Monday, November 24, 2025

MATI RASA

arkam

Ada masa-masa ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan apakah ia sedang sedih, marah, atau sekadar lelah. Bukan karena perasaannya hilang, tetapi karena semuanya menumpuk sekaligus hingga otak memilih satu strategi bertahan hidup yang paling sederhana: mematikan tombol emosi.

“Mati rasa” bukan berarti tidak peduli. Justru seringkali di balik kehampaan itu tersimpan tumpukan perasaan yang terlalu berat untuk ditanggung. Otak menutup pintu, hati menurunkan tirai, dan tubuh masuk ke mode bertahan. Hening di luar, penuh gemuruh di dalam.

Pada tahap ini, seseorang mungkin berjalan menjalani hari seperti robot: melakukan apa yang harus dilakukan, tersenyum kalau perlu, mengangguk jika diminta. Namun di balik gerak-gerik otomatis itu, ada jarak yang semakin lebar antara dirinya dan dunia. Seakan-akan ia menonton hidupnya sendiri dari luar, tanpa benar-benar terlibat.

“Mati rasa” sering muncul ketika seseorang telah terlalu lama menahan beban emosional tanpa sempat bernapas. Ketika setiap hari ia memaksa diri “kuat”, tanpa menyadari bahwa kekuatan pun punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, tubuh memberi sinyal: diam, kosong, datar karena hanya itu yang tersisa untuk menjaga agar semuanya tidak runtuh.

Dalam keheningan mati rasa, sebenarnya ada cerita yang ingin diceritakan. Ada pertolongan yang ingin diminta. Ada kelelahan yang ingin diakui. Dan sering kali, proses pulih dimulai ketika seseorang berani mengakui satu kalimat sederhana: “Aku sebenarnya tidak baik-baik saja.”

Mati rasa bukan akhir. Ia hanya jeda tanda bahwa diri butuh ruang, butuh pemulihan, dan butuh disentuh kembali oleh hal-hal kecil yang menghidupkan: kehangatan, kehadiran, dan keberanian untuk kembali merasakan pelan-pelan.@arkam

No comments:

Post a Comment

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...