Monday, December 1, 2025

Merauke Undercover


arkam

Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang menutup sebuah dunia lain yang berdenyut di bawahnya. Dunia yang tidak difoto turis, tidak ditulis di brosur, dan tidak terlihat di balik senyum sopan masyarakatnya.

Di tanah Marind, Sungai Maro bukan sekadar aliran air. Ia adalah pembuluh nadi, tempat roh dan takdir berjalan berdampingan. Tapi bahkan sungai yang suci itu kini seakan menyimpan arus gelap yang tidak lagi jinak. Ada bisikan samar setiap kali angin menyentuh permukaannya seakan sungai sedang menyimpan rahasia berat tentang kota ini, rahasia yang tidak pernah mau diucapkan manusia.

Saat malam turun, Merauke berubah. Bukan lagi kota tenang di batas timur. Melainkan arena yang dihuni bayang-bayang.

Jalanan yang di siang hari tampak damai, di malam hari menjadi lorong yang menelan langkah kaki. Setiap tikungan mengandung kemungkinan: suara pecahan botol, teriakan, atau tubuh yang jatuh tersungkur. Orang-orang berjalan cepat, menunduk, menghindari tatapan. Mereka tahu terlalu baik bahwa malam di Merauke bukan hanya gelap tapi juga lapar.

Dan di balik semua kegaduhan itu, ada satu biang keladi yang menggila: miras.
Cairan bening yang tak mengenal belas kasihan.
Ia merayap masuk ke pesta kecil, ke sudut-sudut warung, ke tangan para pemuda yang kehilangan arah. Masuk pelan, menghancurkan cepat.

Dalam mabuknya, banyak orang kehilangan dirinya sendiri, seolah tubuh mereka diambil alih oleh sesuatu yang lebih gelap, lebih liar. Malam Merauke mencatat terlalu banyak kisah yang seharusnya tidak pernah terjadi. Pisau yang dihunus tanpa pikiran. Pukulan yang menghapus persahabatan. Langkah kaki tergesa yang berakhir di tanah basah oleh darah.

Aparat bergerak. Menyisir lorong-lorong. Menangkap pedagang gelap yang muncul seperti bayangan tanpa ujung. Botol-botol dihancurkan, tetapi suara retakannya seperti musik yang tidak pernah berhenti karena selalu ada botol baru yang muncul keesokan hari.
Penindakan dilakukan, serpihan-serpihan harapan diangkat, tetapi Merauke sedang bertarung melawan monster yang tidak punya tubuh.

Ia tidak bisa dipenjara.
Ia tidak bisa ditembak.
Ia hidup dari luka, kemiskinan, frustrasi, dan keputusasaan.

Merauke Undercover adalah kota yang setiap malam seperti menarik napas panjang nafas yang berat, penuh beban. Kota yang mencoba berdiri sambil dipukul dari dalam. Kota yang tidak pernah benar-benar tidur, justru semakin terjaga ketika gelap datang, seakan gelap memang habitatnya.

Tetapi di tengah semua kehancuran itu, ada suara kecil yang tidak mau padam.
Suara manusia-manusia Marind yang masih menjaga nilai lama mereka, yang masih memegang erat identitasnya, yang masih percaya bahwa tanah dan sungai ini punya kekuatan lebih besar dari semua kegelapan yang datang.

Dan mungkin, hanya mungkin… Merauke masih bisa diselamatkan.

Selama masih ada yang berani melihat kebenaran tanpa menutup mata.
Selama masih ada yang berani menyebut nama kegelapan itu dengan jujur.
Selama cerita gelap ini tetap diceritakan.Inilah Merauke yang tak terlihat. Yang hidup dalam bayang-bayang. Yang hitam, yang muram, yang keras. Yang membuatmu berpikir dua kali sebelum menyebut kota ini hanya sebagai “kota rusa, ujung timur indonesia”.

No comments:

Post a Comment

MENCARI MAYBRAT

Merauke Undercover

arkam Merauke selalu tampil manis di mata orang luar. Kota rusa, kota datar, kota paling timur negeri. Tapi itu hanya kulit luar topeng yang...