Arkam
Ada masa ketika aku berjalan terlalu jauh dari diriku sendiri tanpa kusadari. Aku menjalani hari-hari seperti mesin, bergerak karena kebiasaan, bernapas karena kebutuhan, bukan karena kesadaran. Hingga suatu waktu aku mendapati tubuhku terasa berat, pikiranku dipenuhi suara-suara yang tidak ramah, dan hatiku seperti menghilang di dalam keramaian yang kubuat sendiri. Dari kejauhan batinku memanggilku bukan dengan teriakan, tetapi dengan satu kata sederhana yang selalu berhasil menembus lapisan kecemasan: tenang.
Aneh bagaimana satu kata bisa memiliki efek begitu besar. Begitu aku mendengarnya, atau mengucapkannya perlahan dalam pikiran, tubuhku langsung merespons bahuku mengendur, nafasku memanjang, detak jantungku melambat. Seolah tubuhku sudah lama menunggu izin untuk merilekskan diri, dan kata tenang adalah kunci kecil yang membuka pintu besar menuju kedamaian. Tubuh tidak perlu diperintah; ia mengerti dengan sendirinya. Seakan kata itu bukan sekadar suara, tetapi sebuah sinyal bagi jiwa dan raga untuk kembali ke keadaan asli mereka: keadaan tenang, damai, dan sadar.
Sejak saat itu aku mulai memahami bahwa kesadaran diri bukan datang dari usaha besar atau pencarian rumit. Terkadang ia muncul saat aku kembali pada sesuatu yang sederhana. Kata tenang misalnya kata yang mengajakku kembali pada inti diriku, pada ruang dalam diri yang sering hilang tertutup pikiran yang berlarian. Dengan kata itu, aku seperti dituntun pulang ke dalam tubuhku sendiri. Di situlah aku mulai belajar mendengarkan diriku, bukan sekadar menjalani hidup.
Setiap kali kata tenang hadir, aku merasa ada jarak yang tercipta antara pikiranku dan emosiku. Jarak yang sehat. Jarak yang memberi ruang bagi pengamatan, bukan reaksi spontan. Dalam jarak itu, aku mulai bertanya: “Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa tubuhku menegang? Apa yang sedang ingin aku sampaikan pada diriku sendiri?” Perlahan, aku menyadari bahwa mengenali diri sendiri bukanlah tentang mencari jawaban besar, tetapi tentang memberi ruang untuk mendengar suara kecil di dalam diri.
Kesadaran diri juga mengajarkanku bahwa tubuh selalu jujur. Ketika pikiran memaksakan diri, tubuh menegangkan ototnya. Ketika hati memikul beban terlalu berat, napas menjadi dangkal. Namun ketika mendengar kata tenang, tubuh langsung melembut, seakan berkata, “Akhirnya… kau mengingatku.” Dari situ aku menemukan bahwa tubuh dan pikiran tidak terpisah; keduanya saling mempengaruhi, saling meminta perhatian.
Aku mulai membawa kata tenang ke dalam keseharianku, bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai pengingat. Saat bangun pagi, aku duduk sebentar dan berkata dalam hati: “Tenang… aku akan menjalani hari ini dengan penuh kesadaran.” Kata itu membuatku lebih hadir dalam tubuhku. Aku menyadari bagaimana kakiku menginjak lantai, bagaimana udara pagi memasuki paru-paruku, bagaimana hatiku terasa sedikit lebih ringan daripada semalam.
Dalam ketenangan itu, aku juga menemukan motivasi personal yang berbeda dari sebelumnya. Motivasi yang tidak datang dari rasa takut atau tekanan, tetapi dari rasa ingin mengenali diri dengan lebih dalam. Aku berkata pada diriku: “Aku ingin menjadi lebih baik, bukan karena harus, tetapi karena aku ingin merasakan versi terbaik dari diriku sendiri.”Kata tenang menjadi fondasi dari motivasi itu karena dalam keadaan tenang, aku merasa lebih jujur, lebih berani, dan lebih mampu melihat hidup dengan perspektif yang lebih luas.
