arkam
Orang PAPUA belum menemukan manusia yang tepat di zaman ini, manusia yang dilahirkan kembali, manusia yang perkataan dan perbuatan sama. Era hari ini, ya hari ini, yang dilihat pada seorang pemimpin adalah etika bukan berapa banyak materi yang dimiliki.
Maka, kamu harus mengerti bahwa manusia dengan kesadaran tinggi yang dapat saling membantu dan mendukung pencapaian organisasi. Namun, kesombongan telah menutupi pohon pengetahuan membuat kamu hidup diera saling berbual dan terbual yang terus dipelihara sebagai sumber pendapatan dan mengorbankan manusia yang lain.
Dalam kaitan itu, muncul istilah membunuh atau dibunuh yang mulai dikembangkan dalam bentuk lain, seperti manusia elit lokal baru yang mengambil peran strategi sebagai perantara legitimasi pusat dengan daerah melalui elit lokal Papua mengokestrasi semua kepentingan membentuk kebohongan sebagai gaya memimpin.
Untuk itu, kilas balik perjalanan integrasi penting digunakan sebagai titik masuk dalam melihat pola pendekatan membangun Papua masih merupakan warisan peninggalan kolonial yang hannya mereplikasi sesuai kemauan manusia Papua sebagai wisata masa lalu.
Penjelasan ini sebagai pemicu untuk melihat kemiskinan dan kebodohan di Papua bukan sekedar akibat kurangnya pembangunan, tetapi buah dari strategi salah yang sudah berlangsung lama dari era Belanda, masuknya peradaban, hingga birokrasi modern.
Maka, penulis menyuarakan lagu kami ingin bebas dalam rangkaian tulisan yang diangkat untuk mengurat sejarah hidup manusia Papua untuk memberi protes apa yang sudah dilakukan dan akan dilakukan penguasa tingkat daerah dengan elit baru Papua dengan untuk tujuan : (1). Menjaga Papua tetap bergantung; (2). mengendalikan sumber daya tanpa perlawanan; (3). Memastikan sumber daya nasional dan luar tetap dominan atas pengetahuan, ekonomi dan budaya.@arkam
No comments:
Post a Comment