegunungan bintang ada kuda yang difungsikan sebagai transportasi untuk mengangkut kayu, namun kegiatan tersebut tidak berjalan maksimal karena tingkat kemajuan pendidikan serta karakter budaya.

Sementata, proyek pemberdayaan di Merauke di pusatkan pada lokasi yang pada saat ini, di lihat cukup strategis dalam pengembangan sektor peternakan, maka lembaga donor melakukan kerjasama pemberdayaan masyarakat lewat pemerintah daerah mendatangkan ribuan anakan kuda untuk diternakan.

Program amat mulia yang dilakukan lembaga donor dengan beberapa pihak berjalan di luar target dan rencana awal untuk konsep pemberdayaan membuat program gagal total di wilayah sampel, maka para lembaga donor memberi nama kuda mati.

Masa Lalu adalah guru, maka berbagai program kegiatan yang dilakukan lembaga donor, mulai dihentikan untuk program pemberdayaan masyarakat daerah selatan lebih khusus merauke masuk dalam daerah kurang layak mendapatkan bantuan program pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Masalah gagalnya proyek pemberdayaan berbasis potensi, perlu lihat sebagai referensi untuk memperbaiki pendekatan pemberdayaan yang akan dilakukan Papua Selatan sebab budaya adalah sumber belajar utama yang terbaik.

Pendekatan pembangunan yang dilakukan pemerintah secara siklus dalam the life story, masih hannya sebatas perbaikan kecil pada penguatan manajemen kelembagaan bukan berfokus pada penguatan manusia dan kemanfaatan ekonomi berkelanjutan.@arkam

Insentif Korupsi Non Finansial

arkam

Semua orang mendayung, fenomena ini semakin bertumbuh subur karena ada pembiaran yang terjadi karena amnesia organisasi, muncul sebagai akumulasi dari pola-Pola kebiasaan lama yang terus diputar ulang.

Disamping itu, segala sesuatu diselesaikan dengan segala sesuatu juga membuat alasan dua keputusan selalu diselesaikan melalui jalur negosiasi sebagai alasan satu atas dasar menjaga rahasia atasan membuat selalu saja ada insentif untuk melindungi kebohongan. Kepentingan kelompok seperti ini terus tumbuh sumber di organisasi.

Fenomena ini sudah berlangsung lama dan dipelihara dengan amat sangat baik agar tidak terbaca. Pepatah tua, ikan uda busuk di kepala, maka tetap busuk. Perumpamaan ini menjadi benar kalau diperkuat dengan orang-orang di seputaran birokrasi yang bermental autopilot uda nggak ada pilihan untuk keluar dari zona nyaman.

Insentif korupsi non finansial yang diberikan masih merupakan sesuatu hal yang baru, walaupun di beberapa negara bukan sesuatu yang baru. Namun, satu tahun terakhir ini mulai diperdebatkan sebagai sebuah fenomena gunung es yang terus dipelihara dan dijaga agar tidak mencair.

Insentif korupsi non finansial, selalu terucap di berbagai kesempatan dengan berbagai konspirasi yang disepakati, seperti berlindung dibalik pesan-pesan buku suci, ungkapan yes boss, siap boss, petunjuk bos, fenomena seperti ini dipastikan melahirkan praktek-praktek di luar norma organisasi dan melemahkan berpikir rasional.

Manusia-manusia mental miskin yang selalu bersandar di balik petunjuk pimpinan, menjaga wibawa organisasi, pesan-pesan buku suci dan selalu mengatasnamakan kepentingan orang banyak, membuat praktek-praktek kecurangan selalu dibiarkan tumbuh dan dibiarkan karena semua mendayung.@arkam

KELAS BARU DI PAPUA

arkam

Dalam perjalanan penulisan ekonomi jalanan dan dari suara dari jalanan, penulis terus menyulam makna di setiap potret jalanan, suara samping di emperan tokoh, di jiku warung kaki lima ada yang mendekat dan berbisik minta seribu ka.

Potret kehidupan terus mengalir di jalan ini untuk terus cari, dapat, lihat, baca dan rekam dalam pohon pengetahuan untuk menumbuhkan akar yang kuat untuk terus dilakukan pencarian tentang apa akar masalah yang menyebabkan manusia papua jadi pengusaha sampai sebatas mendapatkan sertifikat pelatihan.

Sementara, ada sebagian besar manusia Papua lain jadi pengusaha hannya sebatas jualan kecap manis lewat cerita motivasi. Ujung-ujung tidur malam dan bangun pagi tidak sama. Pengulangan cerita pemberdayaan dari rezim ganti rezim kepemimpinan masih omon-omon pencitraan aja.

Lalu, Teori Pareto 80/20, selalu jadi inspirasi penulis untuk membedah pola kepemimpinan. Pemetaan sumber daya alam dilakukan dengan konsep pareto, di mana dari hasil cari, dapat, lihat, baca dan rekam, di mana hanya ada 20% kelas baru papau yang menguasai 80% sumber daya alam papua.

Maka, potret ini terlihat dari permainan halus yang berlindung dibalik narasi “percepatan pembangunan” ini merupakan pola main kelas baru papua yang merupakan perpanjangan tangan pusat di tingkat lokal. Kelas baru ini juga mengambil peran sebagai perantara masyarakat Papua dengan pusat.

Kelas baru ini juga mengambil fungsi sebagai jembatan kebijakan pusat yang dapat dilegitimasi dalam adat lokal. Kelas baru Papua ini punya keyakinan kuat bahwa mereka punya kuasa dan diberi kuasa oleh masyarakat Papua sebagai perantara pusat di daerah.@arkam

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...