Ketika hidup terasa berat, aku kembali pada kata itu. Aku menarik napas, lalu berkata: “Tenang… perlahan saja. Kamu tidak sendirian.” Dan tubuhku kembali mengendur, siap menemani langkah berikutnya. Aku belajar bahwa tubuh yang rileks adalah tubuh yang lebih mudah diyakinkan, lebih mudah diarahkan ke arah yang sehat, lebih mudah menerima perubahan. Dalam ketenangan, niat baik menjadi lebih mudah dijalankan.
Malam hari, sebelum tidur, aku menutup mata dan mendengarkan detak jantungku yang mulai stabil. Aku berkata dalam hati: “Terima kasih, tubuhku… terima kasih sudah mengerti meski aku sering lupa.” Kata tenang kembali mengalir seperti aliran air hangat yang membersihkan pikiran terakhirku sebelum aku memasuki dunia mimpi. Dan di sana, dalam keheningan, aku merasa benar-benar mengenal diriku tidak sebagai seseorang yang harus kuat sepanjang waktu, tetapi sebagai seseorang yang sedang belajar, sedang bertumbuh, sedang pulang.
Kini aku sadar bahwa kesadaran diri dimulai dari hal sederhana: memberi tubuh ruang untuk mendengarkan kata lembut, dan memberi jiwa ruang untuk merasa aman. Dan bagi diriku, kata itu adalah tenang. Kata yang membuat tubuh rileks meski tidak disuruh. Kata yang membuat jiwaku membuka diri tanpa dipaksa. Kata yang mengingatkanku bahwa perjalanan menjadi versi terbaik dari diriku tidak harus terburu-buru. Ia bisa dimulai dengan satu nafas, satu kata, satu momen kesadaran.@arkam
Ada masa ketika aku berjalan terlalu jauh dari diriku sendiri tanpa kusadari. Aku menjalani hari-hari seperti mesin, bergerak karena kebiasaan, bernapas karena kebutuhan, bukan karena kesadaran. Hingga suatu waktu aku mendapati tubuhku terasa berat, pikiranku dipenuhi suara-suara yang tidak ramah, dan hatiku seperti menghilang di dalam keramaian yang kubuat sendiri. Dari kejauhan batinku memanggilku bukan dengan teriakan, tetapi dengan satu kata sederhana yang selalu berhasil menembus lapisan kecemasan: tenang.
Aneh bagaimana satu kata bisa memiliki efek begitu besar. Begitu aku mendengarnya, atau mengucapkannya perlahan dalam pikiran, tubuhku langsung merespons bahuku mengendur, nafasku memanjang, detak jantungku melambat. Seolah tubuhku sudah lama menunggu izin untuk merilekskan diri, dan kata tenang adalah kunci kecil yang membuka pintu besar menuju kedamaian. Tubuh tidak perlu diperintah; ia mengerti dengan sendirinya. Seakan kata itu bukan sekadar suara, tetapi sebuah sinyal bagi jiwa dan raga untuk kembali ke keadaan asli mereka: keadaan tenang, damai, dan sadar.
Sejak saat itu aku mulai memahami bahwa kesadaran diri bukan datang dari usaha besar atau pencarian rumit. Terkadang ia muncul saat aku kembali pada sesuatu yang sederhana. Kata tenang misalnya kata yang mengajakku kembali pada inti diriku, pada ruang dalam diri yang sering hilang tertutup pikiran yang berlarian. Dengan kata itu, aku seperti dituntun pulang ke dalam tubuhku sendiri. Di situlah aku mulai belajar mendengarkan diriku, bukan sekadar menjalani hidup.
