Thursday, November 27, 2025

Kesehatan Diri & Motivasi Personal


arkam

Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa tubuhku berbicara lebih lembut daripada pikiranku, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu yang penting, tetapi aku terlalu sibuk untuk mendengarnya. Tetapi semakin aku belajar memahami diriku, semakin kusadari bahwa tubuh memiliki bahasanya sendiri bahasa yang tidak selalu berupa kata, namun sering berupa sensasi, dorongan, atau rasa lelah yang tidak terucapkan. Pada suatu titik, aku menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari hal yang buruk, tetapi tentang memilih hal yang baik dan menyampaikan kata-kata yang lembut pada diri sendiri.

Menariknya, aku pernah membaca bahwa otak manusia punya kebiasaan aneh: ia lebih cepat merespons kata manis daripada kata-kata netral lainnya. Bahkan dalam budaya pop atau dunia otaku, kata sweet, sugar, candy, atau gula sering langsung memicu asosiasi tertentu energi, kegembiraan, sesuatu yang menyenangkan. Mungkin itu sebabnya, ketika aku mencoba memotivasi diriku untuk hidup lebih sehat, aku mulai menggunakan metafora kata manis. Bukan karena aku ingin memanjakan diri berlebihan, tetapi karena otakku tampaknya lebih peka dan lebih cepat “bangun” ketika mendengar kata manis itu.

Jadi aku mulai mengubah cara berbicara kepada diriku. Bukan lagi dengan kritik atau kalimat keras yang membuatku semakin menjauh dari perubahan, tetapi dengan afirmasi manis kata-kata yang seperti gula untuk hatiku, tapi tidak merusak tubuhku. Aku berkata: “Kesehatan ini adalah hadiah yang ingin kujaga.” Aku berkata: “Aku boleh lelah, tetapi aku tidak menyerah.” Aku berkata: “Aku layak merasa lebih baik.” Perlahan-lahan, kata-kata itu menjadi seperti tetesan madu di pikiran yang sering kusibukkan dengan kekhawatiran.

Lama-kelamaan aku mengerti: tubuhku tidak hanya butuh nutrisi, tetapi juga butuh kata-kata yang baik. Pikiran yang dipenuhi pesan negatif sulit berkembang, tetapi pikiran yang diberi “manis” berupa harapan dan kebaikan justru menemukan energi baru. Afirmasi ini menjadi gula batin, pemanis yang tidak menipu, motivasi yang menyalakan semangat tanpa merusak keseimbangan.

Setiap hari aku mencoba menambah satu kebiasaan kecil untuk tubuhku minum lebih banyak air, berjalan sedikit lebih jauh, memilih makanan yang membuatku merasa ringan dan bertenaga. Tetapi aku juga sadar bahwa perubahan fisik tidak akan bertahan jika batinku tidak ikut diperhatikan. Karena itu aku belajar untuk berbicara lembut pada diriku. Aku memberi diriku ruang untuk gagal, ruang untuk mencoba, ruang untuk berproses tanpa harus sempurna dalam semalam.

Saat aku ingin menyerah, aku mengingatkan diriku bahwa tubuh ini telah bekerja begitu keras selama bertahun-tahun tanpa aku sadari. Ia menanggung stresku, menampung emosiku, mengatur ritme hidupku. Tubuhku tidak pernah meninggalkanku, bahkan ketika aku tidak merawatnya dengan baik. Maka kini aku memilih untuk membalas ketulusan itu dengan perhatian.

Kadang aku tertawa sendiri ketika menyadari betapa sederhana motivasi itu: hanya karena otak lebih cepat mengenali kata manis, aku bisa menjadikannya alat untuk membangun kembali kekuatanku. Tapi justru di situlah keindahannya bahwa hal kecil seperti kata manis bisa menjadi jembatan menuju kesadaran diri. Bahwa “gula” tidak harus hadir dalam makanan; ia bisa hadir dalam bentuk cinta diri, penghargaan diri, dan semangat yang manis ketika bangun di pagi hari.

Pada akhirnya aku belajar sesuatu: menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari sesuatu, tetapi tentang memberi sesuatu. Memberi waktu, memberi energi, memberi perhatian, dan memberi kata-kata yang manis untuk jiwa yang terkadang rapuh. Ketika aku berkata pada diriku “Aku ingin hidup sehat, bukan karena aku harus, tetapi karena aku berharga,” di situlah motivasi personal itu terasa paling tulus. Dan perlahan, tubuhku merespons bukan dengan perubahan besar, tetapi dengan rasa ringan yang mengalir perlahan.

Seperti gula yang larut dalam air, afirmasi itu meresap ke dalam hidupku. Tidak terlihat, tetapi terasa. Tidak instan, tetapi nyata. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk mengubah arah.@arkam

No comments:

Post a Comment

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...