arkam
Ada saat tertentu dalam hidup ketika aku merasakan pikiranku bergerak terlalu cepat, seperti gelombang yang saling menabrak tanpa arah. Di tengah kesibukan, tuntutan, dan suara-suara yang datang dari luar maupun dari dalam diriku sendiri, ada satu warna yang selalu berhasil kupegang sebagai jangkar: biru. Kata itu sederhana, tetapi setiap kali aku mendengarnya, sesuatu dalam dadaku melembut. Seolah ada udara segar yang masuk perlahan, memberi ruang di antara detak jantungku yang sering terasa terburu-buru.
Biru. Kata itu membawa bayangan langit yang luas, laut yang tak berujung, dan kedalaman yang tidak menakutkan, justru mengundangku untuk kembali ke pusat diriku. Aku menyadari, jika mendengar satu kata seperti biru saja bisa membuat mood-ku menjadi lebih tenang, maka mungkin aku bisa membangun konsep kesehatan dan motivasi dalam hidupku berlandaskan ketenangan itu. Tidak lagi berlari dalam kecemasan, tetapi bergerak dengan kesadaran yang lembut.
Setiap pagi, aku mulai membayangkan warna biru memenuhi ruang di sekelilingku bukan biru gelap yang murung, tetapi biru lembut yang mendamaikan. Aku membayangkan biru setipis kabut pagi yang menyelimuti pikiranku, meredakan suara-suara negatif yang sering membebaniku. Dalam ketenangan itu, aku berkata kepada diriku sendiri: “Hari ini, aku memilih untuk menjaga tubuhku dengan lembut. Aku memilih tenang sebagai kekuatanku.”
Warna biru mengajarkanku bahwa kesehatan tidak perlu selalu dipicu ketakutan—takut sakit, takut gagal, takut tidak berubah. Ia mengajarkan bahwa perubahan bisa datang dari kedamaian. Bahwa ketika hati tenang, tubuh lebih mudah mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan: istirahat, nutrisi, gerak yang lembut, dan ucapan baik yang menenangkan jiwa. Sama seperti lautan biru yang tampak tenang di permukaan, tapi tetap kuat dalam kedalamannya, aku belajar bahwa ketenangan bukan kelemahan. Justru di situlah tempat kekuatanku tumbuh.
Ketika aku merasa lelah, aku berhenti sejenak dan memanggil kata itu dalam batinku: biru. Aku menghirup napas dalam, membayangkan udara dingin laut memasuki paru-paruku. Dan perlahan, pikiranku kembali selaras. Aku berkata pada diriku: “Aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya perlu menjaga diriku hari ini.” Kata-kata motivasi itu sederhana, tetapi dibalut ketenangan yang sama lembutnya dengan warna langit sore.
Aku belajar memberi ruang pada tubuhku. Ketika tubuh minta istirahat, aku tidak lagi melawannya. Ketika ia meminta makanan yang lebih sehat, aku mendengarkan. Ketika ia meminta gerak untuk melepaskan stres, aku menuruti. Karena kini aku melihat tubuhku bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dariku yang sedang mencari kedamaian yang sama seperti pikiranku. Perjalananku menjaga kesehatan menjadi perjalanan yang penuh rasa syukur, bukan kewajiban yang penuh tekanan.
Dan setiap kali aku merasa kehilangan arah, warna biru hadir lagi kadang berupa bayangan laut, kadang berupa langit yang sunyi, kadang hanya berupa kata dalam benakku. Tetapi setiap kali warna itu kembali, ia selalu membawa pesan yang sama: “Tenang. Kau bisa mengulang lagi.” Di situ aku merasa dikuatkan. Aku merasa diingatkan bahwa motivasi tidak harus berteriak. Terkadang motivasi datang sehalus bisikan ombak yang perlahan menyentuh pasir.
Kini, setiap malam sebelum tidur, aku membayangkan biru memenuhi ruang hatiku. Aku berkata, “Terima kasih tubuhku, karena bertahan untukku. Terima kasih diriku, karena mau berubah perlahan-lahan. Besok, kita coba lagi dengan hati yang lebih ringan.” Dan di antara helaan nafas terakhir sebelum tidur, aku merasakan ketenangan itu mengalir seperti air yang menyejukkan.
Dalam hidup ini, aku mungkin tidak bisa mengendalikan segalanya. Tetapi aku bisa memilih caraku merespons. Aku bisa memilih warna lembut yang memenuhi pikiranku. Aku bisa memilih kata-kata yang menenangkan jiwaku. Dan hari ini, seperti kemarin, aku memilih biru warna sederhana yang mengajarkanku bahwa kesehatan, kekuatan, dan motivasi bisa hadir dari ketenangan yang tulus.@arkam
No comments:
Post a Comment