arkam
Jujur adalah sikap paling revolusioner di Papua hari ini. Di tengah arus dana Otonomi Khusus yang begitu besar, kejujuran bukan lagi sekadar nilai moral, tetapi fondasi politik dan sosial yang menentukan masa depan generasi Papua. Sebab setiap rupiah yang hilang karena korupsi berarti satu ruang kelas yang tidak terbangun, satu puskesmas yang tidak dilengkapi, dan satu anak Papua yang kehilangan kesempatan untuk maju.
Namun kejujuran tidak berdiri sendiri. Ia berhadapan dengan sistem yang sudah lama dibentuk oleh patronase, feodalisme, dan kepentingan elit lokal maupun luar. Manipulasi laporan, proyek fiktif, hingga pengaturan anggaran seringkali dibungkus dengan bahasa “demi pembangunan.” Pada titik inilah kejujuran menjadi langkah perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling berbahaya karena ia mengguncang dasar kenyamanan mereka yang menikmati manfaat dari ketidakberesan.
Maka, pada pertanyaan inti: siapa yang paling dirugikan? Jawabannya selalu sama: masyarakat Papua. Ketika dana Otsus diselewengkan, masyarakat kehilangan pelayanan dasar, pemuda kehilangan masa depan, dan kampung-kampung tetap tertinggal meski laporan pembangunan tampak indah di atas kertas. Jujur berarti menolak menjadi bagian dari lingkaran itu walaupun tekanan, ancaman, dan tawaran menggiurkan datang bertubi-tubi.
Karena itu, kejujuran harus berubah menjadi gerakan. Gerakan yang dimulai dari orang-orang biasa: guru yang berani menolak laporan palsu, bendahara kampung yang menolak mark up, pejabat daerah yang tidak menerima gratifikasi, akademisi yang tidak mau manipulasi data demi proyek. Dari tindakan-tindakan kecil inilah lahir keberanian besar keberanian untuk menolak korupsi bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan integritas.
Dan pada akhirnya, kesadaran kolektif harus ditegakkan: Jujur bukan hanya menjaga kehormatan pribadi, tetapi menjaga harga diri sebuah bangsa. Papua hanya akan maju jika dana Otsus benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Ketika setiap rupiah digunakan tepat sasaran, ketika laporan bukan hasil rekayasa, ketika pejabat dan masyarakat sama-sama menjaga integritas barulah Otsus menjadi alat perubahan, bukan sumber masalah.
Karena pada akhirnya, menolak korupsi dan manipulasi dana Otsus bukan sekadar sikap etis.Itu adalah bentuk cinta pada tanah Papua. Bentuk komitmen pada rakyat. Dan bentuk pernyataan bahwa masa depan Papua tidak boleh dijual, diselewengkan, atau diperdagangkan bahkan dengan harga berapapun.@arkam
No comments:
Post a Comment