Setiap kali kata tenang hadir, aku merasa ada jarak yang tercipta antara pikiranku dan emosiku. Jarak yang sehat. Jarak yang memberi ruang bagi pengamatan, bukan reaksi spontan. Dalam jarak itu, aku mulai bertanya: “Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa tubuhku menegang? Apa yang sedang ingin aku sampaikan pada diriku sendiri?” Perlahan, aku menyadari bahwa mengenali diri sendiri bukanlah tentang mencari jawaban besar, tetapi tentang memberi ruang untuk mendengar suara kecil di dalam diri.
Kesadaran diri juga mengajarkanku bahwa tubuh selalu jujur. Ketika pikiran memaksakan diri, tubuh menegangkan ototnya. Ketika hati memikul beban terlalu berat, napas menjadi dangkal. Namun ketika mendengar kata tenang, tubuh langsung melembut, seakan berkata, “Akhirnya… kau mengingatku.” Dari situ aku menemukan bahwa tubuh dan pikiran tidak terpisah; keduanya saling mempengaruhi, saling meminta perhatian.
Aku mulai membawa kata tenang ke dalam keseharianku, bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai pengingat. Saat bangun pagi, aku duduk sebentar dan berkata dalam hati: “Tenang… aku akan menjalani hari ini dengan penuh kesadaran.” Kata itu membuatku lebih hadir dalam tubuhku. Aku menyadari bagaimana kakiku menginjak lantai, bagaimana udara pagi memasuki paru-paruku, bagaimana hatiku terasa sedikit lebih ringan daripada semalam.
Dalam ketenangan itu, aku juga menemukan motivasi personal yang berbeda dari sebelumnya. Motivasi yang tidak datang dari rasa takut atau tekanan, tetapi dari rasa ingin mengenali diri dengan lebih dalam. Aku berkata pada diriku: “Aku ingin menjadi lebih baik, bukan karena harus, tetapi karena aku ingin merasakan versi terbaik dari diriku sendiri.”Kata tenang menjadi fondasi dari motivasi itu karena dalam keadaan tenang, aku merasa lebih jujur, lebih berani, dan lebih mampu melihat hidup dengan perspektif yang lebih luas.
Ketika hidup terasa berat, aku kembali pada kata itu. Aku menarik napas, lalu berkata: “Tenang… perlahan saja. Kamu tidak sendirian.” Dan tubuhku kembali mengendur, siap menemani langkah berikutnya. Aku belajar bahwa tubuh yang rileks adalah tubuh yang lebih mudah diyakinkan, lebih mudah diarahkan ke arah yang sehat, lebih mudah menerima perubahan. Dalam ketenangan, niat baik menjadi lebih mudah dijalankan.
Malam hari, sebelum tidur, aku menutup mata dan mendengarkan detak jantungku yang mulai stabil. Aku berkata dalam hati: “Terima kasih, tubuhku… terima kasih sudah mengerti meski aku sering lupa.” Kata tenang kembali mengalir seperti aliran air hangat yang membersihkan pikiran terakhirku sebelum aku memasuki dunia mimpi. Dan di sana, dalam keheningan, aku merasa benar-benar mengenal diriku tidak sebagai seseorang yang harus kuat sepanjang waktu, tetapi sebagai seseorang yang sedang belajar, sedang bertumbuh, sedang pulang.
Kini aku sadar bahwa kesadaran diri dimulai dari hal sederhana: memberi tubuh ruang untuk mendengarkan kata lembut, dan memberi jiwa ruang untuk merasa aman. Dan bagi diriku, kata itu adalah tenang. Kata yang membuat tubuh rileks meski tidak disuruh. Kata yang membuat jiwaku membuka diri tanpa dipaksa. Kata yang mengingatkanku bahwa perjalanan menjadi versi terbaik dari diriku tidak harus terburu-buru. Ia bisa dimulai dengan satu nafas, satu kata, satu momen kesadaran.@arkam
No comments:
Post a Comment